Monday, September 15, 2008

5 Bekal Istri Aktivis Dakwah


dakwatuna.com
- Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah? [ ]


dari: www.dakwatuna.com

38 comments:

  1. hmm..kyknya artikelnya dari kemaren2 soal pernikahan mulu ... :-?

    jangan terlalu lama berteori segera dipraktekan saja..wkekekke

    ReplyDelete
  2. ditantangin sama mba atin tuh mas... hehehehhe



    piss yoo

    ReplyDelete
  3. Masih banyak tulisan dengan tema sejenis yg akan diposting.
    Bukan masalah berteori tapi gak praktek...tapi mau bagi2 wawasan bagi yg membutuhkan. Biar lebih siap.

    ReplyDelete
  4. hihihi.... praktek aja sekalian, kak...

    ReplyDelete
  5. ho iyo... nagih janji! :D tulisannya mana? :D

    ReplyDelete
  6. Yup, pasti ada saatnya yang paling tepat. Ngikut kehendak Allah. Sekarang masih masa i'dad.

    ReplyDelete
  7. nah tuh, lupa! tlsn mengapa ikhwan jarang yang menikah muda.

    ReplyDelete
  8. wah...bukannya menantang..tapi memberi dukungan and dorongan supaya segera direalisasikan ^_^

    ReplyDelete
  9. bagi2 wawasan buat diri sendiri juga kan ;;)

    Siip dah, seorang aktifis memang kudu mengutamakan umat dibanding kepentingannya sendiri .

    ReplyDelete
  10. hmm..saya ikhwan lo dan lom nikah, ane saja jadi bahan tulisan hehe..

    ReplyDelete
  11. makanya buruan dunks nikahin gw ( baca : akhwat )
    mo nunggu apa lagi?klo udah siap materi lahir dan batin sok atuhh...^_^ v

    ReplyDelete
  12. wah...wah....udah mau nikah ya? :-)

    ReplyDelete
  13. Weleeh... posting tema-tema gini kan gak mesti dah pengen.
    ya to??
    Oiya, BTW blm sungkem ma Mr. Wid, sungeng riyadi nggih Pak, sedaya lepat nyuwun pangapunten... ^___^

    ReplyDelete
  14. hem hem. ikhwah2 ku pada rame posting begini ya.

    mudah2an dalam waktu dekat ada lagi berita gembira nyusul pimpro dari kalian semua ya ^^

    ReplyDelete
  15. Jadi inget ketika menerima proposal pertama dengan 10 persyaratan yang include banget dengan 5 bekalan di atas ^__^ sampe bela-belain nanya ketika ta'aruf, "afwan, akhi..antum cari istri atau karyawan?'

    ReplyDelete
  16. So... jadinya gimana Cal? Belum dapet proposal lagi? ^___^

    ReplyDelete
  17. setelah akhwatnya dinikahi jangan lupa untuk menjaga yang lima diatas....

    ReplyDelete
  18. Oooo...iyyaa... tentu saja dong.
    Harus itu mah! ^__^

    ReplyDelete
  19. udah jadi suami...jadi ga dapet proposal lagi deh :p

    ReplyDelete
  20. Yha.. dari yang lain dong. Anti kan dah siap kan?

    ReplyDelete
  21. wah napa kemeren nggak dikirimkan utk Istrinya akh andy..

    ReplyDelete
  22. Whoo.. iya ya..? Lupa klo ada artikel ini... ^___^

    ReplyDelete
  23. jadi ingin berkaca nih setelah membaca artikelna sampeyan Pak :(

    ReplyDelete
  24. jadi ingin berkaca nih Pak setelah saya membaca artikelna sampeyan ^__^

    ReplyDelete
  25. Ehm juga....
    Kyknya dah pernah ketemu deh...
    Anti MIPA UGM 2004 kan? ^__^

    ReplyDelete
  26. TFS

    aku copy ya, tapi gak aku posting kembali kok :)

    ReplyDelete