Masih sangat moody kah kita? Jika kita melihat umur kita, kemudian melihat realita yang terjadi pada diri kita, mungkin akan muncul komentar dari kita sendiri, "wah ... wah ... masak se"tua" ini masih suka moody"? Harusnya kan kalau sudah tua (baca: dewasa) dapat lebih mengendalikan diri, dalam artian dapat menempatkan sikap kita terhadap sesuatu untuk kemudian melakukan atau tidak melakukan hal tersebut. Namun, dalam melakukan amalan seringkali kita masih sangat dipengaruhi oleh adanya faktor mood ini. Termasuk dalam aktivitas menulis tentunya.
Soal mood, sebenarnya bukan rahasia lagi kalau salah satu hambatan penulis (dan juga calon penulis) adalah masih menggelayutinya sifat moody pada dirinya. Jangankan orang-orang seperti saya yang masih sangat baru dalam kepenulisan, bahkan penulis-penulis besar dan ternama juga kadang masih seperti itu. Orang-orang sekelas mereka pun kadang masih mengalami 'futur' menulis, alias 'gak mood untuk memulai menggoreskan pena, atau menekan tuts keyboard komputer. Apalagi kita. Tak sedikit di antara kita semua yang menunda-nunda untuk mulai menulis. Merasa belum mood. Memikirkan dan menunggu waktu kapan punya mood menulis.
Jika gejala seperti di atas dibiarkan, maka perkembangan kita dalam menghasilkan tulisan jelas akan lambat. Sekadar sharing pengetahuan saja (bukan pengalaman, soalnya memang belum berpengalaman, sedang pengetahuan sedikit-sedikit ada lah), bila kita belum mau berubah dari sifat ketergantungan pada mood maka kecepatan pembelajaran dalam menulis juga lambat. Karena pembelajaran seorang penulis ya dari aktivitas menulis itu tadi, jika menulis saat ada mood saja maka tentunya hanya belajar sedikit. Bahkan, kita juga akan kehilangan banyak waktu dan ide selagi kita menunggu waktu datangnya mood itu.
Beberapa orang yang lebih berpengalaman menulis pernah memberi wasiat, "Jangan menyerah pada mood!". Karena menyerah pada mood itu sering merugikan, terutama jika bekerja di bidang kepenulisan dan ada deadline, serta jika sudah punya ide namun belum greget menulis. Jika seperti yang kedua ini, maka seringkali kita akan memikirkan terus ide itu, bagaimana cara menuangkannya, bagaimana sistematikanya, dari mana mencari bahan-bahannya, dsb. Bisa-bisa mengganggu konsentrasi ketika harus harus memikirkan hal lain, atau menjadikan tidur tak nyenyak karena saat tidur pun otak masih bekerja untuk memikirkannya. Mengapa tidak langsung mengambil kertas, pegang pena erat-erat dan mulai menulis? Menulis apapun yang ada di benaknya saat itu. Apa saja yang terpikirkan saat itu dituangkan seluruhnya tanpa menghiraukan terlebih dahulu perihal teknis dan sistematika yang menjadi urusan pada tahapan editing. Mengapa tidak melakukan itu? Padahal jika sudah mulai menggoreskan huruf demi huruf, kata demi kata, maka sedikit demi sedikit kita akan semakin memahami, sebenarnya apa sih yang akan kita tulis. Kita juga akan mendapat sistematika-sistematika baru, kombinasi dari semua yang pernah 'mampir', semua yang pernah dibaca, didengar dan dilihat menjadi sebuah rumusan gagasan yang baru. Kita akan menemukan itu sembari kita menuliskan gumpalan gagasan kita. Dan juga secara otomatis, kita juga akan menemukan mood kita. Dari situ kita akan mulai merasakan gejolak gairah menulis yang makin menggebu dan akhirnya dapat merasakan betapa nikmat menulis itu.
