Showing posts with label taujihat. Show all posts
Showing posts with label taujihat. Show all posts

Monday, August 25, 2008

13 Sifat Perempuan Yang Tidak Disukai Laki-Laki

Oleh: Ulis Tofa, Lc (www.dakwatuna.com)

dakwatuna.com -
Sehingga tidak ada pertanyaan lagi oleh para istri mulai saat ini, tentang sebab mengapa para suami mereka lari dari rumah. Karena salah satu Pusat Kajian di Eropa telah mengadakan survai seputar 20 sifat perempuan yang paling tidak disukai laki-laki. Survai ini diikuti oleh dua ribu (2000) peserta laki-laki dari beragam umur, beragam wawasan dan beragam tingkat pendidikan.

Survai itu menguatkan bahwa ada 13 sifat atau tipe perempuan yang tidak disukai laki-laki:

Pertama, perempuan yang kelaki-lakian, “mustarjalah”

Perempuan tipe ini menempati urutan pertama dari sifat yang paling tidak disukai laki-laki. Padahal banyak perempuan terpandang berkeyakinan bahwa laki-laki mencintai perempuan “yang memiliki sifat perkasa”. Namun survai itu justru sebaliknya, bahwa para peserta survai dari kalangan laki-laki menguatkan bahwa perempuan seperti ini telah hilang sifat kewanitannya secara fitrah. Mereka menilai bahwa perangai itu tidak asli milik perempuan. Seperti sifat penunjukan diri lebih kuat secara fisik, sebagaimana mereka menyaingi laki-laki dalam berbagai bidang kerja, terutama bidang yang semestinya hanya untuk laki-laki… Mereka bersuara lantang menuntut haknya dalam dunia kepemimpinan dan jabatan tinggi! Sebagian besar pemuda yang ikut serta dalam survai ini mengaku tidak suka berhubungan dengan tipe perempuan seperti ini.

Kedua, perempuan yang tidak bisa menahan lisannya, “Tsartsarah”

Tipe perempuan ini menempati urutan kedua dari sifat yang tidak disukai laki-laki, karena perempuan yang banyak omong dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk berbicara, menyampaikan pendapatnya, umumnya lebih banyak memaksa dan egois. Karena itu kehidupan rumah tangga terancam tidak bisa bertahan lebih lama, bahkan berubah menjadi “neraka”.

Ketiga, perempuan materialistis, “Maaddiyah”

Adalah tipe perempuan yang orientasi hidupnya hanya kebendaan dan materi. Segala sesuatu dinilai dengan harga dan uang. Tidak suka ada pengganti selain materi, meskipun ia lebih kaya dari suaminya.

Keempat, perempuan pemalas, “muhmalah”

Tipe perempuan ini menempati urutan keempat dari sifat perempuan yang tidak disukai laki-laki.

Kelima, perempuan bodoh, “ghobiyyah”

Yaitu tipe perempuan yang tidak memiliki pendapat, tidak punya ide dan hanya bersikap pasif.

Keenam, perempuan pembohong, “kadzibah”

Tipe perempuan yang tidak bisa dipercaya, suka berbohong, tidak berkata sebenarnya, baik menyangkut masalah serius, besar atau masalah sepele dan remeh. Tipe perempuan ini sangat ditakuti laki-laki, karena tidak ada yang bisa dipercaya lagi dari segala sisinya, dan umumnya berkhianat terhadap suaminya.

Ketujuh, perempuan yang mengaku serba hebat, “mutabahiyah”

Tipe perempuan ini selalu menyangka dirinya paling pintar, ia lebih hebat dibandingkan dengan lainnya, dibandingkan suaminya, anaknya, di tempat kerjanya, dan kedudukan materi lainnya…

Kedelapan, perempuan sok jagoan, tidak mau kalah dengan suaminya

Tipe perempuan yang selalu menunjukkan kekuatan fisiknya setiap saat.

Kesembilan, perempuan yang iri dengan perempuan lainnya.

Adalah tipe perempuan yang selalu menjelekkan perempuan lain.

Kesepuluh, perempuan murahan, “mubtadzilah”

Tipe perempuan pasaran yang mengumbar omongannya, perilakunya, menggadaikan kehormatan dan kepribadiannya di tengah-tengah masyarakat.

Kesebelas, perempuan yang perasa, “syadidah hasasiyyah”

Tipe perempuan seperti ini banyak menangis yang mengakibatkan laki-laki terpukul dan terpengaruh semenjak awal. Suami menjadi masyghul dengan sikap cengengnya.

Keduabelas, perempuan pencemburu yang berlebihan, “ghayyur gira zaidah”

Sehingga menyebabkan kehidupan suaminya terperangkap dalam perselisihan, persengketaan tak berkesudahan.

Ketigabelas, perempuan fanatis, “mumillah”

Model perempuan yang tidak mau menerima perubahan, nasehat dan masukan meskipun itu benar dan ia membutuhkannya. Ia tidak mau menerima perubahan dari suaminya atau anak-anaknya, baik dalam urusan pribadi atau urusan rumah tangganya secara umum. Model seperti ini memiliki kemampuan untuk nerimo dengan satu kata, satu cara, setiap harinya selama tiga puluh tahun, tanpa ada rasa jenuh!


Ketika Laki-Laki Memilih

Dari hasil survai di Eropa itu, dikomparasikan dengan pendapat banyak kalangan dari para pemuda, para suami seputar hasil survai itu, maka bisa kita lihat pendapatnya sebagai berikut:

Sebut saja namanya Muhammad Yunus (36) tahun, menikah semenjak sebelas tahun, ia berkomentar:

“Saya sepakat dengan hasil survai itu. Terutama sifat “banyak omong dan malas”. Tidak ada sifat yang lebih jelek dari perilaku mengumbar omongan, tidak bisa menahan lisan, siang-malam dalam setiap perbincangan, baik berbincangan serius atau canda, menjadikan suaminya dalam kondisi sempit, dan marah, apalagi suaminya telah menjalankan pekerjaan berat di luar, di mana ia membutuhkan ketenangan dan kejernihan pikiran di rumah.

Saya baru mengetahui dari rekan saya yang memiliki istri model ini, tidak bisa menahan lisannya di setiap pembicaraan, setiap waktu dan dengan semua orang. Suaminya telah menasehatinya berulang kali, agar bisa menahan omongan, namun ia tidak menggubris nasehatnya sehingga berakhir dengan perceraian.

