Monday, October 1, 2007

Ayo I'tikaf!!




Oleh : Cahya Herwening


I'tikaf sebagai salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW merupakan sebuah sarana bagi kita untuk secara lebih total ber-taqarrub ilallah. Terlebih ketika di sepuluh hari terakhir, di mana Allah memberika kesempatan kepada manusia untuk dijauhkan dari jilatan api neraka dan juga beroleh sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yakni malam Lailatul Qadar. Akan sangat disayangkan sekiranya kesempatan yang sangat baik ini disia-siakan tanpa adanya usaha untuk meningkatkan amal pada sepuluh hari terakhir ini.

Begitu pula bagiku. Aku yang telah mencanangkan bahwa RAMADHAN KALI INI HARUS JAAUUUUH LEBIH BAIK DARI RAMADHAN KEMARIN tidak bisa tidak harus mengoptimalkannya. Aku ingin mengkhatamkan tilawah Al Qur'an paling tidak sekali khusus selama sepuluh hari terakhir itu. Aku ingin beri'tikaf ... sesuatu yang belum pernah kulakukan hingga saat ini secara serius. Aku ingin memberesi target tahfidz Qur'anku yang bermasalah selama Ramadhan ini. Dan sebagainya... dan sebagainya....

Duuuh... begitu banyak target yang masih jauh dari ketercapaiannya... bisakah aku mengejar? Aku tahu bahwa jawabannya adalah : PASTI BISA. Asal memenuhi persyaratannya, yakni bener-bener bertekad dan berkomitmen, ikhlas, lalu mengurangi aktivitas-aktivitas lain yang bersifat da'awi maupun duniawi .... termasuk juga nge-net tentu saja. Jadi... selama i'tikaf di sepuluh hari terakhir ini ... saya ingin mengucapkan SELAMAT TINGGAL untuk sementara waktu kepada segenap MP-ers. Kita akan jumpa lagi di bulan Syawal nanti ... insya Allah.

Yuk, jadi kupu-kupu Ramadhan! RAMADHAN KALI INI HARUS JAAUUUUH LEBIH BAIK DARI RAMADHAN KEMARIN!! Allaahu akbar!!!

Monday, September 24, 2007

Tua-tua Keladi


Oleh : Cahya Herwening


Ini dia, cerpen yang saya kirimkan ke ajang lomba cerpen Escaeva. Benar-benar dibuat dengan asal. Bahasanya terlalu lurus, tidak banyak bunga bahasanya. Ok, selamat membaca aja... jangan lupa komentar dan masukannya....