Perihal mood, tampaknya ada dua hal yang terkait, yakni waktu dan suasana. Kadang seseorang belum mau menulis karena merasa suasana belum 'in', belum cocok untuk mulai menulis. Atau merasa belum ada waktu yang tepat. Atau juga belum punya waktu untuk menulis. Apakah hal seperti ini pantas dibiarkan? Kata seorang guru (semua orang yang saya bisa belajar darinya saya anggap guru, jadi mungkin Antum pun termasuk guru saya): "suasana itu harus kita ciptakan sendiri". Termasuk waktu menulis, juga harus kita ciptakan sendiri. Kalau merasa suasana belum cocok, ya tidak akan pernah ada suasana yang sesuai kemauan kita. Atau jika merasa kekurangan waktu (merasa tidak ada waktu), ya nantinya tidak akan pernah kebagian waktu.
Kata kunci yang beliau sampaikan adalah: "momen yang tepat untuk menulis adalah: saat ini!". Suasana harus direkayasa, waktu harus disempatkan. Mulai dari adanya niat, lalu dilanjutkan dengan "pemaksaan" diri. Menulis disetiap ada kesempatan, satu paragraf, bahkan hanya beberapa kalimat pun tidak masalah. Yang penting ada peningkatan (progress) setiap harinya.
Ada beberapa orang yang bercerita bahwa ketika mencoba mulai menulis, dengan tanpa diketahuinya dari mana tiba-tiba kata-kata mengalir begitu saja dengan lancar, dan tangan enggan berhenti untuk terus menuliskan gagasannya. Ada yang ketika mau memulai tulisan sering kebingungan, mulai dari mana. Namun beliau tahu, dan tetap memaksa untuk mulai menulis, sehingga terangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat dan akhirnya tanpa sadar sudah jadi satu paragraf. Dan saat itulah mood yang tadinya tidak ada menjadi muncul. Semua dilatar belakangi kesadaran bahwa momen yang tepat untuk menulis ya saat ini, dan ketika kita mengatakan bahwa kita akan mencari waktu yang tepat, maka kita akan segera kehilangan banyak waktu dan ide. Khususnya jika ide itu tidak segera ditulis dalam buku ide, maka akan segera menguap lenyap. Oya, ada satu lagi yang memberikan tips, untuk mengatasi mood shalatlah meski hanya dua rakaat. Kata beliau shalat itu mencerdaskan dan seusai shalat maka mood akan diperoleh.
Begitulah, kesimpulannya ya jangan menyerah pada mood. Saya tambahkan, jangan bergantung pada mood. Apalagi ketika mood itu muncul disaat kita marah, sebal, emosi, dsb. Sehingga untuk memunculkan mood, harus emosi dulu. Ngeri to malahan, bukannya produktif menulis tapi bisa-bisa stress. Betul tidak? (dengan gaya bicara Aa Gym).
Tambahan tips, untuk menjaga mood dengan baik, ternyata perlu juga peran 'kejamaahan'. Artinya kita butuh semacam komunitas penulis yang di sana bisa saling menyemangati, sharing perkembangan tulisan dan kendala-kendalanya, bisa mengadakan semacam upgrade bareng, dsb. Juga, kata Ust. Cahyadi dalam acara silaturahim perdana ErAC (Era Intermedia Author Club) 26 Februari yang lalu di rumah beliau, ketika seorang penulis ketemu sesama penulis yang lain dan diskusi maka akan muncul banyak ide yang sebelumnya tidak terpikirkan. Hmm... ternyata keberkahan berjamaah berlaku juga untuk kegiatan tulis-menulis ini ya. Namun kalau belum bisa punya forum 'nyata', paling tidak kita ikut milis tentang kepenulisan, atau minimal punya teman yang bisa diajak diskusi dan sharing.
Itu saja. Sekali lagi saya baru bisa berbagi wawasan, belum berbagi pengalaman. Soalnya baru dalam tahap akan mengamalkan juga apa-apa yang tertulis di atas.**
Diedit dari e-mail yang saya kirimkan ke seorang teman.