Pada umumnya model istri yang banyak omong, itu lebih pemalas di rumahnya. Bagaimana ia menggunakan waktu yang cukup untuk mengurus rumah tangga dan anak-anaknya, sedangkan ia sibuk ngobrol dengan para tetangga dan teman?!"

Jamil Abdul Hadi, sebut saja namanya begitu, insinyur berumur 34 tahun, menikah semenjak 9 tahun, ia berkomentar:

“Tidak ada yang lebih buruk dari model perempuan yang materialistis, selalu menuntut setiap saat, meskipun suaminya menuruti permintaannya, ia terus meminta dan menuntut!!

Tipe perempuan ini, sayangnya tidak mudah menerima perubahan menuju lebih baik, tidak gampang menyesuaikan diri dalam kehidupan apa adanya. Boleh jadi kondisi demikian berangkat dari asuhan semenjak kecilnya. Saya tidak diuji Allah dengan model perempuan seperti ini, namun justru saya diuji dengan istri perasa dan cengeng."

Dengan tertawa Mahmud as Sayyid menerima hasil survai ini, ia berkomentar:

“Demi Allah, sungguh menarik ada lembaga atau Pusat Study yang menggelar survai dengan pembahasan seputar ini. Survai ini meskipun memiki cara pandang dan penilaian yang berbeda-beda, namun terungkap bahwa cara pandang itu satu sama lain tidak saling bertentangan…”

Lain lagi dengan Mahmud, sebut saja begitu. Belum menikah, mahasiswa di universitas. Ia berujar tentang mimpinya, yaitu istri yang akan mendampinginya, ia mengharap:

“Pasti saya menginginkan tidak mendapatkan istri yang memiliki tipe sebagaimana hasil survai di atas. Tetapi mengingat tidak ada istri yang “sempurna”, karena itu saya masih mungkin menerima tipe perempuan di atas kecuali tipe perempuan pembohong. Istri pembohong akan lebih mudah mengkhianati, tidak menghormati hubungan suami-istri, tidak memelihara amanah, tidak bisa dipercaya. Setiap orang pada umumnya tidak menyenangi sifat bohong, baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri. Karena akan berdampak negative pada anak-anaknya, karena anak-anak akan meniru dirinya!!"

Ketika ia ditanya tentang tipe perempuan “kelaki-lakian”. Perempuan yang menyerupai laki-laki dalam segala hal dan menyanginya dalam segala hal. Ia berkomentar:

“Tidak masalah berhubungan dengan istri tipe seperti ini, selagi sifat “kelaki-lakian” tidak mengalahkan dan mengibiri sifat aslinya. Selagi ia masih mengemban kerja dan tugas yang sesuai dengan tabiat perempuan, seperti nikah, mengandung, menyusui dan lainnya.”

“Perempuan “kuat” menurut saya akan mengetahui bagaimana ia mengurus kebutuhan dirinya, mengarahkan dan mengatur keluarga dan anak-anaknya. Akan tetapi segala sesuatu ada batasnya yang tidak boleh diterjangnya. Sebagaimana seorang perempuan tidak suka terhadap laki-laki yang “banci”, seperti berbicara dan berperilaku layaknya perempuan. Sebagaimana juga laki-laki tidak suka terhadap perempuan yang mengedepankan sifat kelaki-lakian… segala sesuatu ada batas ma’kulnya. Jika melampaui batas sewajarnya, yang terjadi adalah dampak negatif.

Tidak ada seorang istri yang “sempurna”. Dan memang ada berbedaan cara penilaian dan cara pandang antara laki-laki satu dengan laki-laki lain. Namun ada kaidah umum yang disepakati oleh samua. Yaitu menolak sikap bohong, penipu, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.”

Semoga tulisan ini menambah informasi dan pengalaman buat para istri dan calon istri. Dan tentunya bermanfaat bagi laki-laki, sehingga para suami mampu bermuasyarah atau berhubungan dengan istri-istrinya dengan cara makruf, sebagaimana yang digariskan dalam Al-Qur’an. Allah swt berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. An-Nisa’: 19)

Dan karena perempuan “syaqaiqur rijal” saudara kembar laki-laki, yang seharusnya saling mengisi dan menyempurnakan, untuk membangun “baiti jannati” sehingga keduanya mampu bersinergi untuk mewujudkan citanya itu dalam pengembaraan kehidupan ini. Allahu a’lam.

Sunday, August 24, 2008

13 Sifat Laki-laki yang Tidak Disukai Perempuan

Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifat-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.

Pertama, Tidak Punya Visi

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’: 1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.

Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

Kedua, Kasar

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalu dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.

Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyiksa seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, Sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak prerogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesabaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena perilaku sombong seorang suami.

Keempat, Tertutup

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, Nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila Nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorang pun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, Plin-plan

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plin-plan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Pembohong

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para suami pembohong.

Ketujuh, Cengeng

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cengeng cenderung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut

Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas

Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah dengan cara mengirim SMS atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha Indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi, istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan keharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bau yang tidak enak. Allahu a’lam. [ ]

Wednesday, August 6, 2008

Menjadi Lulusan Madrasah Ramadhan dengan Gelar M.Tq.*


Oleh : Cahya Herwening


Bulan Sya’ban telah kita masuki. Dalam bulan-bulan mulai bulan Rajab, pendahulu kita menganjurkan untuk melantunkan do’a:
“Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’bana wa balighna Ramadhana.”
Yang artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.”

Dalam lafadz do’a di atas terdapat kata “berkahilah”. Apakah makna dari “berkah” itu? Berkah memiliki makna ziyadatul hasan atau ziyadatul khair, yaitu bertambahnya kebaikan. Sesuatu itu bisa disebut berkah manakala ada sebuah peningkatan atau bertambahnya kebaikan yang dikarenakan sesuatu itu. Misalnya seseorang memiliki keberkahan rizki, itu berarti rizki tersebut memberikan tambahan kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Entah dengan rizki itu dia dapat menjalankan ibadah dengan lebih baik, atau menunaikan hak orang-orang fakir dan miskin, dan seterusnya. Yang jelas ada nilai kebaikan dari sesuatu itu, yang tentunya kebaikan tidak hanya di dunia namun juga di akhirat.

Kaitannya dengan bulan Rajab dan Sya’ban ini, kita memohon kepada Allah keberkahan agar ada suatu pertambahan kebaikan dalam diri kita. Sehingga nantinya juga siap dalam memasuki sebuah masa tarbiyah selama sebulan yang telah diprogramkan Allah secara rutin. Rasulullah saw. pun senantiasa mempersiapkan diri dalam menghadapi Ramadhan ini sejak Rajab, salah satunya dengan memperbanyak puasa. Dan kita, tentunya juga harus melakukan persiapan-persiapan menuju sarana tarbiyah kita, Madrasah Ramadhan ini sehingga nantinya kita dapat memperoleh hikmah Ramadhan.