=======================================

Eh, pekan ini ada isu apa nih, yang seru? Pastinya temen-temen udah punya data-data dong selama beberapa hari ini survei di kampus kita ...” Dewi membuka obrolan dengan teman-temannya hari itu. Seperti sudah ada kesepakatan, minimal sepekan sekali kelompok Dewi ini bertemu dan berkumpul di kantin kampus. Ada saja agenda pembicaraan mereka, mulai dari masalah kuliah, tugas, praktikum, sampai perilaku dosen dan mahasiswa, bahkan tak jarang juga isu-isu nasional mereka angkat. Mulai dari masalah importasi beras, kenaikan tunjangan dan gaji dewan sampai masalah TKI mereka bahas tuntas ...tas ...tas.
Pertemuan yang hampir terjadi tiap Jum’at sore itu merupakan obrolan dari bahan-bahan yang mereka temukan, atau lebih tepatnya mereka cari, pada hari-hari sebelumnya. Tak jarang isu-isu panas seputar politik kampus ataupun seputar perilaku mahasiswa berhasil mereka dapatkan datanya. Mereka mengetahui jauh lebih baik dari mahasiswa biasa pada umumnya, sehingga obrolan mereka pun bukan semata obrolan kosong, namun memang berdasarkan fakta dan data. Meski pembicaraan selama ini lebih mirip ngerumpi daripada diskusi, namun paling tidak menjadi pionir yang bagus di fakultas mereka, FKG, yang kultur kepedulian lingkungannya relatif lemah. Kebanyakan mahasiswanya apatis dan selfish.
”Ini nih, fakultas kita sekarang udah punya mayat hidup ... eh, salah .... mayat mati. Eh, iya ... mayat mati ... eh ...”. Mona menyahut memberikan masukan isu dengan gaya khasnya, bingung sendiri pada apa yang diomongkannya. Doski sering latah tuh.
”Ya iya dong, mayat itu ya mati. Kalau hidup, kita semua bakal pada lari semua. Kamu itu gimana sih? Tapi, apa benar kita punya mayat? Buat apa?” potong Dina, seorang gadis yang tembem, ngegemesin buat nyubit pipinya.
“Itu lho..... buat kuliah dan praktikum anatomi. Jadi mayat itu nanti ya bakal kita bedah-bedah. Hii....jadi takut deh ngebayangin kita mbedah mayat beneran, jangan-jangan nanti tiba-tiba bangun lalu ngomong ... ‘hei.... kalian apakan tubuhku?’ .... hii.. syerem deh....” timpal Rika sambil bergidik membayangkan kejadian seperti yang dikatakannya.
“Alaah... kamu itu ngebayangin yang nggak-nggak. Yang realistis aja toh. Iya, aku juga denger kayak gitu sih. Tapi di fakultas kita kan belum ada peralatan untuk merawat mayat kan? Apa nggak repot nanti ngurusinnya ya? Kalau busuk kan nanti menebar aroma ke mana-mana lagi... huekk!” Dewi menanggapi topik itu.
”Setahu saya, untuk merawat mayatnya kita minta bantuan Fakultas Kedokteran Umum. Jadi, mayatnya juga disimpan di sana. Di bawa ke KG cuma kalau diperlukan saja. Begitu.” Fatma, satu-satunya yang berjilbab ikut meramaikan forum itu setelah tadi hanya asyik mendengarkan.
Begitulah. Obrolan tentang mayat masih berlangsung seru, hingga sampai juga pada sudut pandang agama. Di sini peran Fatma menjadi dominan, karena memang satu-satunya yang pengetahuan Islam-nya paling maju daripada yang lain. Tidak sia-sia dia bergabung dengan aktivitas SKI (Sie Kerohanian Islam) di KG. Fatma menjelaskan kepada teman-temannya tentang hukum menunda penguburan mayat, dari hukum fikih yang masing-masing ulama biasanya berbeda pendapat atasnya.
”Jadi, mungkin sampai saat ini baru bisa kita simpulkan seperti ini, bahwa jika memang sangat diperlukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan juga penyebaran ilmu itu, mungkin dibolehkan. Asalkan memang niatnya lurus dan nantinya dari yang dilakukan itu dapat membawa pada kemashalahatan umat manusia. Namun, tentang ini tentunya masih harus dikaji lagi. Terutama dalam mencari solusi bagaimana agar nantinya peran mayat sungguhan ini bisa digantikan dengan yang lain, agar tidak terkesan mempermainkan si mayit untuk dijadikan alat percobaan.” Fatma menutup uraian panjang lebarnya. Seperti biasa, keempat temannya hanya bisa manggut-manggut hampir melongo.
”Ooo... gitu ya Fat. Ah, seperti biasanya, kamu yang ngasih finishing touch pada topik obrolan kita,” kata Dina sambil masih manggut-manggut.
”Iya sih... Kita juga perlu lihat sesuatu dari sudut pandang agama juga. Biar kayak tukang ngerumpi, tapi rumpian kita nih bermutu. Ada datanya, ada faktanya.... ya nggak, ya nggak?” timpal Dewi, yang didaulat jadi bosnya gerombolan itu.
