Thursday, December 31, 2009

Ketika ABG+S Bicara Teknologi

diringkas oleh: Ellita Permata W. (Sekjend MITI-Mahasiswa 2009)


Berikut ringkasan dari Seminar Nasional Teknologi 2009 yang digelar di Univ. Brawijaya (kerjasama LSO Ristek EM UB dan MITI-Mahasiswa) pada tanggal 26 Desember 2009. Seminar bertemakan "Generasi Baru IPTEK Indonesia; Menuju Masyarakat Indonesia 2025 yang Cerdas, Kreatif, dan Inovatif" ini menghadirkan perwakilan dari ABG+S (Akademisi, Businessman, Government + Student):
1.      Dr. Warsito P. Taruno (staf khusus Menristek, penerima Bakrie Award bidang Teknologi, ketua MITI)
2.       Dr. Edi Sukur (direktur Edwar Technology, Ketua Community Development MITI)
3.       Dr. Luthfi Ja’far (akademisi Univ. Brawijaya)
4.       Aldani Malau, S.T. (presiden MITI-Mahasiswa 2009)



Berita foto: peserta tengah menyimak pemaparan dari para pembicara. Seminar nasional ini dihadiri oleh hampir 300 peserta dari lokal UB dan dari 53 kampus undangan MITI-Mahasiswa.


RISTEK VISION 2014 (by Dr. Warsito)
……………………

Bayangkan jurnal yang dihasilkan oleh Indonesia selama 10 tahun (1992-2002) adalah sebanyak 3.000-an jurnal dari 50.000-an jurnal. Diharapkan lulusan univ ke depan itu mereka siap untuk menerima lamaran kerja, bukan lulus kemudian berlomba-lomba melamar kerja.

Grand inovasi pemuda, pemenangnya tahun ini adalah dari UB. Mereka mengkoordinir basis produksi masyarakat yang membuat mie dari rumput laut, mie ini jelas lebih sehat dari mie yang selama ini telah ada. Mereka melakukan pendampingan, pengemasan, pengawetan, quality control dan pemasarannya. Ini adalah kerja yang sangat pas untuk lulusan S1. Target kita MITIM 100 inovasi dalam setahun ini. Program MITI – COMDEV akan dijadikan program nasional karena program yang sangat luar biasa.

Inovasi itu identik dengan produk baru, manfaat dan bisnis baru. Misalnya kita menemukan produk atau paten produk baru, ini belum inovasi tapi baru sebatas riset. Nah bagaimana hasil riset ini bisa menjadi produkk inovasi? Kita harus menjadikannya menghasilkan profit dan secara ekonomi menghasilkan. Berbicara ttg riset, di PT kita sudah banyak belajar. Antara riset dan novasi ada jurang pemisah yang disebut lautan darwin atau lautan kemubaziran. Artinya kita melakkan banyak riset tapi belum tentu semua hasil riset tersebut bisa menjadi produk inovasi. Nah bgmn kita mjdkan riset itu sbg inovasi? Ini adalah tugas kementrian riset.

Inovasi itu identik sekali dengan produk, manfaat dan bisnis baru. Riset: know how. Tapi kalau inovasi: know value, artinya sebuah produk bisa dipakai, bisa memberi nilai tambah, dan orang berani mengeluarkan uang untuk produk tersebut.
Kementrian Riset dalam 5 tahun ini akan menyiapkan sebuah institusi yang :
1.       Berkaitan dengan pengembangan teknologi
2.       Pengembangan fungsi teknologi inkubasi (bgmn membuat hasil riset dapat melewati lautan darwin)
Program ini masuk dalam program 100 hari, dan pelaksanaan program ini sangat membutuhkan dukungan dari golongan mahasiswa.

Salah satu inovasi yang menjadi produk teknologi adalah tomografi 4 dimensi yang berkaitan dengan perubahan iklim, yang merupakan proyek di departemen energi di Amerika. Ini adalah proyek untuk mengembangkan energi baru, sistem untuk melakukan verifikasi proyek tersebut ada di Indonesia, yang dibuat oleh sarjana S1 lulusn UB.

Contoh lainnya adalah motor dengan bahan bakar hidrogen jadi bahan keluarannya dalah air yang bisa diminum. Produk ini mendapakan penghargaan. Kuncinya apa? Kita membangun rantai nilai, rantai nilai itu pengguna dan pemasok. Ini harus dibangun, jika rantai nilai ini tidak dibangun maka penelitian tidak akan  berkembang. Jadi, kita harus mendekatkan teknologi pada kebutuhan pengguna (masyarakat).
Slogan pemerintah-ristek yang baru: SIAPA BILANG INDONESIA TIDAK BISA????

