Hallo Saudara-saudara, apa kabar?
Lama sekali tak bersua ya.
Semuanya sehat??
Semoga masih ingat tentang saya.
Hehehe...
Begini, saya kepikiran tentang ID MP saya yang menurut saya sendiri sulit diingat bagi orang umum. Teringat akan kuliah manajemen pemasaran pada 'jaman bahulak', merk atau nama yang dipilih paling tidak harusnya unik, mudah dihapal, mudah diingat.
Terkait dengan hal tersebut, maka saya ingin bertanya ke teman-teman semuanya:
1. Apakah alamat MP saya ini memenuhi kriteria di atas? (terutama mudah aspek mudah diingatnya)
2. (Bila jawaban no 1: Tidak) Apakah sebaiknya saya bikin account baru dengan nama yang lebih sederhana?
Mohon masukannya ya. Btw, saya belum tahu apakah di MP kita bisa import blog. Soalnya kalau bikin account baru dan yang ini dihapus, sayang posting-posting lama yang sudah eksis. Hehehe...
Showing posts with label pikiraniseng. Show all posts
Showing posts with label pikiraniseng. Show all posts
Thursday, August 11, 2011
Tuesday, May 19, 2009
Adakah Konspirasi di Pemilu Legislatif 2009?
Oleh : Cahya Herwening
Ini salah satu ganjalan di benak penulis tatkala mengikuti perkembangan jalannya pemilu legislatif kemarin. Ada beberapa hal yang terjadi, entah yang disiarkan melalui televisi, diinformasikan lewat media cetak, ataupun disaksikan dan didengar sendiri selama beberapa waktu lalu. Beberapa hal itu melahirkan satu pertanyaan besar, apakah benar di pemilu legislatif kemarin terlalu banyak rekayasa oleh tangan-tangan tak terlihat?
Pertanyaan tadi tampaknya bukan sekadar imajinasi atau khayalan penulis, karena beberapa orang lain atau bahkan mungkin banyak orang merasakan hal serupa. Termasuk calon presiden alternatif, Rizal Ramli, dalam sebuah acara di salah satu stasiun TV Indonesia bernama "Save The Nation" mengatakan bahwa ini adalah pemilu terkacau dibandingkan dengan dua pemilu sebelumnya. Beliau memberikan argumen beliau, mengapa berpendapat seperti itu.
Penulis pun memiliki hipotesisnya sendiri. Terlepas dari berbagai tulisan opini yang belum penulis temukan dan baca (sepertinya banyak), penulis hanya mengungkapkan apa yang penulis lihat/rasakan, dan ingat. Bisa jadi ini analisis yang sangat dangkal. Namun biarlah. Sesuatu yang dalam pasti diawali oleh sesuatu yang dangkal. Gak percaya? Coba aja jadi tukang gali sumur
Baiklah, kita mulai saja beberapa 'kecurigaan' ini (semoga todak ditangkap dan dijebloskan ke penjara, hehe):
1. Kisruh DPT
Ada yang bilang bahwa data yang digunakan untuk menentukan DPT diambil dari data Departemen Dalam Negeri. Dan menurut informasi, data dari sana adalah yang paling tidak kredibel, atau tidak valid. Pada kenyataannya, ada banyak kasus dimana sebuah keluarga beranggotakan misalnya 8 orang namun yang ada di DPT hanya 2 orang. Bahkan, ada di dapil kami yang dari satu RW hanya sekitar 12 orang yang terdaftar!! Luar biasa. Mungkin tak hanya di satu tempat itu yang terjadi demikian.
Kasus lain, di dapil yang sama, di kecamatan penulis sendiri, terjadi kelucuan. Belum lama selesai agenda pemilihan kepala desa. Saat pilkades tersebut, warga masyarakat terdaftar sebagai pemilih. Namun di pemilu, dia tidak masuk DPT. Jadi bertanya-tanya, bagaimana sih koordinasi di tingkat --paling tidak-- kecamatan, kok bisa-bisanya seperti itu??