”Tul ... tul ... berkat si Fat, si anak SKI yang mau gabung di forum kita nih...” Mona gak mau kalah.
”Hmmm... iya ya. Kita jadi sering belajar lebih banyak tentang agama tanpa terasa ya. Gak sia-sia deh, si Fat jadi bendum SKI,” kata Rika sambil tersenyum. Manis sekali.
“Iya tuh, sejak jadi bendaharanya Ricky, si ketua SKI yang cool itu tuh, dia jadi tambah pinter deh...” Dina ikutan komentar, lalu melempar pandangan menggoda, “Eiya, gimana kabarnya si Ricky, Fat? Udah jalan berapa kali sama doski?”
Muka Fatma memerah tersipu-sipu, malu tapi mau, he... he... he..., nggak ding. Nanti si Fat marah lagi. Meski dia tuh muslimah jilbaber, dia bisa cepat panas kalau mendengar hal-hal yang sensi kayak gitu.
”Ah, kalian jangan gitu dong. Aku masuk SKI tuh bukan buat ngedeketin dia. Bego banget kalo aku gitu, punya pikiran sesempit itu. Awas kalau kalian ungkit-ungkit hal ini lagi.” Tuh kan, beneran si Fat sewot. Mukanya merah tuh, bukan karena malu, tapi marah.
”Alaah.... gitu aja kok marah. Kita kan cuma bercanda ... ” sahut Dina.
”Becanda sih becanda. Tapi liat-liat dulu dong. Aku gak mau ada fitnah atau gosip apapun. Bisa merusak citra SKI dan orang-orangnya. Termasuk aku. Kalian mau, aku kena fitnah?” Fatma manyun.
“Mmm… tentu saja enggak dong. Maap deh Bu Ustadzah. Udah deh, kita bahas yang lain ajah. Eh, kalian dah dengar belum, ada dosen yang nyebeliiin banget di kampus kita?” lanjut Dina pula, memberikan topik baru.
“Eh, belum, belum. Nyebelin gimana maksudmu?” sambar Rika.
Seperti biasa, Mona yang suka latah ikut-ikutan menjawab, “Aku tahu, aku tahu! Dosen yang dah agak tua tapi suka gatel itu kan? Sukanya pegang-pegang cewek cakep. Dipegang paha, pantat, lalu…. Mmm…. Apa lagi ya…”
“Ini baru desas-desus sih. Soalnya belum punya datanya. Cewek-cewek yang pernah jadi korban tuh nggak mau ngaku terus terang sih, soalnya mereka khawatir klo dapat nilai jelek.” Papar Dina lebih lanjut.
“Wah… klo itu benar, gak bisa dibiarin nih. Mentang-mentang dosen, menggunakan kekuasaannya buat nurutin apa yang dia mau. Ini harus segera diusut dan dicari cara buat ngatasinnya. Klo gitu, dalam sepekan ini kita cari info lebih banyak dan lebih lengkap tentang ini. Kita bicarakan di pertemuan kita berikutnya. OK?” Dewi mulai menutup pembicaraan.
”OK Boss....” sahut yang lain serempak. Pertemuan itupun diakhiri.
****
Dua hari berikutnya. Ah, dasar si Rika, kadang jadi pemalas dia. Baju-baju kotornya belum sempat dia cuci. Pagi itu kelabakan deh dia, mau pakai baju apa.
”Duuh, kenapa roknya tinggal yang gini-gini doang? Klo gini bisa kelihatan dong paha gue. Hmm... lumayan sih, paha mulus buat nyari perhatian cowok. Tapi itu udah bukan gue banget. Murah banget dong gue. Tapi, apa boleh buat. Nyesel deh gue kenapa kemaring males nyuci.” Rika ngomel sendiri di kamarnya.
Semenjak sampai di kampus dan selama di kelas, Rika jadi pusat perhatian para cowok. Lebih tepatnya, pahanya yang kuning mulus itu. Banyak pasang mata yang curi-curi pandang, mengagumi indahnya ciptaan Tuhan itu. Rika merasakannya, membuatnya panas dingin menahan malu campur marah. Tapi apa boleh buat, salah dia sendiri sih.
Uuuhh... kalau gini jadinya, mending aku tadi pinjam jilbabnya si Fat sekalian. Batin Rika, sebal. Baru dirasakannya, kebutuhan menutupi aurat. Tidak tahu kenapa sekarang dirasakannya. Padahal dulu, dia yang suka pamer-pamer, model sih.
Kuliah jam pertama dan kedua selesai. ”Rika, ke kantin yuk. Aku laper nih, tadi belum sempat sarapan,” ajak Mona.
”Mmm... nggak ah. Aku ’gak gitu laper kok. Aku mau ke perpus aja. Ada beberapa buku yang mau kucari. Sorry ya, Mon.”
”Oo... ya udah. Sampai ketemu di kuliah berikutnya klo gitu... Yuk, Rik!”
Rika langsung menuju lift. Ruang perpustakaan FKG tidak berada di lantai 1, tapi di lantai 5. Yah, klo ada yang nggak pakai lift berarti orang itu bener-bener niat mau olah raga. Rika sendiri sebenarnya jarang ke perpus, tapi kali ini sengaja ke sana agar aman dari apa yang terjadi sejak pagi. Lirikan-lirikan para cowok yang mengagumi apa yang tidak bisa tertutupi rok mini itu.