TALKSHOW SELANJUTNYA….
-With ABG + S (Akademisi, Businessman, Government + Student)
A. AKADEMISI (Dr. Luthfi Ja’far)
Kondisi PT kaitannya dengan tantangan PT di masa yang akan datang
1.       Tuntuan kompetensi di dunia kerja
Tantangan ini bukan hanya bagi PT negeri tapi untuk semua PT.
2.       Perubahan kurikulumà kurikulum berbasis kompetensi
Kurikulum yang ada di PT harusnya harus berkaitan dengan kompetensi yang dibutuhkan di dunia profesi.
3.       Perubahan metode pembelajaran
Maka bagi anda mahasiswa yang melakukan praktek2 kerja di industri2, lakukanlah dengan serius. Karena ini salah satu metode pembelajaran yang baru
Mahasiswa yang mempunyai IPK tinggi belum tentu memiliki skill yang bagus. Yang dibutuhkan justru adalah mahasiswa yang punya skills yang OK.

B. BUSSINESMAN (BY DR. EDI SUKUR)
“MEMBANGUN BISNIS BERBASIS TEKNOLOGI”
Insya Allah yang hadir di sni adalah calon2 ilmuwan. Kondisi ilmuwan di indonesia ini sangat menyedihkan. So, kalau mau kaya jangan jadi ilmuwan!! Hayo lho….
Anekdot:
Suatu ketika Mr. Bean ketemu dengan Einstein. Mereka taruhan. Kalau Mr. Bean tidak bisa menjawab pertanyaan Einsten, dia harus bayar 5 dolat, tapi kalau einstein yang tidak bisa menjawab pertanyaan Mr. Bean, dia akan bayar 500 dolar.
Einstein: Berapa jarak bumi dan bulan?
Mr. Bean: gak tau.
Mr. Bean pun bayar 5 dolar k Einstein
Mr. Bean: Apa yang naik 3 kaki turun 3 kaki?
Einstein: (mikir, cari jawaban, analisis masalah, tidak terjawab) ga tau
Einsten bayar 500 dolar.
Einstein: terus apa jawabanya?
Mr. Bean: gak tau.
Mr. Bean bayar 5 dolar ke Einstein.

Nah jadi untuk jadi kaya tuh gak harus pinter tapi harus CERDAS. Kita membutuhkan generasi IPTEK yang memiliki kemampuan bisnis kreatif yang berbasis teknologi, kekayaan alam dan basis budaya di masing2 daerah. Jadi basisnya: IPTEK, Pendidikan dan Bisnisà mengedepankan budaya, teknologi dan SDA

C. MITI MAHASISWA (by: Aldani Malau)
Banyak sekali kasus ketika lulusan universitas masuk ke dunia profesi tanpa memiliki kompetensi di bid. Keilmuannya masing2. Ketika orang2 seperti ni benar-benar masuk ke dunia profesi, maka akan terjadi banyak kerusakan dan musibah di lingkungan kita…
Seharusnya ketika terjadi kerusakan di lingkungan, kita mencari ahli-ahli di bidang tersebut. Sebenarnya kita semua yang telah mendalami bidang kita masing-masing bisa mengatasi masalah-masalah tersebut, tapi seringkali kita baru bersuara ketika masalah2 itu sudah muncul.

OPEN DISCUSSION
Sebenernya apa 2 keyword dari semua permasalahan-permasalahan yang telah kita bicarakan tadi?
Pak Warsito: budaya
Pak Edi: kompetensi dan kerja sama
Aldani: Moral dan keberanian
Pak Lutfi: Komitmen

Diskusi dipending dengan selingan atraksi robot penembak roket dari tim robotik Univ. Brawijaya



 Berita Foto: tim robotik Univ.Brawijaya tengah memperagakan sistem kerja robot penembak roket yang dapat digunakan untuk menebar benih tanaman dan menebar jala. Event yang menjadi selingan acara semnas ini memukau para peserta yang hadir.