Banyak memang yang tak terdaftar di DPT. Termasuk teman-teman saya kader sebuah partai dakwah. Pada awalnya santai-santai saja, karena cukup yakin diri mereka akan masuk DPT di daerahnya (kebanyakan mahasiswa perantauan). Namun setelah sekitar 3 atau 2 hari menjelang hari H, baru tahu bahwa namanya tidak masuk DPT. Dan ketika mengurus, sudah terbilang terlambat. Memang sih, seharusnya sejak awal mengecek DPS apakah namanya sudah masuk atau belum. Namun lagi-lagi, tak jarang DPS tidak dipasang sehingga tidak bisa melihat apakah sudah masuk daftar.
Ada yang mengatakan bahwa kasus DPT ini ulah aksi intelijen (maksudnya aksi rahasia yang bersifat intelijen, tidak harus dilakukan oleh badan intelijen). Mungkin sudah terdata peta kekuatan masing-masing partai, kemudian menggembosi daerah yang perolehan partai tertentu itu minimal. Sedang menurut suatu sumber, daerah-daerah yang kucuran BLT-nya besar, kasus DPT-nya minimal, dan sebaliknya. Kenapa ya?
2. Peraturan Mutasi
Urusan mutasi pada pemilu kali ini sungguh rumit. Sangat berbeda dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Seseorang harus mengurus C-5 di TPS-nya, boleh sendiri, boleh orang lain/keluarganya. Syaratnya tentu harus terdaftar di DPT. Setelah C-5 diperoleh, lalu mengurus ke TPS yang dituju untuk mutasi. Setelah beres, baru deh bisa mencontreng di TPS tujuan.
Mungkin tampak tidak terlalu sulit, tapi kita lihat saja, ada beberapa 'filter' berikut:
- Apakah terdaftar di DPT? (mengingat banyak sekali kasus DPT)
- Dapatkah mengurus C-5? (karena banyak sekali KPPS yang tidak paham apa dan bagaimanakah C-5 itu....)
- Apakah memperoleh jatah mencontreng di TPS yang dituju? (jikalau KPPS di TPS tujuan memahami mekanisme mutasi, jatah kertas suara cadangan di TPS hanya 2% dari pemilih, itu pun akan dikurangi bila ada kertas suara rusak dan juga jatah untuk saksi-saksi).
Nah, kenyataannya di DIY yang banyak sekali mahasiswa perantauan mengaku sangat kesulitan mengurus mutasi dengan sistem seperti ini. Ada upaya advokasi dari beberapa lembaga mahasiswa, namun terganjal juga dengan beberapa hal, khususnya birokrasi. Sehingga, mau tidak mau beribu-ribu potensi suara terpaksa gugur secara teknis.
Fakta lain, banyak kader sebuah partai dakwah yang berasal dari kalangan mahasiswa, dan banyak di antaranya mahasiswa perantauan. Nah, bisa jadi sistem (peraturan) baru seperti itu sengaja dibuat agar banyak potensi suara dari partai tersebut yang berguguran.
Itu beberapa hal yang mengganjal di pikiran penulis. Mungkin ada hal lain yang terlupa. Jika ingat insya Allah akan ditambahkan. Nah, pertanyaannya adalah:
"Apakah hal-hal tersebut terjadi karena kecerobohan, karena ignorant, atau memang by design?" Menurut hipotesis yang tersirat dari judulnya sih, yang terakhir nih pilihannya.
By the way, itu hanya cuap-cuapan orang kecil yang tak tahu apa-apa. Mungkin banyak yang menganggap asal ngomong. Tapi ini uneg-uneg rakyat kecil yang butuh klarifikasi, atau lebih jauh lagi solusi. Ada yang mau kasih tanggapan?? [ ]
Friday, May 25, 2007
Jika Bintang itu Seorang Akhwat?
Oleh : Cahya Herwening
"Orang besar tidak hanya menatap dan mengagumi bintang di langit, tetapi juga berusaha meraih dan berhasil mengambilnya."
Untaian kata yang membentuk kalimat indah di atas pernah saya dapatkan dari seseorang. Memang, kalam hikmah itu terasa dapat menyemangati dalam meraih impian, yang biasanya impian dan cita-cita itu tinggi, setinggi bintang di langit. Maka begitu pulalah yang saya rasakan ketika mencoba menyelami kandungan makna kalimat itu. Siapa sih yang nggak ingin jadi orang besar? Masak jadi orang kerdil terus sih??