Rika memencet tombol lift pada angka 5, kebetulan tidak ada penumpang lain di lift itu. Pintu lift segera merapat, namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup ada satu tangan yang menahan. Pintu kembali terbuka. Rika melihat siapa yang di depan lift.
“Maaf, saya ikut naik lift ya...” sapa calon penumpang lift itu.
“Ya... silakan, Pak...” kata Rika sambil tersenyum pada laki-laki yang kira-kira berusia kepala lima itu. Salah satu dosen di fakultasnya.
”Terima kasih...” ucapnya pula. Rika melihat raut muka terkesiap saat bola mata pria itu tertuju ke bagian bawah. Rika segera menutupinya dengan buku yang dia bawa.
Lift pun mulai bergerak naik. Deg! Rika ingat pembicaraan dengan teman-temannya dua hari yang lalu, tentang dosen yang gatel. Dan dia sekarang sadar, bahwa dia sekarang bersama orang itu, hanya berdua dalam lift, dengan keadaan busana Rika yang seperti itu. Jantung Rika berdegup kencang.
“Dik, kalau nggak salah kamu Rika Damayanti kan?” tanya teman satu liftnya.
Rika kaget, saat pikirannya memikirkan sesuatu tiba-tiba ada yang memegang pundaknya dan berbicara padanya. “Eh.... i.... iya, ya.... , benar Pak.” Jawab Rika sambil agak menjauh.
”Hmm... saya tahu, kamu dulu seorang model. Kamu memang cantik. Tapi di kampus kita ada aturan. Termasuk tentang kesopanan berpakaian,” katanya sambil terus menatap bagian bawah Rika.
Pria itu mendekat. “Masak kamu ke kampus memakai pakaian seperti ini? Bagian ini bisa jelas terlihat,” katanya lagi sambil menyentuh bagian yang dimaksudnya. Jantung Rika semakin keras berdegup ketika merasakan tangan itu menyentuh kulit pahanya.
”Kalau begini bisa mengganggu kenyamanan belajar di kelas. Banyak yang akan kehilangan konsentrasi pada mata kuliah saat itu,” lanjutnya sambil menggerakkan tangan yang tadi menyentuh sesuatu.
Tubuh Rika agak gemetar. Jantungnya berdegup keras. Nafasnya agak memburu. Semuanya karena dia menahan amarahnya yang mulai meletup. Dalam hati Rika memaki-maki. Kurang ajaar..., sialan, dasar dosen cabul, beraninya dia memegang dan mengusap pahaku. Sembarangan...! Namun Rika tak kuasa untuk berbuat sesuatu.
”Lain kali jangan diulangi ya. Mengerti kan kamu?” kata dosen itu pula sambil memindahkan tanggannya ke pantat Rika. Rika hanya menunduk.
Lift sampai di lantai 4. Berhenti. ”Oke. Saya sudah sampai di tujuan. Sampai jumpa, jangan lupa yang saya katakan tadi...”
Pintu lift tertutup dan kembali bergerak menuju lantai 5. Rika masih menunduk. Tak bergerak, kecuali bahunya yang turun naik. Mukanya tampak merah. Tak tahu perasaan seperti apa yang dirasakannya saat itu.... marah, jengkel, sebel, malu, benci .... entah apa lagi. Semua campur aduk seperti adonan kue bolu.
Sampai di lantai 5, pintu lift terbuka. Namun Rika cepat-cepat menekan tombol penutup pintu dan angka 1. Beberapa mahasiswa yang naik mulai dari lantai berikutnya tak dia perhatikan. Keluar dari lift, berjalan di koridor lantai 1 dan langsung menuju ke tempat parkir.
Di jalan menuju parkiran, Rika berpapasan dengan Fatma. ”Hai, Rika! Lho... Ka, ada apa Ka?” tanya Fatma keheranan. Rika diam saja, berjalan cepat, masih menunduk. Fatma hanya melongo terheran-heran melihat punggung Rika yang semakin jauh. Tumben dia kayak gitu, ada apa ya kira-kira? Batin Fatma.
Sesampainya di tempat parkir, dia segera mencari mobilnya. Buka pintu mobil, membanting tas, masuk ke mobil, menutup pintu, dan segera mengemudikan mobilnya melesat keluar fakultas. Rika pulang.
Malam itu, Rika termenung di atas tempat tidurnya. Selama hampir dua jam semenjak pukul setengah sembilan matanya tidak bisa terpejam. Berkali-kali terbayang kejadian di lift siang tadi. Gila, seumur-umur belum pernah ada orang selain keluargaku yang menyentuhku, apalagi sampai memegang paha dan pantatku. Dasar dosen cabul kurang ajar. Aku akan membuat perhitungan denganmu. Tunggu saja. Rika terus berkata-kata dalam hati, sampai ada dering telepon yang membuyarkan pikirannya.
”Halo... ooo Fatma. Oh, tidak. Tidak apa-apa kok. Besok aja di sekolah kuceritakan, sama teman-teman yang lain juga. Pokoknya aku punya berita besar. .... OK, sampai jumpa besok ya. Oya, Fat, suatu saat .... aku ingin sepertimu. Assalamu ’alaikum.” [ ]
(Diinspirasi dari yg terjadi di fakultas yg sama di UGM)