 

Pertanyaan dari pak Warsito pada audien: Pilih 3 dari negara maju berikut: jepang, italia, amerika. Potret Indonesia maju masa depan yang tepat itu seperti negara yang mana menurut anda???
è UNJA: Jepang.
è Agus USU: Jepang. Karena berdasarkan letak geografis jepang juga terletak di timur seperti indonesia. Apalagi secara budaya indonesia tu gak jauh beda dengan jepang.
è Tidak memilih salah satu dari 3 negara tersebut. Jepang: kurang dari segi agama. Sama juga dengan Italia dan Amerika. Jadi kita akan merangcang sendiri indonesia yang akan datang.
Pak Warsito:
Kalau Indonesia itu identik dengan jawa, maka Jepang tuh tepat. Ingat kata kunci kita adalah budaya. Jepang mmiliki budaya yang sangat kental. Budaya secara tidak langsung membentuk cara berpikir kita. Jawa dan jepang yang mirip itu budaya bekerja keras dan iwameru (komitmen untuk mencapai suatu level). Antara Jawa dan Jepang ini sangat mirip. Contohnya kalau di jawa itu seperti gamelan. Komitmen seperti ini ada, untuk mencapai komitmen ini tidak bisa dibeli. Kualitas produk jepang itu bagus karena berada di bawah komitmen iwameru. Tapi komitmen inilah yang menghancurkan jepang.  Karena komitmen ini, produk jepang menjadi produk yang bernilai tinggi, mahal sehingga tidak ada yang bisa membelinya. Untuk saat ini akhirnya pun Jepang menurunkan kualitas produknya.

Honda itu menghabiskan seluruh tabungannya, seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya itu untuk menghasilkan motor yang mampu berlari hanya 40 KM/jam. So, bagi seorang ilmuwan untuk meluncurkan produk yang berkualitas membutuhkan kerja keras dan kesabaran yang luar biasa.

Yang lebih mendekati (menurut pak Warsito) adalah italia, terkait dengan budaya juga. Yang paling maju di indonesia adalah sesuatu yang nyeleneh dalam hal ini di bid. seni dan budaya. Hal-hal yang berkaitan dengan budaya kreatif, produk inilah yang berkembang sangat pesat di indonesia. Di italia fashion berkembang sangat pesat.

Pembahasan keyword :
Pak Edi: kompetensi, kerja sama
kelemahan dari kita adalah di kompetensi. Kalau tadi dijlelaskan ttg Italia,memang mereka modis-modis seperti kita (he?). kemajuan yang telah dicapai oleh negara2 tersebut tentunya melalui kompetensi yang luar biasa. Bayangkan, di Jepang ada robot kawameru yang dibuat di jaman Edo. Teknologi percetakan dan Printing, gak da yang ngalahin jepang. Sejak dulu jepang kalau buat sesuatu gak pernah cuma 1 saja nyetaknya. Tapi mereka buatnya sangat beragam, misalnya nyetak baju, jadi gak cuma 1 saja tapi dibuat dengan beragam warna dari warna yang dekat-dekat dulu. Nah terkait kompetensi ini di Indonesia belum jelas..

Pak Lutfi:
Kompetensi yang harus dimiliki oleh Indonesia ini adalah yang terkait dengan budaya. Salah satu kelebihan orang-orang amerika tu adalah kreatifitas, mulai kecil pihak sekolah dibiarkan untuk mengekspresikan kreatifitasnya. Makanya hampir 80% penerim nobel tu adalah dari Amerika.

P Warsito:
Kompetensi yang harus diunggulkan di Indonesia: budaya. Budaya indonesia yang sama juga dengan Italia adalah tidak suka diatur. Tidak seperti jepang yang segala sesuatunya diatur, termasuk tomat yang dihasilkan di pertanian; tomatnya harus sama bentuk, besar dan warnanya (hayo lho...bagaimana caranya mengatur itu?)

Moderator: kalau di dunia kerja sama seperti apa yang diharapkan?
P Edi: kelemahan kita sbg ilmuwan tu adalah suka asyik sendiri, jadi sulit bekerja sama. Positifnya memang mereka bisa fokus tapi kan jadi sulit untuk bekerja sama. Untuk membuat mesin detektor saja kita membutuhkan banyak personel. Di Indonesia masih sulit buat kerja sama, komunikasi juga sulit.

Nah di dunia industri pun ada banyak bagian dan bidang. Kalau kita tidak bisa bekerjasama maka percuma, kita tidak akan berkembang. Maka kita pun harus bisa mengembangkan softskill kita. Antara kompetensi dan softskill ini kita harus lihat mana yang paling menonjol. Perlu kita perhatikan kompetensi kita dimana dan softskill kita apa? Kemudian kita kembangkan potensi dan softskill kita.

Moderator: bgmn pemerintah menghadapi perilaku2 yang beragam terkait dengan kompetensi td?
P Warsito: budaya, kompetensi dan kerja sama adalah keyword. Nah ke depan, budaya kita itu sulit untuk dibuat seragam. Bagaimana dari budaya tersebut kita dapat membangun bangsa dengan basis kompetensi. Kompetensi yang menonjol dari beberapa orang, ini bisa dijadikan pondasi untuk membangun bisnis berdasarkan kompetensi yang ada.