Kita berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah Ramadhan kami kali ini hamparan taman bunga, tempat kami merasakan indahnya hidup bebas dari segala amarah dan syahwat.”

Ramadhan adalah bulan dimana kita hendaklah melepaskan diri dari amarah dan syahwat. Karena sejatinya berpuasa dalam bulan Ramadhan adalah menahan diri dari syahwat (keinginan) baik mulut, perut dan apa yang ada di bawah perut, serta menahan diri dari amarah. Dua hal itulah yang senantiasa membebani hidup manusia sehingga tidak dapat merasakan hakikat hidup. Ketika kita bisa membebaskan diri dari amarah dan syahwat, maka hidup ini akan terasa enak, nikmat, ringan dalam beramal dan berbuat kebaikan. Nah, hal itulah yang menjadi target kualifikasi dari para lulusan Madrasah Ramadhan. Lalu, bagaimanakah persiapan kita agar dapat menjadi murid yang baik di Madrasah Ramadhan?

Spesifikasi Madrasah Ramadhan
Program Madrasah Ramadhan dirancang untuk menghasilkan lulusan dengan gelar M.Tq. (Manusia Taqwa atau Master of Taqwa juga boleh dech ^___^). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Dalam ayat itu terdapat kata “la’alla”. Kata “la’alla” ini jika yang mengucapkan manusia maka memiliki makna harapan. Jadi “la’allakum tattaquun” berarti “semoga kamu bertaqwa”. Akan tetapi lain halnya jika yang mengatakan “la’alla” adalah Allah, maka bukan bermakna harapan lagi namun bermakna kepastian (insya’i). Sehingga “la’allakum tattaquun” berarti “agar kamu bertaqwa”.



Dari makna “la’alla” di atas dapat dipahami bahwasannya menjadi taqwa itu adalah kepastian, meraih gelar M.Tq. adalah sebuah keniscayaan. Namun tentu saja dengan syarat, telah memenuhi kualifikasi tertentu. Sebagaimana kita ingin meraih gelar sarjana, tidak mungkin kita mencapainya tanpa kita melaksanakan aturan-aturan sebagaimana yang ditetapkan, misalnya kita sering sekali mombolos kuliah, tidak mengerjakan tugas yang diberikan dosen, tidak mengikuti ujian dan sebagainya. Untuk meraih gelar M.Tq. pun kita diharuskan memenuhi beberapa kualifikasi.

Gelar M.Tq. akan dianugerahkan jika memenuhi kualifikasi berikut ini.
a.Tawadhu’
Kesadaran bahwa seluruh kelebihan dan keistimewaan yang ada pada diri kita bukanlah alat untuk menyombongkan diri.

b.Qana’ah
Selalu menerima dengan lapang apa saja yang Allah karuniakan. Mendekap suka maupun duka dengan kadar kemesraan yang sama.

c.Wara’
Menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah. Pada bulan Ramadhan, yang halal saja (makan dan minum) ditahan apalagi yang haram.

d.Yakin
Bahwa sesuangguhnya musibah yang ditimpakan kepada diri, suatau saat akan sirna tenggelam di batas cakrawala kehidupan yang tunduk di hadapan Kehendak dan Keagungan Allah.

Coba kita lihat dari empat produk dari puasa (natiijatush-shaum) yakni tawadhu’, qana’ah, wara’ dan yakin, apabila ditulis huruf bahasa Arab maka huruf pertama dari masing-masing kata tersebut adalah ta’, qaf, wawu dan ya’. Apabila huruf-huruf pertama itu disusun, maka akan terbentuk kata TAQWA. Inilah sebenarnya sesuatu yang akan dicapai dari ibadah puasa itu.

Mari kita kaitkan dengan empat hal yang PASTI akan terjadi dalam hidup kita, yakni:
1.Kita membutuhkan sesama manusia.
Kita tidak bisa hidup sendiri. Coba kita ambil contoh salah satu kebutuhan pokok kita yakni sandang, dan kita ajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan asal muasal sandang itu. Baju yang kita pakai itu siapa yang membuat? Baju itu dibuat dari kain, nah siapa yang membuat kain? Kain itu dari benang-benang yang dirajut, lalu siapa yang merajut benang itu? Benang itu dipintal dari kapas, lalu siapa yang memintal kapas itu? Kapas itu diambil dari pohon kapas, lalu siapa yang menanamnya? Dalam budidaya tanaman kapas, dibutuhkan beberapa alat, juga pupuk, obat dal lain-lain. Siapa saja yang membuat itu? Nah, jika dirunut ke asal-muasal suatu barang yang kita punya, maka mungkin dia melibatkan banyak sekali manusia dalam proses pembuatannya. Coba bayangkan jika kita hidup sendirian.

Kita membutuhkan orang lain, maka harus bisa diterima oleh orang lain. Agar bisa diterima oleh sesama manusia, maka membutuhkan sifat tawadhu’ (rendah hati). Orang yang tawadhu’ akan disukai oleh orang lain, berbeda dengan orang yang angkuh dan sombong, biasanya dibenci orang lain.

2.Kita membutuhkan harta
Bagaimana kita bisa hidup tanpa harta? Semua benda fisik yang kita miliki sejatinya adalah harta. Namun, semua harta di dunia tidak harus dimiliki manusia agar manusia merasa cukup. Banyak orang salah mengira bahwa dia akan puas manakala memiliki banyak harta seperti rumah mewah, mobil berlimpah, simpanan di bank meruah-ruah, istri... ya nggak hanya satu lah. Nyatanya banyaknya harta itu tidak membuat bahagia, karena tidak pernah merasa cukup.

Nah, manusia akan senantiasa merasa cukup manakala ada sifat qana’ah dalm dirinya. Orang yang qana’ah dapat menerima apa saja dan bagaimana saja keadaan dirinya. Setelah berusaha apa saja yang dia bisa, dia akan menyerahkan sisanya pada Allah dan menerima apa saja yang dikaruniakan padanya dan mensyukurinya. Orang qana’ah ini akan hidup pas-pasan, pas ada pas butuh, dan pas tidak ada pas tidak butuh. Karrena dia tidak mau mengada-adakan yang tidak ada, dan berpikir pada apa saja yang ada.