Friday, September 21, 2007

Pengumuman Lomba Sudah Keluar...Alhamdulillaah

Akhirnya...........
Setelah menunggu sebenarnya dengan (tidak terlalu) deg-degan, akhirnya pengumuman pemenang lomba cerpen Escaeva keluar juga. Setelah pagi tadi online dan belum ada pengumuman, malam ini akhirnya bisa ngecek lagi.... dan ketahuan hasilnya seperti apa.

Kebetulan malam ini aku diajak oleh tetangga sebelah rumahku yang seorang guru SMP, untuk mengantar CPU dan monitor ke lab komputer di SMP 1 Prambanan. Wah... kesempatan nge-internet lagi nih... gratisan..gratisan... :). Maklum saja, soalnya lab komputer itu memiliki koneksi internet. Dan ini kesempatan untuk melihat pengumumannya.

Setelah beberapa saat tidak bisa online karena koneksinya bermasalah, akhirnya setelah servernya diberesin, bisa online juga. Yess.... Langsung saja buka situsnya, lalu....
Yaa.... alhamdulillaah....
Tidak jauh dari dugaan semula :). Saya memang tidak termasuk dalam daftar cerpen-cerpen terbaik. Hmm.... boro-boro juara..., masuk 60 terbaik saja tidak!!

Alhamdulillaah... inilah yang terbaik bagi saya. Yang penting saya telah turut berpartisipasi, membuat cerpen yang meski dibuat asal-asalan, namun termasuk peserta. He...he...he... daripada yang cerpennya bagus, masuk kategori terbaik tapi didiskualifikasi karena melanggar aturan. Ha...ha..ha...

Yah.... aku akan terus menulis... Dan lain kali pasti akan kubuat karya yang lebih baik. Oya... ada yang pengin cerpen saya itu di-upload di MP saya ini tidak?

Thursday, September 20, 2007

[Agak] Deg-degan Nunggu Pengumuman Lomba

Hari ini adalah hari yang di'canangkan' untuk mengumumkan para pemenang lomba cerpen Escaeva. Tapi, ketika saya lihat di website dan milist-nya, ternyata belum muncul juga. Mmm.. sepertinya tidak berharap untuk menang, meski ada sih harap-harap cemas meski sedikit, soalnya pesertanya banyak banget dan kebanyakan kawakan semua, pada ahli semua. Banyak penulis yang dah sering nerbitin tulisan dan memenangkan lomba. Banyak juga yang mengirim beberapa karya cerpen. Lha kalau saya?? Saya baru pemula, dan cuma mengirim satu cerpen doang.

Tapi, dulu iseng saja mengirim, karena kebetulan punya tema dan cerita yang cukup pas. Lalu beberapa saat setelah mengirimkan cerpen, ternyata masuk daftar peserta, nomer 413 kalau di website-nya. Tahu bahwa karya saya memenuhi syarat peserta aja sudah senang saya. Total ada 1119 naskah cerpen!! Banyak banget kan? Padahal pemenangnya cuma diambil beberapa saja. Ya... mungkin saja sih menang, asal para juri ketika membaca dan menilai pada ngatuk semua dan ngasih nilai yang tinggi... ha...ha..ha...