Moderator: Kenapa dengan Moralitas? Apa yang salah dengan moralitas bangsa kita?
Aldani: permasalahan-permasalahan yang ada di pemerintahan, bagaimana kita menghadapinya? Jaman sekarang, banyak sekali org pintar. Siapa yang menyebabkan kebakaran hutan? Mengalirnya limbah di sungai? Semuanya adalah orang-orang pintar. Jika kita tidak punya moral, maka keilmuan yang kita miliki hanya akan menjdikan produk yang tidak memberi manfaat untuk lingkungan.

Atau seringkali, kita punya solusi terhadap beberapa permasalahan-permasalahan bangsa tapi seringkali kita tidak punya keberanian untuk mengklaim solusi tersebut, bahkan untuk ngomong pun tidak berani. Maka di sini kita butuh keberanian.

Diskusi tambahan:
Fikri (UNDIP): moralitas hal2 yang membatasi kita untuk tetap lurus.
Apa yang bisa diberikan dari kehutanan untuk mendukung iptek Indonesia?
Dari kita yang penting adalah yang berkaitan dengan perubahan iklim, yaitu penyerapan CO2. Hutan memiliki kemampun menyerap CO2 tersebut. Nah penelitian terkait penyerapan CO2 tersebut masih sangat minim. Kita sudah membuat MOU terkait riset ttg iklim di Indonesia.

Bagaimana pemetaan perkembangan teknologi di daerah??
1 village 1 product yang berkaitan dengan produk teknologi. Tiap daerah memiliki SDA. Tiap daerah ini  akan diberikan produk teknologi untuk mengembangkan SDA-nya masing-masing. Menristek akan membantu mengembangkan produk berbasis teknologi tersebut. [ ]

Tuesday, November 10, 2009

Nasihat Untukku, dari Saudariku

Di tengah kegalauan hati hari ini ... ada tetesan embun yang mengurangi kegersangannya. Berbincang, dan mendapatkan nasihat yang boleh jadi dibutuhkan setiap orang....

"Yakin.. Alloh Maha Adil..

Tidak ada sedikitpun pengorbanan, cucuran keringat dan air mata yg tak dihitung oleh-NYA..
Yakin, kalau ikhlas, DIA akan beri ganti yg jauh2 lebih baik dr yg kita lakukan..
Banyak hal luar biasa...
ya.. kalau g di dunia.. yakin, bakal dapat itu di akhirat..
^_^

Yupz!!!
SLALU SMANGADH Pak!!! ^_^
Yakin, DIA slalu kasih yg terbaik utk kita, seburuk apapun itu dlm pandangan kita..
Mungkin awalnya begitu.. namun yakin.. DIA menyimpan hikmah mendalam atas smuanya..
Yg hanya akan mampu kita petik dg bekal keikhlasan.. ridho dg sgala ketetapan-NYA.. seberat apapun itu pd awalnya...

DIA yang paling tahu ttg kita kn pak..
Yg paling tahu, cara terbaik untuk membentuk diri kita mjd pribadi plg istimewa... ^_^
Dunia dan akhirat..

Wilayah kita kan skedar wil ikhtiar kan ya..?
Sdg ttg hasil, spenuhnya hak prerogatif Alloh.. ^_^
Ni kata Ust. Syatori.. ;-P

Setidaknya kita tlah mengupayakan semampu kita..
bukannya Insya Allah tak pernah membebani kita di luar kemampuan kita..?

Wajarlah.. kalau ada lalainya.. namanya jg masih jd manusia..
yg penting.. begitu inget.. bersegera memenuhi yg kmrn2 terlalaikan......"

Jaazakillaah khairan ukhti,... barakallaahu fiik.. [ ]

Tuesday, October 6, 2009

English Club

http://www.englishclub.com/
Yuk belajar English ^__^

Wednesday, September 30, 2009

Inikah Akibat Kebakhilan??


Oleh : Cahya Herwening


Malam hari itu, Sabtu 26 September 2009, saya sedang ada dalam acara syawalan kampung. Di tengah acara, pak Ketua RT 05 pamit pada saya karena harus segera meluncur ke lokasi taman candi Prambanan, membantu tetangga untuk mengangkut beberapa barang yang masih bisa diselamatkan, jika ada. Apa pasal?