3.Kita membutuhkan Allah swt.
Selaku makhluk kita tentunya sangat membutuhkan Allah swt. Dialah yang menciptakan kita, menjaga kita, memberi rizki pada kita, menolong kita, mengabilkan do’a kita, memberikan yang kita ingini ... apa saja. Maka mau jadi apa kita kalau tidak membutuhkan Dia?

Orang yang membutuhkan Allah hendaknya berusaha semaksimal mungkin agar dincintai Allah. Dengan dicintai Allah, maka semua harapannya akan terpenuhi. Agar dicintai Allah maka haruslah wara’ karena wara’ adalah salah satu wujud ketaatan pada-Nya.

4.Kita membutuhkan ketenangan
Ketenagan adalah hal yang kita dambakan. Itulah salah satu faktor yang akan membuat kita bahagia. Ketenangan hidup dicapai manakala manusia mempunyai keyakinan, bahwa apapun yang Allah berikan adalah demi kebaikan dirinya. Meskipun Allah memberikan musibah, pastilah itu juga demi kebaikan manusia. Meski pula apa yang kita harapkan belum terkabulkan. Allah tahu apa yang terbaik bagi kita. Keyakinan seperti itulah yang akan memberikan ketenangan pada diri manusia.

Ramadhan adalah hamparan waktu yang dibentangkan Allah Ta’ala agar kita bisa menjadi tawadhu’, qana’ah, wara’ dan yakin. Maka hendaknya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk menjadi murid yang baik dalam Madrasah Ramadhan dan akhirnya nanti lulus dengan spesifikasi tersebut.

Ramadhan yang akan datang adalah bagai tamu agung, yang tentu harus disambut dengan sebaik-baiknya. Ada adab yang berlaku untuk menyambut tamu yang juga berlaku untuk menyambut tamu agung Ramadhan.
1.Tidak membiarkan rumah kita seperti rumah hantu
Suatu hari kita berkunjung ke rumah teman kita. Ternyata setelah sampai ke sana, halaman rumahnya penuh dengan daun-daun kering tanda tidak pernah disapu. Saat masuk, ternyata sarang labah-labah memenuhi sela-sela ruangnya. Banyak juga penghuni rumah selain manusia, ada tokek, banyak nyamuk, berkeliaran tikus, kecoak. Belum lagi saja terlihat seperti mau roboh. Coba, apa yang ada di benak kita sebagai tamu?

Maka jangan biarkan ’rumah’ yang kita miliki seperti itu. Kita jadikan rumah yang berujud hati kita, bersih, indah lagi menawan. Maka untuk menyambut tama Ramadhan kita, hati kita hendaknya bebas dari segala kotoran, bersih dari segala penyakit hati.

2.Tidak menjadikan rumah kita, rumah yang ’tertutup’.
Bagaimana tamu mau masuk ke rumah yang tertutup? Rumah yang tertutup bisa jadi akan memberikan kesan bahwa si empunya rumah tidak menerima tamu. Sehingga yang ingin bertamu menjadi segan. Berbedadengan rumah yang senantiasa terbuka, maka kapanpun ada tamu pasti akan disambut.

Maka jadikan rumah itu rumah yang senantiasa terbuka. Ketika rumah itu , yaitu hati yang mudah tersentuh dengan segala kebaikan dan kemuliaan.

3.Tidak membiarkan rumah kita, rumah yang  gelap gulita
Agak meragukan juga melihat rumah yang gelap gulita. Tamu akan ragu apakah di dalamnya ada penghuninya ataukah tidak. Dan yang akan bertamu akan segera berpikir, rumah itu sedang kosong sehingga mau tidak mau dia tidak jadi bertamu di rumah itu.

Untuk menyambut tamu kita, kita terangi rumah (hati) kita dengan penerangan terbaik. Dan penerangan terbaik adalah dengan cahaya ingat mati dan rindu akhirat. Tanda hati yang bertabur cahaya adalah:
a.telah kembali ke kampung akhirat, yakni selalu membayangkan atau berangan-angan telah berada di akhirat (merasakan suasana surga).
b.Bersih dari segala tipu daya dunia
c.Selalu siap kapan pun kematian datang menyapa

4.Kita sambut semua tamu yang datang dengan ’senyum’
Senyum itu adalah rasa bahagia hati kita menyambut tamu Ramadhan.

5.Kita suguhi tamu kita dengan suguhan terlezat dan minuman ternikmat
Suguhan yang disukai oleh Ramadhan:
a.tilawah Al-Qur’an
b.shadaqah dan infaq
c.memperbanyak shalat
d.puasa dengan ihtisab (ikhlas)

--0--


* Materi ini disampaikan oleh Ust. Syatori Abdurrouf dalam kajian rutin Kamis sore di PPMi Darush Shaalihat, pada 10 Juli 2008 (7 Rajab 1429 H). Dituliskan oleh Cahya Herwening dengan perubahan sesuai ingatan dan apa yang ada dalam catatan, juga perubahan style penyampaian dan tambahan penjelasan sesuai kebutuhan ^_^.

Friday, July 11, 2008

Empat Bingkai Kehidupan Rumah Tangga*

Oleh: Ust. Syatori Abdurrouf**

Seorang pelukis yang akan melukis tentu akan mempersiapkan terlebih dahulu apa-apa saja yang dibutuhkannya untuk melukis. Dia akan mencari kanvas tempat menorehkan catnya, dia juga membutuhkan kuas dan cat minyak. Selain persiapan fisik, sekalipun lukisan yang akan dibuatnya bersifat abstrak, tetap butuh sebuah gambaran tentang maksud apa yang terkandung di dalamnya. Minimal tema dari lukisan tersebut. Sehingga nantinya para penikmat lukisannya akan dapat mengambil pesan yang ada dalam lukisan tersebut.

Sebuah lukisan, apalagi yang abstrak, biasanya akan kurang indah dan bernilai rendah jika dia hanya berwujud lukisan dalam selembar kanvas. Namun akan sangat berbeda jika lukisan itu telah diletakkan dalam bingkai yang indah, maka nilainya akan berlipat ganda. Taruhlah misalnya lukisan tanpa bingkai lukisan itu berharga tiga ratus ribu rupiah. Maka jika dibingkai dengan indah, maka bisa jadi harganya mencapai lima juta rupiah, meskipun harga bingkai itu sendiri hanya beberapa ratus ribu atau bahkan hanya puluhan ribu. Itulah manfaat adanya bingkai itu, selain melindungi lukisan, akan dapat mempertinggi nilai sebuah lukisan.