Yah... kehendak Allah SWT tidak ada yang tahu... Siapa tahu nama saya dan judul karya saya ada di daftar pemenang. Siapa tahu? Ya... mohon do'anya saja deh..

Friday, September 7, 2007

Harus Loading Lagi??

Waah... selama dua bulan nggak ngisi MP.... Bahkan aktivitas menulis pun jadi sangat minimal. Hal ini dapat menurunkan kemampuan menulis yang kemarin ada. Karena... menulis adalah keterampilan, dan keterampilan diasah melalui praktek dan latihan secara terus menerus. Nah.. itu dia... selama dua bulan hampir vakum. Jadi sulit nih mau nulis.

Tulisan ini juga nih, nggak tau sebenarnya mau nulis apa sih. Asal aja. Pokoke sing penting MP-nya ada tambahan tulisan. Terus gimana dong selanjutnya? Perlu loading... loading... loading... sing jelas.

Huaa... bingung mau nulis apa.....!!! Kebanyakan ide mungkin....

Tuesday, June 26, 2007

(Mantan) Anggota Sheila on 7 Nikahi Akhwat Aktivis Dakwah

Oleh : Cahya Herwening


Seorang pemain band, lebih tepatnya mantan, dari salah satu kelompok band ternama di blantika musik Indonesia menikahi seorang akhwat aktivis dakwah. Akad nikah dilaksanakan di daerah asal si akhwat, Pematang Siantar, Sumatera Utara pada Jumat 25 Mei 2007 pukul 8.00. Sedang pesta walimahan dilaksanakan di Yogyakarta, tepatnya di Grha Sabha Pramana, UGM pada hari Sabtu tanggal 23 Juni 2007, pukul 19.00 sampai selesai.
Pesta walimahan berjalan cukup meriah, dilengkapi dengan dekorasi yang cukup wah dan bermacam hidangan yang mengundang selera. Teristimewa adalah tamu yang menghadiri pesta tersebut, yang terdiri atas pelbagai kalangan. Ada para artis, khususnya teman-teman satu tim dari mempelai pria, hadir di sana Duta, Adam dan Eros bersama keluarga masing-masing. Tamu undangan lain, sanak saudara, teman dari kedua keluarga. Juga teman-teman sang mempelai wanita, yakni para ikhwan dan akhwat aktivis dakwah kampus.
Suasana pesta cukup beragam, terutama saat menikmati hidangan. Terlihat kontras antara yang berdiri dan duduk. Meski telah disediakan tempat duduk, namun tak sedikit yang melakukan standing party. Kemudian dari penampilan tamu undangan, cukup variatif mulai dari yang berpenampilan cantik dan seksi dengan tata rias yang maksimal, hingga yang berpenampilan tertutup namun anggun menggunakan baju kurung dan jilbab panjang. Yang disebut terakhir ini cukup menghegemoni suasana meskipun tidak menjadi mayoritas.
Sebenarnya siapa sih yang beruntung bisa mempersunting seorang "kunci surga" untuk mendampingi hidupnya dalam mengarungi samudera kehidupan itu? Mungkin anda sudah bisa menebak. Ya, tidak lain adalah H. Saktia Ari Seno atau lebih dikenal dengan panggilan Sakti, yang ketika masih di Sheila on 7 berperan sebagai pemain rythm guitar. Beberapa kurun waktu terakhir, sejak memutuskan keluar dari Sheila on 7, Sakti mengambil jalan 'pertapaan', mencoba mendalami keislaman dengan lebih dekat kepada nilai-nilai kesufian.
Tak berlebihan kiranya, wanita yang kini telah sah menjadi pendamping hidupnya ini disebut sebagai "kunci surga". Tiada lain namanya, Miftahul Jannah, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memang memiliki arti "kunci surga". Selain itu, wanita muslimah yang shalihah memang dapat menjadi kunci surga bagi orang tuanya, juga bagi suaminya, melengkapi setengah dari diennya dan menjadi partner dalam membina keluarga muslim, yang dari keluarga-keluarga berkarakter muslim itulah dapat terbentuk masyarakat madani. Semoga Ita, panggilan akrab Miftahul Jannah, dapat mengambil peran tersebut.