Malam hari itu ada kejadian yang cukup menghebohkan, sempat menjadi buah bibir masyarakat yang tahu akan kejadian tersebut, termasuk di rumah saya. Malam itu ada kebakaran di lokasi taman candi Prambanan, yang di sana ada banyak kios yang digunakan untuk menjajakan pakaian, souvenir, pernak-pernik, mainan, dan sebagainya. Semua kios habis dilalap api, meski pemadam kebakaran mengerahkan 9 mobil pemadam kebakaran. Sepertinya tidak ada lagi barang yang bisa diselamatkan, karena para pemilik kios juga terlambat datang padahal api sangat cepat menjalar. Kios-kios itu, menurut kabar yang saya dengar, terbuat dari papan tripleks. Sehingga tentu api dengan renyahnya melahap kios-kios tersebut. Mungkin (karena saya juga tidak di sana) para pemilik kios berteriak histeris menyaksikan barang dagangannya ludes, tinggal abu.

Di antara banyak pemilik kios, mungkin hanya satu yang menderita kerugian paling besar. Tak kurang dari Rp 700 juta amblas akibat peristiwa itu. Masya Allah... saya sendiri belum pernah melihat uang sebanyak itu. Dan pastinya lebih, karena jumlah itu baru uang yang tersimpan di sana, belum barang dagangannya. Wah.. wah.. wah.., bagaimana rasanya ya kehilangan sebanyak itu. Meski pihak pengelola candi memberikan ganti Rp 10 juta per kios, jelas tidak sebanding dengan jumlah itu.

Tapi, mungkin ini merupakan peringatan kepada orang itu. Kabarnya, pendapatannya per hari (entah total omset atau bersihnya) Rp 10 juta. Tapi sepertinya tidak mau men-zakat-i harta tersebut. Idul Adha kemarin tidak tahu juga, ikut berqurban atau tidak. Bahkan, dengan tidak tahu malunya dia 'menggantol' (mengambil secara ilegal) listrik dari aliran listrik di jalan untuk keperluan tertentu. Padahal penghasilannya sebanyak itu, tapi tidak mau kehilangan sedikit uang untuk membayar biaya pemakaian listrik dan memilih cara ilegal. Apakah yang seperti itu bukan bakhil namanya? Udah bakhil, uthil, cethil, mbedhidhil.., apalagi ya sebutan yang tepat... Cari sendiri deh.

Maka ini bisa menjadi pelajaran bagi kita. Logikanya, kalau kita sudah menjadi wajib pajak, misalnya pendapatan sudah memenuhi PKP (Penghasilan Kena Pajak), ya harus pajak. Kalau tidak pajak, nanti kena denda, atau disita. Seperti itu pulalah dalam zakat, kalau sudah mencapai nishob, maka zakatnya harus dibayarkan. Jika tidak, maka Allah akan menarik dendanya, atau bahkan disita hartanya. Sudah banyak kan, contoh orang yang kehilangan jauh lebih banyak akibat tidak mau membayar zakat atau shodaqoh? Padahal, harta yang dizakatkan atau dishodaqohkan tidaklah hilang, melainkan justru menjadi tabungan milik kita yang sejati, yang jumlahnya dilipat gandakan oleh Allah.

Wallaahu a'lam...


Monday, September 28, 2009

Permohonan Bantuan Bagi Nasabah Bank Muamalat yang Tinggal di Yogya

Assalaamu 'alaykum

Teman saya sedang melaksanakan penelitian tentang bank syari'ah, mengambil sampel nasabah Bank Muamalat di wilayah Yogyakarta.

Bagi Anda yang kebetulan memenuhi kriteria tersebut, pleeaase... mohon bantuannya untuk secepatnyamengisi kuesioner yang ada di attachment berikut.

Setelah diisi mohon dikirim via email (boleh di bodymail atau attachment) ke:

fitra_justice@yahoo.com

atau

cahyaherwening@yahoo.com

Jazaakumullaah khairal jazaa' atas segala bantuannya.

Wassalamu 'alaykum

Wednesday, July 8, 2009

KITAB KLASIK ISLAM

http://www.kitabklasik.co.cc/
Download e-book kitab-kitab klasik.
Kereeeeen!!!!!!!!

Tuesday, June 30, 2009

Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah

oleh: Cahya Herwening *)

Kita mengenal slogan “Pemuda harapan bangsa” atau “Maju mundurnya suatu bangsa tergantung pada pemudanya”. Mahasiswa adalah bagian pemuda yang selalu ditunggu perannya dalam pembangunan. Apa sajakah peran itu?