Orang yang menikah adalah seperti halnya dua orang yang membuat sebuah lukisan abstrak. Mereka tidak tahu seperti apakah bentuk kehidupan nantinya setelah menikah itu, yang masih menjadi sesuatu yang misteri. Kemudian lukisan itu selesai dalam waktu sangat singkat, sebagaimana ijab qabul yang membutuhkan hanya beberapa menit, padahal membutuhkan waktu persiapan yang tidak sebentar. Bisa jadi kedua pelukis abstrak itu mempersiapkannya selama bertahun-tahun, hanya untuk sebuah even yang sesingkat itu.

Seperti halnya sebuah lukisan, kehidupan rumah tangga pun tidak akan menjadi indah manakala tidak ada bingkainya. Bingkai lukisan ada empat buah, yakni atas, bawah, kiri dan kanan, pun begitu pula bingkai kehidupan rumah tangga. Empat bingkai itu insya Allah akan membuat sebuah pernikahan dan kehidupan rumah tangga menjadi indah dan bernilai tinggi, bukan hanya di hadapan manusia tapi juga di hadapan Allah Ta’ala.

Apa sajakah keempat bingkai mahligai pernikahan itu? Empat bingkai dalam kehidupan rumah tangga itu ialah:
1. Pikiran yang lurus
Yang dimaksudkan dengan pikiran yang lurus adalah menjadikan segala sesuatu sebagai sarana untuk mendapatkan cinta dari Allah. Mengorientasikan semuanya sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah. Mengesampingkan semua hal yang tidak bisa dijadikan sarana untuk bertaqarrub kepada Allah swt.

Kehidupan rumah tangga merupakan kehidupan yang akan penuh lika-liku, cobaan dan ujian. Mungkin saja suami akan menemui hal-hal yang bisa membuatnya marah, sebaliknya istri mendapati sesuatu yang membuatnya jengkel. Namun orang yang memiliki pikiran lurus justru akan memanfaatkan semua situasi seperti itu. Karena orientasinya adalah mendapat cinta Allah, maka dia akan berusaha apapun agar dapat membuat Allah mencintainya. Maka ketika  berada dalam situasi yang membuatnya marah, dia akan bersabar, karena dengan bersabar Allah akan mencintainya. Begitu pula jika sedang jengkel, maka kejengkelan itu bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah manakala dia mampu meredamnya demi mendapat ridho-Nya.

Semoga Allah merahmati seorang wanita yang ditemui oleh salah seorang shahabat Rasulullah saw. Wanita ini adalah wanita yang muda dan sangat cantik. Dia mengatakan kepada shahabat bahwa dia beruntung memiliki seorang saumi seperti suaminya, dan dia merasa bahagia. Ketika sang shahabat ini berkunjung ke rumahnya, dia dapati seorang laki-laki yang sudah tua, bertampang buruk, hitam dan miskin karena rumahnya sangat sederhana. Sudah begitu, tambah lagi keburukannya yakni dia suka marah-marah kepada istrinya. Tiada lain laki-laki itu adalah suami si wanita tadi. Meski dengan kondisi seperti itu, sang wanita tetap melayani suaminya dengan senyum dan pelayanan terbaik. Dia menanggapi kata-kata kasar suaminya dengan kehalusan budi pekerti yang baik.

Sang shahabat heran, bagaimana bisa si wanita mengatakan bahagia padahal kondisi suaminya seperti itu. Maka bertanyalah dia, “wahai fulanah, bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa kau merasa beruntung dan bahagia dengan kehidupanmu sekarang, padahal suamimu itu tua, buruk rupa, miskin dan tidak baik akhlaknya?” Seketika itu juga wanita itu menunjukkan muka yang tidak senang.

“Tuan, jikalau Tuan datang ke tempat ini hanya ingin membuat saya tidak ikhlas menjalani kehidupan saya, sebaiknya Tuan pulang saja.” Sang shahabat terkejut mendapat tanggapan seperti itu dari si wanita. Segera dia meminta maaf, namun tetap ingin mendengar jawaban pertanyaan yang diajukannya.

“Baiklah, akan saya jawab pertanyaan Tuan. Saya adalah orang yang sangat menginginkan cinta dari Allah ‘Azza wa Jalla, oleh karena itu saya senantiasa berusaha memperbaiki diri saya sehingga menjadi orang yang baik di mata-Nya. Namun ada satu hal yang sejak dahulu sangat sulit saya lakukan, yakni menjadi orang yang sabar. Apapun yang saya usahakan belum bisa membuat saya menjadi penyabar. Justru semenjak saya bertemu dengan suami saya yang sekarang ini, saya bisa belajar bersabar. Bersabar terhadap segala kondisi dan perlakuannya. Dan suami saya inilah yang membuat saya bisa menjadi orang yang sabar, karena saya melakukannya semata-mata untuk mendapatkan ridha dari Allah swt. Dengan begitu saya bisa menjadi orang yang semakin dicintai oleh Allah Ta’ala.”

Subhanallah. Begitu luar biasa sang wanita tersebut. Jadi, dia menikah dengan laki-laki tua, buruk rupa, hitam, miskin dan jelek akhlaknya bukan dengan keterpaksaan namun justru dengan kesadaran. Dan itu semua adalah sarana dia meraih cinta Allah swt. Bagaimana dengan kita?

2. Bingkai yang kedua adalah: Hati yang bersih
Hati yang bersih bermakna tidak membesar-besarkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan akhirat. Dengan kata lain, segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan akhirat tidak perlu menjadi permasalahan. Kita fokus pada hal-hal yang ada hubungannya dengan urusan akhirat.

Karena pernikahan yang baik adalah pernikahan yang tanpa didahului oleh pacaran, maka biasanya ada beberapa hal yang sebelumnya tidak diketahui oleh pasangannya. Misalnya, ternyata setelah menikah menemukan bahwa hidung istrinya kurang mancung 2 cm keluar. Nah, bagi orang yang hatinya bersih tidak akan mempermasalahkan hal seperti itu, karena itu tidak ada hubungannya dengan akhirat. Beda halnya jika saat adzan shubuh, sang pasangan ini tidak segera bangun tapi malah semakin merapatkan selimutnya. Ini baru masalah karena hal seperti ini ada kaitannya dengan akhirat.

Maka hendaknya setiap pasangan dalam rumah tangga mampu menyeleksi mana-mana saja hal-hal yang berhubungan dengan akhirat dan mana saja yang tidak. Sehingga dia mampu memilah mana saja yang perlu diperhatikan, dan mana yang harus dihiraukan. Bukannya mempermasalahkan semua hal termasuk hal-hal kecil. Maka keluarga itu akan menjadi sebuah keluarga yang senantiasa berorientasi akhirat, dan bisa jadi hati-hati mereka telah berada di kampung akhirat jauh-jauh hari sebelum ruhnya.