Belum jelas bagi saya, bagaimana bisa dua orang yang berasal dari latar belakang sangat berbeda dapat disatukan dalam sebuah ikatan suci ini. Rasanya agak aneh saja. Namun yang pasti ada jalur-jalur khusus disamping tentu saja merupakan sesuatu yang Allah SWT kehendaki terjadi.
Saat menyalami Sakti, ingin saya katakan kepadanya, "Hey Mas Sakti, Anda itu memperoleh seorang "kunci surga" lho. Tolong dijaga baik-baik. Hmm, kalau nanti sampai membuat beliau menangis, awas kau!!". Ehm ... ehm..., sok protektif ya....??^_^ Ya jelas lah, Ita itu merupakan salah satu mantan teman seperjuangan saya di kampus, terutama saat masing-masing masih memegang amanah di Kelompok Studi Universitas (Ita) dan Kelompok Studi Fakultas (saya). Cukup banyak forum koordinasi yang mempertemukan kami dan teman-teman lain, yang membuat kami semua sudah bagai keluarga besar. Jadi, jelas jika kami mengharapkan kebahagiaan padanya dan tidak menginginkan sebaliknya. Sayangnya, apa yang ingin saya ucapkan itu baru kepikiran beberapa saat setelah selesai menyalami mereka, he... he... he....
Tapi, mungkin tidak perlu banyak kekhawatiran ketika saya melihat rona wajah gembira pada kedua mempelai, dan juga orang tua masing-masing. Semoga menjadi tanda bahagianya keluarga mereka kelak. Dan menjadi keluarga seperti yang kami semua harapkan, salah satunya Ita yang sarjana psikologi itu mampu mempengaruhi aspek psikologisnya Sakti. Hmm.. maksude opo
Nah, apapun yang terjadi, jika ini adalah kehendak Allah SWT, maka jelaslah kami harus ikhlas. Maka kepada kedua mempelai, kami ucapkan selamat. Selamat berjuang dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh rintangan, cobaan dan hambatan. Makin jauh bahteramu meninggalkan dermaga, maka akan makin besar pula resiko bahaya yang mengancam. Semoga semua dapat diatasi dengan baik nantinya. Yang jelas, di manapun bahteramu nantinya berada, akan senantiasa ada jangkar yang telah terikat tali yang sangat kuat. Maka berpegang teguhlah pada tali itu, yakni tali Allah. Islam. Bersama pemilik tali itu sendiri Yang Maha Kuat lagi Perkasa. Tiada penolong selain Dia.
Kami mendo'akan kalian;
"BARAKALLAAHU LAKA WA BARAKA 'ALAIKA WA JAMMA'A BAINAKUMA FII KHAIIR"
Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dapat berkontribusi bagi dakwah, dan muntijah dalam menghasilkan jundi-jundi yang siap berjuang membela Islam 'tuk mengembalikan izzah.

Selasa, 26 Juni 2007
pkl. 00.50-an

Monday, June 18, 2007

Akhirnya Selesai Juga 'Urusan Kampus'ku


Dua hari yang lalu, Sabtu 16 Juni 2007, dengan adanya acara Last Moment, tuntaslah sudah 'tugas kampus'-ku alias lengser keprabon. Tugas yang dulu entah datang dari mana, tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka dibebankan di pundakku sejak kira-kira setahun yang lalu. Tugas baru yang benar-benar baru, karena sebelumnya belum pernah sekalipun, bahkan terlintas di pikiran pun tidak untuk memegangnya, karena aku pun belum pernah punya pengalaman menangani bidang itu.

Sebenarnya di bagian mana sih tugas saya itu? Pasti anda belum tahu (dan mungkin nggak mau tahu .. he... he... ^^). Tapi, meski nggak mau tahu, akan tetap saya beritahu. Ini nih ... ngurusi segala tetek bengek yang berhubungan dengan media dan opini. Hmm ... asyik dan unik juga tugas itu. Benar-benar harus belajar dari awal, dari nol. Meski kata salah seorang kakak, tugas itu nantinya akan lebih bersifat manajerial. Tapi, nyatanya tetep nggak jauh dari dunia tulis menulis, pembuatan media, pokoknya yang membutuhkan skill kejurnalistikan. Wah, bener-bener deh ... harus akselerasi. Apalagi belum menguasai kemampuan analisis media, analisis opini, dsb... dsb.... Sepertinya tugas yang sangat berat bagi orang yang non-experienced.