Kita telah memaklumi bersama bahwasannya mahasiswa termasuk kalangan elit. Hanya segelintir saja dari jutaan orang pemuda di Indonesia, yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Tak semua memiliki kesempatan masuk ke dalam kelas ini. Terlebih realita yang ada saat ini manakala biaya kuliah semakin mahal. Makin sedikit pula yang dapat merasakan hidup di dunia perguruan tinggi. Dan yang sedikit itulah, yang memiliki potensi strategis sebagai iron stock para leader di negeri kita ini.

Mahasiswa adalah kalangan yang memiliki potensi besar melakukan mobilitas. Bahkan, hal itu sudah dilakukan semenjak mereka resmi memiliki status sebagai mahasiswa, karena status itu termasuk kelas menengah. Ke depan, selepas menyelesaikan proses pembelajaran dan pencarian jati diri mereka di kampus, pintu melakukan mobilitas itu semakin terbuka. Mobilitas secara vertikal maupun horizontal, menuju ke posisi strategis di berbagai sektor yang akan mereka geluti, baik public sector, private sector atau third sector.

Besarnya potensi mereka itu –logis, karena hampir tidak mungkin negeri ini akan dipimpin oleh para lulusan SMP apalagi SD– tak luput dari besarnya harapan yang disematkan ke pundak mereka. Mereka diharapkan oleh masyarakat untuk nantinya kembali dan membangun masyarakat khususnya di daerah dari mana mereka berasal. Mahasiswa yang merantau, seolah-olah menjadi perwakilan daerah untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin kemudian diterapkan dalam pembangunan daerahnya suatu saat nanti. Dan ini memang menjadi salah satu peran yang harapannya bisa dijalankan oleh para mahasiswa, terlepas dari realita mahasiswa zaman sekarang yang tak sedikit menghabiskan masa studinya dengan hura-hura dan bersenang-senang.

Sebenarnya apa saja peran mahasiswa yang bisa dimainkannya dalam pembangunan daerah? Hal ini perlu dipahami bersama, karena ketidakjelasan peran akan menimbulkan kegamangan. Dan kegamangan akan mengakibatkan ketidakproduktifan. Maka tentang peran mahasiswa dalam pembangunan daerah ini perlu kita ulas lebih jauh. Namun, kita perlu terlebih dahulu melihat seberapa jauh potensi yang dimiiki oleh mahasiswa. Sehingga apa saja peran yang dapat dimainkan nanti, bisa kita lihat dari potensi yang ada dalam diri mereka.

Pertama, kita dapat melihat potensi mahasiswa dari aspek karakternya. Kita pahami bersama, bahwa mahasiswa memiliki karakter idealis. Semua hal dilihat dan ingin dibentuk dalam tataran ideal. Baik dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri, keorganisasian, berbagai sistem dan kebijakan dalam masyarakat maupun dalam kehidupan negara. Mahasiswa biasanya menjadi orang yang paling resah dengan ketidakberesan, benci dengan ketidakadilan, menginginkan tegaknya aturan dan norma kebaikan. Dengan begitu tepatlah manakala mahasiswa disebut sebagai social control, mengkritisi setiap ketidakberesan berjalannya sistem di masyarakat maupun negara.

Pemuda memiliki tipe pemikiran yang kritis dan kreatif. Mahasiswa sebagai bagian dari pemuda tak lepas dari sifat ini. Sejarah mengatakan, bahwa perubahan-perubahan besar berawal dari para pemuda. Kita dapat melihat bagaimana peristiwa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan Indonesia serta reformasi berawal. Semua tidak luput dari peran para pemuda. Pun begitu dengan berbagai peristiwa perubahan, revolusi dan pembaruan di beberapa belahan dunia.

Kaum muda memiliki frame berfikir yang khas. Berawal dari idealismenya dia kritis terhadap persoalan-persoalan, dan dengan kreativitasnya memberikan solusi-solusi dari persoalan yang ada. Tak jarang solusi yang mereka hasilkan merupakan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya oleh generasi yang lebih tua. Banyak terobosan baru yang mereka lahirkan, karena mereka punya paradigma berpikir yang berbeda. Karena berbeda paradigma, maka biasanya antara generasi tua dan generasi muda terjadi konflik pemikiran, antara paradigma lama dan paradigma baru. Kita dapat ambil contoh pada salah satu persitiwa besar, proklamasi kemerdekaan. Terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda tentang kapan proklamasi harus dilakukan.

Beberapa kelebihan yang bersifat alami di atas, yakni idealis, kritis dan kreatif membuat arus perubahan dapat diciptakan, menuju yang lebih baik sebagaimana idealita yang ada dalam benak mereka. Dipadu dengan sifat semangat, dan didukung oleh kekuatan fisik yang masih prima, maka arus perubahan semakin besar. Mereka tak akan kenal lelah dalam bekerja dan menggerakkan perubahan itu, sehingga dalam waktu yang tak terlampau lama apa yang mereka inginkan akan segera dicapai.

