Showing posts with label bidadari_surga. Show all posts
Showing posts with label bidadari_surga. Show all posts

Saturday, March 22, 2008

Kisah Mujahid Muda Perindu Surga

Tulisan yang menjadi penutup (atau hampir penutup) =D serial artikel tentang bidadari. Kisah ini terjadi di zaman salaf ash shalih ketika kekuasaan Islam berekspansi ke wilayah-wilayah yang dikuasai oleh bangsa lain (Persia, Romawi, dsb.). Kisah ini saya temukan di beberapa sumber, dan versi paling lengkapnya saya baca dari sebuah majalah. Akan saya ceritakan sesuai apa yang saya ingat, jika Antum menemukan kesalahan, mohon dikoreksi.

Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka

Selesai ayat itu dibaca, seorang pemuda yang berusia sekitar 15 tahunan bangkit dari tempat duduknya. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan surga.”

Anak muda yang mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tersisa. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu telah datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.

Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Bidadari Bermata Jeli ....” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Bidadari Bermata Jeli itu. Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Bidadari Bermata Jeli.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang sangat jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Bidadari Bermata Jeli . . . . .”

“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Bidadari Bermata Jeli?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu.”

Aku meneruskan langkah hingga sampai pada taman yang lebih indah dari yang telah kulihat, dan di bawahnya mengalir sungai dari air susu yang putih bersih. Di pinggirnya duduk para bidadari yang lebih cantik dari bidadari sebelumnya. Mereka adalah bidadari yang paling cantik yang pernah kulihat, yang mengenakan perhiasan-perhiasan yang lebih indah. Saat melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Bidadari Bermata Jeli . . . . .”

“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Bidadari Bermata Jeli?” Mereka menjawab salamku dan juga berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu.”

Aku meneruskan langkah hingga sampai pada taman yang lebih indah lagi dari yang telah kulihat, dan di bawahnya mengalir air madu yang tidak akan berubah rasa. Di pinggirnya duduk para bidadari yang lebih cantik dari bidadari sebelumnya. Mereka adalah bidadari yang paling cantik yang pernah kulihat, yang mengenakan perhiasan-perhiasan yang lebih indah. Ketika melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Bidadari Bermata Jeli . . . . .”

“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Bidadari Bermata Jeli?” Mereka menjawab salamku dan lagi-lagi berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu.”

Aku meneruskan langkah hingga sampai pada taman yang lebih indah dari yang telah kulihat, dan di bawahnya mengalir sungai khamar. Di pinggirnya duduk para bidadari yang lebih cantik lagi dari bidadari sebelumnya. Mereka adalah bidadari-bidadari yang paling cantik yang pernah kulihat, yang mengenakan perhiasan-perhiasan yang lebih indah lagi. Tatkala melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Bidadari Bermata Jeli . . . . .”

“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Bidadari Bermata Jeli?” Mereka menjawab salamku dan seperti bidadari-bidadari sebelumnya berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu.”

Aku kembali meneruskan perjalananku dan akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang lebih cantik dari bidadari-bidadari yang tadi kulihat di pinggir sungai-sungai. Sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Bidadari Bermata Jeli, ini suamimu datang ..…”

Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Dia adalah sosok bidadari yang jauh lebih cantuk dari yang kutemui di sungai-sungai, dan juga yang berjaga di depan kemah. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu. Nanti sore kita akan bertemu lagi di sini, untuk berbuka puasa bersama. Bersabarlah hingga saat itu tiba.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.

Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri atas sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka di tubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. [ ]

 

Sumber: (coba dicekkan ya ^_^) Kitab Irsyadul ‘Ibad.

Thursday, March 20, 2008

Bidadari Surga itu.... Seperti Apa Ya??


Oleh : Cahya Herwening


Lanjutan tulisan tentang bidadari yang sudah diposting sebelumnya. Telah ada beberapa buku yang di dalamnya menjabarkan bagaimanakah bidadari surga itu, secara fisik dan non fisik. Dan dari gambaran detail itu, pastinya akan membuat yang tahu akan menjadi sangat merindukan bidadari surga. Untuk singkatnya tentang gambaran seperti apakah bidadari itu, saya cuplikkan ayat-ayat dalam Al-Qur'an dan hadits yang berhasil saya temukan, atau gak sengaja ketemu.
 Gambaran Bidadari dalam Al-Qur'anul Karim
"Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jeli matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik."
(Qs. Ash-Shaaffaat [37]: 48-49)
"Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya." (Qs. Shaad [38]: 52)
 "Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin."
(Qs. Ar-Rahmaan [55]: 56)
"Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan." (Qs. Ar-Rahmaan [55]: 58)
"Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik."
(Qs. Ar-Rahmaan [55]: 70)
 "(Bidadari-bidadari) yang jeli, putih bersih, dipingit dalam rumah."
(Qs. Ar-Rahmaan [55]: 72)
 "Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin." (Qs. Ar-Rahmaan [55]: 74)
 "Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah." (Qs. Ar-Rahmaan [55]: 76)
 "mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (Qs. Ath-Thuur [52]: 20)
 "Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik."
(Qs. Al-Waaqi’ah [56]: 22-23)
"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya."
(Qs. Al-Waaqi’ah [56]: 35-37)
 
Gambaran Bidadari dalam Hadits
Ath-Thabarany menuturkan, kami diberi tahu Bakr bin Sahl Ad-Dimyaty, kami diberitahu Amru bin Hisyam Al-Biruny, kami diberitahu Sulaiman bin Abu Karimah, dari Hisyam bin Hassan, dari Al-Hassan, dari ibunya, dari Ummu Salamah Radhiallahuanha, dia berkata, “Saya berkata,”Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli”.”
Beliau menjawab,”Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”
Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku tentang firman Allah, “˜Laksana mutiara yang tersimpan baik.”(Al-Waqi'ah: 23)
Beliau menjawab,”Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”
Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, “˜Di dalam surga-surga ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar-Rahmaan: 70)
Beliau menjawab,”Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jeli.”
Saya berkata lagi,”Jelaskan padaku firman Allah, “seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik.” (Ash-Shaaffaat: 49)
Beliau menjawab,”Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah, “˜Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Al-Waaqi'ah: 37)
Beliau menjawab,”Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
................(hingga akhir hadits).
Disebutkan dalam catatan kaki buku Raudhatul Muhibbin, halaman 201: ”Pengarang (Ibnul Qoyyim) menyebutkan hadits ini di dalam bukunya Hadil Arwah. Di sana dia memberi catatan: Sulaiman bin Abu Karamah menyendiri dalam riwayat ini. Abu Hatim menganggapnya dha’if. Menurut Ibnu Ady, mayoritas hadits-haditsnya adalah mungkar dan saya tidak melihat orang-orang dahulu membicarakannya. Kemudian dia menyebutkan hadits ini dari jalannya seraya berkata, “Hanya sanad inilah yang diketahui.”
Nah, dari sedikit gambaran (visualisasi) dari sosok bidadari itu, sudahkah dapat membuat kita (yang ikhwan) merindukannya?? [ ]

Rujukan:
Al Qur’an Al Karim
Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu), karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, terbitan Daarul Falah.