Tapi ... tapi nih..., ketika merenungkannya, saya jadi ragu apakah benar kalimat tersebut dapat diimplementasikan secara umum pada semua hal? Memang cukup tepat sih, apabila "bintang" pada kalimat tersebut dimaksudkan sebagai cita-cita yang tinggi dan harapan mulia kita, atas pencapaian diri dalam kehidupan. Tapi apakah berlaku juga untuk 'bintang' yang lain? Bintang yang bagaimana coba? Tau nggak apa?? He...he...he...^^
Ehm... ehm.... seperti biasa, otak iseng saya segera bekerja ketika ada sesuatu hal yang cukup menggelitik. Terbersit pertanyaan iseng dalam pikiran seperti ini: "Apa jadinya jika 'bintang' itu adalah seorang akhwat?" !^^ v
Sepertinya hanya pertanyaan biasa kan? Di mana sih letak keisengannya? Pada nggak tahu kan? Nah, mau tahu??
Begini. Bagi seseorang yang berpartisipasi dalam suatu jamaah dakwah, mestinya ada semacam prosedur atau peraturan dalam kehidupan berjamaahnya. Katakanlah semacam adab-adab berinteraksi dengan jama'ah, bagaimana sih memposisikan diri dalam jama'ah agar apa yang kita lakukan tetap berada pada koridornya. Termasuk adab ketika ingin melengkapi setengah diennya (baca: menikah).
Seorang anggota jamaah yang mengikuti adab-adab itu, dalam pernikahannya tidak bisa semaunya. Tidak bisa, misalnya, dengan terlebih dulu mengincar (kayak sniper aja...^^) siapa yang ingin dinikahinya, hanya dengan mengandalkan asumsi maupun penglihatan lahir yang dimilikinya. Ini ditujukan agar nilai pernikahan sebagai ibadah dan juga orientasinya sebagai bagian dakwah tetap murni dan terjaga keberkahannya. Penjagaan kemurnian ini salah satunya dengan menjaga agar sebelum dan dalam proses pernikahan, mencegah (paling tidak meminimalkan) adanya faktor-faktor yang dapat membuat proses tidak sehat. Juga dengan usaha agar terjamin adanya kesetaraan kualitas masing-masing calon, khususnya kesetaraan kualitas.
Sehingga di sini dibutuhkan semacam 'lembaga khusus' yang menangani masalah nikah-menikah ini. Yang lembaga tersebut dapat memiliki akses mengenai data valid kedua calon, dan dapat mencarikan mana pasangan calon yang cocok, tidak hanya mengandalkan asumsi dan mata lahir, namun juga data, fakta dan bashiroh. Meski proses semacam itu tidak mutlak, namun rasanya menjadi salah satu bentuk ikhtiar yang direkomendasikan, untuk merealisasikan sebuah term : "Di Jalan Dakwah Aku Menikah" (seperti judul salah satu bukunya Ust. Cahyadi Takariawan^^).
Maka ketika ada pernyataan seperti awal tulisan ini, bahwa "orang besar tidak hanya menatap dan mengagumi bintang di langit, tetapi juga berusaha meraih dan berhasil mengambilnya", pertanyaannya adalah, untuk menjadi orang besar, apakah semua macam bintang itu harus diraih? Apakah berlaku juga ketika yang menjadi 'bintang' itu adalah seorang akhwat? Masihkah sesuai dengan koridor adab berjama'ah jika kita berusaha meraih dan mengambil 'bintang' (baca: akhwat) yang kita kagumi? Terus, apa sebaiknya memilih tidak perlu menjadi 'orang besar' saja^^?
Nah, pertanyaan-pertanyaan itu butuh jawaban dan tanggapan, meski saya punya kesimpulan sementara, yakni bahwa untuk menjadi orang besar tidak harus meraih semua “bintang”. Maka dimohon dengan sangat kepada anda yang telah membaca tulisan ini untuk memberikan komentar, menjawab maupun menanggapinya. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih. ^^ Monggo, silahkan ditanggapi.....
Subscribe to:
Posts (Atom)