Kedua, potensi mereka dilihat dari aspek intelektualitas, kecerdasan dan penguasaan wawasan keilmuan. Ilmu dan wawasan yang dimiliki selain akan memperluas cakrawala pandangan, juga memberikan bekal teoritis maupun praktis dalam pemecahan masalah. Seorang mahasiswa akan dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang ada yang pada masa dahulu pernah ditemui manusia dan dirumuskan dalam berbagai teori pemecahannya. Atau, jika hal yang ada belum pernah ditemui sebelumnya, maka mereka sudah memiliki bekal yang metodologis dan sistematis tentang bagaimana cara menemukan pemecahan problem-problem yang ada. Tiada lain dengan riset, baik riset di bidang eksak maupun noneksak.

Potensi dari dua aspek yang ada itulah yang akan membuat mahasiswa dapat melakukan perannya. Syaratnya, kedua potensi itu benar-benar dikembangkan secara optimal oleh mereka baik secara personal maupun komunal sehingga dapat menjadi senjata yang siap digunakan untuk memberikan kemanfaatan terbesar bagi masyarakat. Potensi dari aspek karakter dikembangkan dengan berbagai aktivitas yang mengasah softskill, baik melalui kegiatan organisasi, pelatihan-pelatihan maupun aktivitas keseharian mahasiswa di luar kegiatan akademik. Sedangkan potensi intelektualitas dibangun melalui semua kegiatan yang mengasah hardskill, yakni kegiatan belajar mengajar, pengkajian, penelitian dan juga pelatihan. Dengan begitu mereka memiliki kualifikasi dan kompetensi menuju profil mahasiswa ideal, yakni mahasiswa yang memiliki integritas moral, kredibilitas sosial dan profesionalitas keilmuan.

Pada era sekarang ini, rasanya sudah tidak relevan lagi manakala implementasi peran mahasiswa hanya sekadar seperti apa yang dilakukan pada masa-masa lalu. Sebagian besar yang telah dilakukan mahasiswa untuk menjalankan peran sebagai agent of change dan social control dilakukan melalui aksi-aksi turun ke jalan. Aksi untuk menuntut perubahan kebijakan, penyebaran wacana dan opini ke publik, namun belum bisa memberikan solusi konkrit. Sudah saatnya hal itu diubah, sudah tiba waktunya bagi mahasiswa untuk memaksimalkan peran sebagai aktor intelektual yang dapat memberikan jawaban-jawaban dan solusi yang konkrit, membumi, aplikatif dan bermutu. Bukan sekadar wacana yang mengawang, atau alternatif solusi dari hasil analisis yang serampangan. Namun semuanya berbasis penguasaan keilmuan pada bidang masing-masing, melalui proses pengkajian yang mendalam dan komprehensif, dilihat dari berbagai sudut pandang secara interdisipliner sehingga menghasilkan solusi yang solutif.

Peran yang bisa dimainkan mahasiswa di daerah tentu tak terkungkung pada daerahnya masing-masing, namun bisa berperan di daerah lain. Juga tidak melulu yang bersifat konseptual, namun juga yang bersifat praktikal dengan terjun langsung di masyarakat. Yang jelas semuanya didasari oleh kerangka berpikir ilmiah. Mahasiswa dapat memulai aksinya berpijak dari masalah-masalah yang ada pada suatu daerah, maupun potensi besar yang belum terkembangkan atau teroptimalkan yang dapat menjadi senjata bagi daerah tersebut. Baik dalam bidang pangan, pendidikan, kesehatan, iptek, pertanian, sosial, budaya, pemerintahan dan lain sebagainya.

Di bidang pangan misalnya, suatu daerah memiliki keunggulan komparatif sebagai penghasil salak. Di setiap musim panen, produksi salak melimpah dan dapat mensuplai produk ke beberapa daerah lain yang membutuhkan. Permasalahannya adalah seringkali jumlah produksi salak melebihi permintaan yang ada, sehingga ada sisa yang setiap periode terbuang percuma, karena sifat produk pertanian yang cepat rusak. Berdasarkan permasalahan itu, seorang mahasiswa yang baik akan dapat mengubah permasalahan seperti itu menjadi potensi besar. Dia akan melakukan riset untuk menciptakan produk olahan dari salak, sehingga salak yang tidak termanfaatkan dalam bentuk mentah setelah menjadi produk olahan lain akan memiliki nilai jual lebih tinggi, disamping dapat meningkatkan daya tahan produk itu sendiri. Implikasi positif lain dari hal ini adalah membuka peluang usaha baru yang nantinya dapat menyerap tenaga kerja, dengan begitu pengangguran dapat dikurangi. Kripik salak dan selai salak merupakan contoh produk sebagai wujud nyata dari usaha semacam ini.