Tapi ada kebetulan yang tidak disangka-sangka. Beberapa waktu sebelum dapat amanah itu, saya baru sadar kalau saya suka menulis. Dan juga mulai menulis macem-macem tulisan, khususnya yang bersifat reflektif dan pengkritisan bagi kondisi dakwah. Jadi, hobi baru itu bisa dioptimalkan, terutama ketika nanti menulis artikel di media. Dan ternyata benar, berguna!

Selanjutnya ... di awal tugas, mengerjakan maca-macam konsep, perencanaan, sistem, dll. Lalu melaksanakan program realisasinya. Termasuk membuat media baru pada waktu kemudian. Hmm... ngomong-ngomong soal media baru itu, selain kontributor tulisan (banyak juga kok yang mau jadi kontributor, ya meski ada yang perlu pemaksaan juga), misalnya dari desain, lay out, produksi, dll. praktis hanya dikerjakan oleh satu orang. Apa nggak gila? Siapa coba, satu orang itu??

Yah, begitulah kira-kira perjalanan setahun ini. Banyak suka, banyak duka. Tapi lebih banyak sukanya, wong saya ngejalaninnya dengan enjoy kok, soalnya sesuai dengan minat baru sih. Saya banyak belajar dari amanah kemarin itu. Sangat banyak. Banyak sekali. Sebagian besar tidak terungkap. Mungkin. Atau saya yang tidak mau mengungkapkannya. Tidak tahu.

Tapi... sayangnya kesempatan belajar itu sudah berakhir sekarang. Dan kayaknya belum bisa mengemban amanah yang kemarin itu dengan baik. Namun yang jelas, saya bersyukur meski kalau dilihat dari hasil kerja, tidak terlalu dapat dibanggakan. Sing penting wis usaha, iyo opo ora?

Ada kenangan cukup manis juga nih, dari apa yang telah saya lakukan kemarin. Bahwa kesungguhanku dalam berjuang yang belum seberapa itu ternyata dihargai. Pas acara Last Moment itu, tanpa disangka dan diduga sebelumnya saya dikasih reward. Katanya sih, berdasarkan kriteria kedisiplinan waktu, (hampir) selalu tepat waktu saat rapat rutin, meski jarak kampus dari rumah cukup jauuuh. Itu katanya lho, soalnya saya sendiri merasa ... gak gitu-gitu amat kok. Kadang saya telat juga. Tapi.... alhamdulillaah. Paling tidak, semoga bisa menjadi satu hal yang bisa dipetik hikmahnya bagi seluruh kader, meski saya merasa saya belum layak mendapat penghargaan apapun.

Nah, setelah selesai amanah kemarin, mungkin sudah saatnya belajar di tempat lain. Apakah saya kemudian bebas dan lepas setelah amanah ini berakhir? Lari-lari di jalan sambil teriak, "Aku bebaaaasss!!!"? Tentu tidak. Saya sendiri merasa sangat tidak nyaman ketika tidak ada sesuatu yang dikerjakan, rasanya hambar dan mboseni. Sebaliknya saya merasakan kesenangan dan kepuasan jika bermanfaat bagi nilai kebaikan (entah itu orang lain, bangsa, negara, agama). Maka, saya sendiri tidak ingin lepas dari tugas dan tanggung jawab di wilayah kebaikan. Di dalam aktivitas dakwah.

Tentunya, harus segera mencari tugas baru. Tugas yang bisa menjadi perantara/pendukung pencapaian cita-cita manusia, yakni meraih jannah-Nya. Tapi itu tidak perlu dilakukan, karena sudah punya dua yang lain. Bahkan itu sudah dimulai sejak masih mengampu amanah kampus. Amanah itu ada di lingkup propinsi dan nasional ('gak usah dikasih tau ya ^^, 'gak penting!). Subhanallaah.... tempat belajar dan beramal yang baru!! Semmanggattt!!! (Saking semangatnya...^^)

[Ditulis langsung secara online, nggak dari komputer dulu. Mesti butuh edit-editan lagi nih nanti....]