3. Bingkai yang ketiga adalah: Kata-kata yang indah
Kata-kata yang indah yakni kata-kata yang menentramkan, membuat nyaman atau merasa aman bagi pasangan hidup. Kita contohkan saja seperti apakah kata-kata indah ini.

Pada suatu hari, sang suami harus pergi ke luar kota karena ada tugas-tugas terkait pekerjaannya selama satu bulan. Tentunya sang istri agak khawatir dan was-was, salah satu kekhawatirannya jangan-jangan suaminya ‘buka cabang’ di kota-kota lain. Sehingga sang istri masih kurang merelakan kepergian suaminya.

Suami yang mengetahui hal ini, hendaknya memberikan keyakinan kepada istrinya bahwasannya dia tidak akan apa-apa, dengan memberikan kata-kata yang indah tadi. Sang suami mengatakan, “Dhek, di dunia ini tidak ada wanita selain kamu. Engkaulah satu-satunya wanita di dunia ini bagiku. Kamulah wanita tercantik untukku dan hanya kamulah wanita yang kucintai di dunia ini.” Mendengar kata-kata itu si istri akan tenang dan dapat melepas kepergian suaminya dengan perasaan aman.

Contoh lainnya, suatu hari sang suami menemui masakan istrinya yang asin. Entah karena salah memasukkan gula, atau karena istrinya sengaja untuk menguji. Maka suami itu mengatakan sambil senyum, “Dhek, masakanmu hari ini benar-benar luar biasa, lain dari yang lain.” Maka bisa jadi hati si istri berbunga-bunga. Tapi karena ingin memberikan pelajaran juga, maka, “ …. Karena aku ingin belajar itsar, maka makanlah sebagian makanan ini ya. Sini aku suapi…” Si istri akan tahu kesalahannya, namun tetap senang karena sang suami memberitahu dengan cara yang baik, bukan dengan marah-marah, misalnya dengan perkataan, “dasar istri apa kamu, masak saja tidak becus!” yang tentu saja sangat menyakitkan.

Nah, bagi pasangan yang sedang membina rumah tangga, maupun pada para pemuda dan pemudi yang belum menikah, belajarlah membuat kata-kata indah ini. Belajarlah membuat kata-kata yang enak didengar, menyejukkan, menentramkan dan membuat merasa aman. Jika nanti dibutuhkan pada saatnya, sudah siap dan dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan lebih baik.

4. Bingkai yang terakhir adalah: Perbuatan yang terbaik
Karena seseorang yang membina kehidupan rumah tangga memiliki pikiran lurus yakni menjadikan semuanya sebagai sarana taqarrub ilallah, dan berhati bersih yakni tidak membesar-besarkan apa saja yang tidak ada hubungannya dengan akhirat, maka dia bisa melakukan perbuatan terbaik kepada pasangan hidupnya. Bukan hanya perbuatan yang baik, tapi dipilih di antara yang baik itu perbuatan yang terbaik. Pasangan hidup tentu saja akan sangat bahagia mendapati suami atau istrinya ini berbuat yang terbaik kepadanya.

Seorang suami yang pulang dari kerja dalam keadaan lelah, maka akan sirna kelelahannya mendapati istrinya menyambutnya dengan tergopoh-gopoh dan wajah yang manis lagi ceria. Apalagi jika sudah terhidang suguhan berupa minuman hangat dan makanan ringan. Akan sangat berbeda jika sepulang kerja, sudah lelah, si istri cuek dengan muka masam atau cemberut. Yang seperti terakhir ini akan membuat suami tidak betah di rumah.

Pada waktu dini hari, seorang suami bangun dari tidur. Dia melihat istrinya masih terlelap dengan nyenyak. Coba dibangunkan tapi belum bangun juga. Kemudian dia ambil wudhu, setelah itu kembali ke kamar dan membangunkan istrinya dengan percikan air sisa wudhunya sehingga istrinya bangun. Kemudian mengajak istrinya shalat tahajjud bersama. Pun begitu pula dengan si istri, saat bangun suaminya masih tidur. Lalu mencoba membangunkan suaminya namun belum juga bangun. Lalu si istri mengambil wudhu, setelah itu kembali ke kamar dan membangunkan suaminya dengan percikan sisa air wudhunya. Setelah suaminya bangun, diajak untuk shalat tahajjud bersama. Ah alangkah indahnya.

Bagian dari perbuatan yang baik adalah dalam hal panggilan. Seyogyanya pasangan suami istri memiliki panggilan spesial satu sama lain. Misalnya Mas-Adik, Abang-Adik, dan sebagainya. Meski nantinya sudah memiliki anak, panggilan ini jangan berubah menjadi Papa-Mama, Ayah-Ibu, Abbi-Ummi, atau yang lain karena dapat mengurangi kemesraan. Boleh saja memanggil seperti itu manakala di depan anak-anaknya, namun ketika sedang berdua, panggilan spesial ini tetap harus dipertahankan, bahkan hingga tua nanti.

Cara yang terbaik juga bisa diambil suami manakala ingin menegur, mengingatkan atau menasehati istrinya. Suatu saat, setelah shalat tahajjud bersama, kemudian membacakan do’a yang diamini oleh istrinya. “Ya Allah, jadikanlah istriku ini istri yang shalihah. Jadikan dia istri yang dapat menjadi penyejuk hati suaminya. Jadikan dia orang yang sabar. Jangan jadikan dia orang yang suka mengomel. ….” Pastilah si istri akan meng-amin-i, tidaklah mungkin akan menyela dan mengatakan, “Mas, kamu nyindir aku ya?” atau mengatakan “tidak amin ya Allah…”. Dari situlah istri bisa bercermin dan memperbaiki dirinya. Suatu saat pun istri tidak boleh kalah, “Mas, kan Mas sudah sering yang menjadi pembaca do’a. Sekarang giliranku yang membacakan do’a dan Mas yang meng-amin-i ya.” Dengan begitu keduanya bisa saling mengingatkan dengan cara yang terbaik dan bisa diterima keduanya dengan cara terbaik pula.