Contoh lainnya, manakala pada suatu daerah memiliki permasalahan pada banyaknya sampah padat yang tidak tertangani dan akhirnya menumpuk di beberapa tempat. Selain dari segi estetika tidak sedap bagi pemandangan, menimbulkan bau tidak sedap, dari aspek kesehatan dapat menjadi sumber beberapa penyakit, selain memberikan potensi ancaman banjir apabila menyumbat beberapa saluran air. Mahasiswa atau kelompok mahasiswa dapat memberikan solusi dengan program pemberdayaan masyarakat pengolahan sampah organik. Dampaknya pada pengurangan jumlah sampah yang ada secara signifikan, dihasilkannya produk olahan sampah organik misalnya menjadi pupuk organik yang memiliki kegunaan dan bernilai jual, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sampah.

Mahasiswa tidak harus terjun sendiri ke masyarakat secara swadaya, karena hal itu akan sangat berat. Alangkah sangat baiknya mahasiswa dapat merangkul berbagai pihak yang dapat diajak kerja sama dalam membuat proyek-proyek yang lebih besar untuk memberikan pencerdasan pada masyarakat dan memberdayakan mereka. Pemerintah daerah, pihak kampus (universitas) dan pihak swasta adalah pihak-pihak yang sangat bertanggung jawab dalam kemajuan masyarakat. Pemerintah daerah tentu saja pelaku utama yang bertanggung jawab penuh terhadap kemajuan masyarakat di daerahnya. Universitas memiliki kewajiban dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana tertuang dalam salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pihak swasta memiliki kewajiban untuk melaksanakan program-program CSR (Corporate Social Responsibility). Peran ketiga elemen besar itu harus dapat dioptimalkan, dan disinergikan. Dan hal ini dapat diinisiasi oleh mahasiswa.

Pihak pemerintah berperan dalam pendanaan sebagaimana telah dianggarkan, juga SDM pakar dengan adanya para petugas penyuluh lapangan dari departemen-departemen tertentu. Pihak universitas memberikan sumbangan dari sisi keilmuan, program (misalnya dengan priogram KKN) dan SDM pelaksana, yakni mahasiswa itu sendiri. Aspek dana juga didukung oleh pihak swasta, selain perannya dalam memenuhi kebutuhan akan instrumen berupa peralatan maupun perlengkapan. Sinergitas yang saling melengkapi dari ketiga pihak ini akan memberikan signifikansi sangat tinggi dalam upaya melaksanakan pembangunan daerah. Karena dengan sinerginya beberapa pihak tersebut, masing-masing tidak bekerja sendiri melalui program yang bisa jadi overlap satu sama lain sehingga tidak efektif dan efisien, bahkan kontraproduktif.

Ke depan, kesadaran akan pentingnya sinergitas antara beberapa pihak perlu semakin ditingkatkan, dan ini harus dimulai semenjak sekarang. Tak ketinggalan, penyiapan diri mahasiswa, yang ke depan juga akan menempati ruang-ruang strategis di pemerintah, swasta maupun kampus harus dilakukan semenjak dini, dengan cara:
1.    Pengembangan potensi diri dari aspek hardskill maupun softskill sebagai upaya memaksimalkan potensinya sebagai iron stock,
2.    Melakukan kontrol kebijakan pemerintah terhadap penentuan arah dan karakteristik pembangunan daerah,
3.    Berupaya untuk senantiasa memenuhi kebutuhan akan perbaikan dari kehidupan masyarakat dan berbagai permasalahan yang terjadi di sana melalui penerapan dan implementasi ilmu yang telah diperoleh di bangku perguruan tinggi,
4.    Mengembangkan jaringan (networking) dengan berbagai pihak, khususnya yang memiliki peran dan potensi dalam pembangunan daerah.

Semua itu tak dapat terwujud manakala tidak diawali oleh kepedulian serta sikap kritis terhadap peristiwa sosial yang melahirkan niat dan kemauan untuk turut berperan serta memperbaiki masyarakat. Sehingga nantinya cita-cita untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang berkedaulatan, berkeadilan, maju dan mandiri dapat diraih. [ ]



*) Penulis adalah pengurus MITI-Mahasiswa
sebagai Kepala Bidang Pembinaan Wilayah