Nah, itulah empat bingkai yang Insya Allah dapat menjadikan lukisan abstrak sebuah kehidupan rumah tangga menjadi sesuatu yang indah dan tinggi nilainya. Semoga Allah Ta'ala merahmati kita semua sehingga bisa mengusahakan adanya empat bingkai tersebut ada dalam kehidupan rumah tangga kita semua, sekarang (bagi yang sudah berkeluarga) atau pun nanti (bagi yang akan). Wallaahu a'lam. [ ]



* Disampaikan oleh Ust. Syatori Abdurrouf dalam khutbah nikah di walimatul ‘ursy-nya Mbak Muawanah Fatmawati, 29 Mei 2008. Ditulis ulang oleh Cahya Herwening dengan beberapa tambahan.

** Ust. Syatori Abdurrouf adalah pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswi Daarush Shalihat, Pogung, Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Saturday, March 15, 2008

PARA PERINDU BIDADARI

Banyak pemimpin yang sangat kuat dan berwibawa, namun jatuh takluk terhadap apa yang dinamakan wanita. Tersebutlah Raja Louis XIV, XV dan XVI misalnya, juga Napoleon, tak lupa Bill Clinton. Sejak zaman Nabi Adam as. pun, fakta bahwa laki-laki bisa ditundukkan oleh wanita pun sudah ada. Contoh paling jelas adalah ketika Adam akhirnya tergoda juga oleh bujukan Hawa untuk memakan buah quldi, yang oleh Iblis disebut sebagai buah yang akan memberikan keabadian sehingga bisa hidup selamanya dan menikmati keindahan surga.

Para aktivis dakwah pun 'tidak ketinggalan'. Dengan makin tingginya orbit dakwah dan bertambahnya fase dakwah, para aktivis dituntut untuk dapat lebih tahan terhadap berbagai ujian dan godaan. Termasuk godaan kenikmatan dunia yang ditawarkan oleh para musuh dakwah. Dari godaan-godaan yang ada, baik itu berupa harta, kekayaan, tahta, kedudukan, derajat, dan lainnya, ternyata yang paling tokcer adalah godaan wanita. Para pejuang yang pada awalnya istiqamah ternyata bisa tumbang bin rontok juga oleh godaan yang satu ini.
 
Allah Swt berfirman dalam surah Ali 'Imran [3] ayat 14:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."


Allah SWT Maha Tahu terhadap kecenderungan makhluk-Nya. Tentunya telah jauh-jauh hari disiapkan oleh-Nya, iming-iming paling mak nyuusss bagi mu'min yang istiqamah di jalan-Nya, yang berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Salah satu balasannya yakni para wanita terbaik, tercantik, terindah, termulia akhlaknya, tersuci dan ter-ter yang lain di jannah-Nya nanti. Sungguh akan menjadi iming-iming yang bikin meleletkan lidah bagi orang yang mengerti. Wanita-wanita itu disebut Huurun 'Iin, bidadari bermata jeli. Sebutan itu ada dalam Al-Qur'an, coba perhatikan ayat-ayat berikut:

 
Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.”
(Qs. Al-Waaqi’ah [56]: 22-23)

 
mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (Qs. Ath-Thuur [52]: 20)

 
Huurun 'Iin, atau bidadari bermata jeli adalah bidadari-bidadari yang paling cantik di antara yang tercantik, yang kecantikannya menjadi pembicaraan di antara bidadari-bidadari yang lain. Atau menjadi ratunya para bidadari. Sebagaimana riwayat dari Atha' as Sulami. Atha’ as Sulami berkata kepada Malik bin Dinar, “Wahai Abu Yahya, buatlah kami rindu dengan surga!” Kata Malik bin Dinar, “Wahai Atha’, sesungguhnya di surga terdapat bidadari yang kecantikannya menjadi bahan pembicaraan bidadari-bidadari surga yang lain. Sekiranya Allah memberlakukan kematian terhadap penghuni surga, meka mereka akan mati karena melihat kecantikannya.”

Subhanallah, sungguh luar biasanya kecantikan Bidadari Bermata Jeli, sehingga diandaikan dapat membuat orang bisa mati terpesona. Dan mereka akan dihadiahkan pada para mujahid, para pejuang fii sabilillah yang syahid di jalan-Nya. Siapa berminat?

Sungguh, bukan hal yang memalukan, dan justru sebaliknya, sebuah keutamaan bagi para aktivis dakwah (ikhwan) untuk rindu kepada Huurun 'Iin. Sebagaimana pada zaman para shahabat yang sangat merindukan mereka. Simak kisah berikut ini.

Kata Rabi’ah bin Kaltsum bahwa berkata kepadaku Ibnu Al Hawari yang berkata bahwa berkata kepadaku Al Hadrami, aku pernah tidur di teras rumah dengan Abu Hamzah. Aku lihat Abu Hamzah membolak-balikkan badannya di atas kasurnya hingga pagi hari. Aku katakan kepadanya, ”Wahai Abu Hamzah, kulihat Engkau tidak bisa tidur tadi malam kenapa?” Kata Abu Hamzah, ”Ketika aku merebahkan badanku, seolah-olah bidadari yang bermata jeli datang kepadaku hingga seolah-olah aku menyentuh kulitnya, padahal kenyataannya aku menyentuh kulitku sendiri.” Lalu hal ini aku ceritakan kepada Abu Sulaiman. Kata Abu Sulaiman, ”Orang tadi benar-benar rindu kepada bidadari-bidadari yang bermata jeli.”

Juga kisah tentang adanya orang yang meninggal karena menangis akibat kerinduannya yang amat sangat pada bidadari surga yang bermata jeli. Ibnu Abu Dunya menyebutkan dari Shalih Al-Muri dari Zaid Ar-Raqasyi yang berkata, ”Diceritakan kepadaku bahwa ada cahaya yang memancar di surga. Tidak ada satu tempat pun di surga kecuali cahaya tersebut masuk ke dalamnya.” Dikatakan, ”Cahaya apakah ini?” Kata Zaid Ar-Raqasyi, ”Itu adalah cahaya bidadari yang bermata jeli yang sedang tertawa di hadapan suaminya.” Kata Shalih, ”Ada seorang laki-laki di pojok majelis menangis dan menangis hingga meninggal dunia lantaran mendengar cerita tersebut”.

Wahai para mujahid, wahai para aktivis dakwah, jadilah orang yang merindu pada bidadari bermata jeli. Dan lampiaskan kerinduan itu pada berkualitasnya segala amal ibadah dan dakwah. Dan juga jadilah sebagai orang-orang yang dirindukan oleh para bidadari itu.

Ibnu Mubarak berkata bahwa berkata kepadaku Auza’i dari Yahya bin Abu Katsir yang berkata, ”Sesungguhnya bidadari-bidadari yang bermata jeli menunggu suaminya masing-masing di pintu-pintu surga. Kata mereka, ”Aduh betapa lamanya kami menanti kedatangan kalian. Kami selalu ridha dan tidak cemberut selama-lamanya. Kami tetap tinggal bersamamu dan tidak berpisah denganmu selama-lamanya. Kami kekal abadi dan tidak mati selama-lamanya”. Ia mengucapkan yang demikian dengan suara yang paling merdu yang pernah didengar telinga. Kata bidadari yang bermata jeli, ”Engkau adalah kekasihku dan aku adalah kekasihmu”.
 
Oh, Huurun 'Iin, betapa aku rindu padamu!! [ ]

 

Rujukan:

Al Qur’an Al Karim
 
Etika Jama’ah: Telaah Evaluatif Kedisiplinan terhadap Rambu-rambu Jama’ah Dakwah; sub bab Jama’ah Perindu Surga, hal. 41-45, karya Nur Ahmad, terbitan Media Insani Press, Solo.


Gambar dari: ashar85.multiply.com

GENERASI PERINDU SURGA


Oleh : Cahya Herwening


Aktivis dakwah adalah orang yang senantiasa bergelut dengan tantangan, hambatan, ujian, beban dan segala tribulasi dakwah yang ada. Semakin tinggi fase dakwah, semakin amanah seorang aktivis dakwah, dan semakin tinggi tingkat keimanannya, maka semua itu akan diikuti dengan semakin berat pula ujiannya. Semua itu untuk membuktikan, sejauh mana tingkat keimanan dan kualitas seseorang. Allah berfirman:

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
(Qs. Al-'Ankabuut [29]: 2-3)

Karena sebuah sunatullah dakwah, bahwa dakwah adalah jalan yang panjang nan mendaki, berat bebannya, banyak ujiannya dan sedikit orang yang mau terlibat di dalamnya, maka dibutuhkan bekal bagi kader dakwah agar bisa istiqamah di jalan itu. Banyak sekali hal-hal yang harus disiapkan, meliputi bekal ruhiyah, ma'nawiyah, fikriyah dan jasadiyah. Baik itu bersifat aqidah wal imaniyah, ilmiyyah wa tsaqafiyah, riyadhiyah, maaliyah, dan sebagainya.

Salah satu bekal mendasar adalah bekal imani. Bekal inilah yang menjadi pondasi dasar seorang  mu'min yang berjuang di jalan Allah SWT agar tetap survive dan dapat meraih cita-cita mulianya. Dari berbagai aspek keimanan, salah satunya adalah tawazunnya antara khauf dan raja'. Khauf (takut) akan siksa-Nya, azab-Nya, balasan atas dosa dan maksiat dan takut terhadap neraka-Nya. Raja' (berharap) pada ampunan-Nya, rahmat-Nya, ridha-Nya, balasan atas amal shalih dan surga-Nya. Keduanya harus ada dan berjalan seimbang.

Untuk memelihara khauf dan raja' dalam pribadi manusia, Allah telah membantu dengan memberikan visualisasi yang sangat jelas terhadap pelbagai siksa, azab, keadaan alam kubur, yaumil akhir, suasana di neraka dan surga serta pelbagai nikmat yang dijanjikan-Nya. Sangat banyak ayat dalam Al-Qur'an yang menerangkan tentang hal itu. Dan bagi manusia, beribadah kepada Allah SWT karena takut akan siksa-Nya atau berharap surga-Nya tidaklah menyalahi aqidah, karena masalah itu merupakan bagian dari keimanan itu sendiri.
Begitu pula bagi para aktivis dakwah, seharusnyalah mereka memiliki visualisasi yang jelas, khususnya terhadap balasan yang telah Allah siapkan bagi perjuangannya membela agama-Nya. Yaitu kenikmatan kehidupan di surga, dengan dipakaikan pakaian indah, diberikan istana yang bertatahkan bermacam permata, disediakan aneka makanan dan minuman yang lezat dan bidadari-bidadari yang sangat cantik, suci dan mulia akhlaknya. Mereka sangat paham bahwa Allah SWT telah membeli diri dan harta para pejuang agama-Nya dengan surga-Nya.


"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (Qs. At-Taubah [9]: 111)

Sebagai aktivis dakwah yang menyeru kepada Islam, memberikan peringatan akan neraka Allah SWT, dan memberi kabar gembira akan surga-Nya, sudah sepatutnyalah menjadi generasi yang merindukan surga. Akan terasa sangat janggal ada orang yang menyeru manusia untuk berharap surga dengan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sedang dirinya sendiri tidak merindukan surga-Nya. Maka, para aktivis dakwah hendaknya menjadi yang nomor satu dalam merindu surga. Sebagaimana yang telah terjadi pada generasi terbaik, generasi di zaman kenabian, yakni para shahabat yang sangat rindu akan surga. Perhatikanlah kisah berikut...

Atha’ as Sulami berkata kepada Malik bin Dinar, “Wahai Abu Yahya, buatlah kami rindu dengan surga!” Kata Malik bin Dinar, “Wahai Atha’, sesungguhnya di surga terdapat bidadari yang kecantikannya menjadi bahan pembicaraan bidadari-bidadari surga yang lain. Sekiranya Allah memberlakukan kematian terhadap penghuni surga, meka mereka akan mati karena melihat kecantikannya.” Ucapan Malik bin Dinar itu pun meninggalkan kesedihan dalam hati Atha’.

Ahmad bin Abu Al Hawari berkata bahwa berkata kepadaku Ja’far bin Muhammad yang berkata bahwa hakim pernah bertemu dengan hakim yang lain. Kata hakim yang pertama, ”Apakah engkau rindu dengan bidadari-bidadari yang bermata jeli?” Kata hakim yang kedua, ”Tidak!” Kata hakim yang pertama, ”Rindulah kamu kepada mereka karena cahaya mereka adalah cahaya Allah ’Azza wa Jalla.” Mendengar ucapan tersebut hakim yang kedua tak sadarkan diri lalu diangkut ke rumahnya dan kami mengunjunginya selama sebulan.

Wahai, para aktivis dakwah, wahai generasi pewaris tugas para Rasul, jadilah generasi perindu surga!! [ ]

NB: Baca juga tulisan tentang merindukan bidadari :).


Rujukan:
Al Qur’an Al Karim

Etika Jama’ah: Telaah Evaluatif Kedisiplinan terhadap Rambu-rambu Jama’ah Dakwah; sub bab Jama’ah Perindu Surga, hal. 41-45, karya Nur Ahmad, terbitan Media Insani Press, Solo.