Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Tuesday, August 30, 2011

Catatan Akhir Ramadhan


Oleh : Cahya Herwening


Di akhir Ramadhan ini, mari kita renungkan bersama. Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, berkah, ampunan, pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup, pahala amal kebaikan dilipatgandakan serta ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Berarti, bahwa Ramadhan seharusnya menjadi waktu dimana kita bisa panen raya pahala dan juga diampuni dosa sebanyak-banyaknya. Namun sudahkah kita mengoptimalkan kesempatan tersebut?

Kita sepertinya telah biasa menyaksikan atau bahkan merasakan sendiri. Selama Ramadhan, ada yang pengeluaran untuk konsumsi justru meningkat daripada bulan-bulan biasa, alias lebih boros. Sholat-sholat jama'ah di masjid kian hari kian maju shaffnya. Ada yang masih berleha-leha tidak memanfaatkan waktu untuk ibadah, tapi hanya tidur-tiduran atau bermain-main. Atau bahkan ada yang tenang saja meninggalkan kewajiban puasa dan sholat lima waktu. Naudzubillah, semoga kita bukan golongan orang yang disebut terakhir tadi.

Bagi yang sudah berniat mengoptimalkan Ramadhan untuk beribadah pun tak luput dari cobaan. Mungkin masih sering kita rasakan rasa malas beribadah yang tiba-tiba datang, lemah semangat tiba-tiba terjadi, biasanya itu terjadi saat kita sampai di pertengahan Ramadhan. Misalnya, pada awal-awal Ramadhan kita sanggup tilawah Al-Qur'an sehari dua atau tiga juz, namun saat mulai memasuki pertengahan Ramadhan, semangat nge-drop. Kenapa bisa begitu? Padahal dalam suatu hadits dikatakan bahwa pada bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu. Tapi kenapa masih datang kemalasan? Maka kita perlu cari penyebabnya.

Saya teringat perbincangan dengan salah seorang murid sekaligus kawan tentang hal ini. Dia melontarkan pertanyaan serupa, dan saat itu pula saya baru sadar akan beberapa kemungkinan penyebab fenomena tersebut, yang kemudian saya sampaikan padanya. Faktor godaan setan memang masih ada, karena setan masih berkeliaran. Hanya kejahatannya saja yang dibatasi atau diminimalkan. Dan pada bulan Ramadhan, suasana memang sangat kondusif untuk beribadah dan mendekatkan diri pada Allah sehingga mempersulit gerak setan. Kalaupun setan benar-benar dibelenggu, hanya beberapa saja, misalnya pimpinan atau yang kejahatannya sudah berlebihan. Ada beberapa perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini, dan insya Allah sudah banyak artikel yang menjelaskannya.

Berikut akan dipaparkan pendapat sementara penulis, kenapa pada bulan Ramadhan kita masih bisa malas, bahkan mungkin lebih malas dari bulan biasanya. Pertama, karena semangat kita masih semangat 'proyekan'. Sifat proyek adalah pekerjaan dilakukan dalam suatu kurun waktu tertentu untuk mengerjakan tugas tertentu hingga selesai. Apabila tugas selesai maka berhentilah aktivitasnya, dan selesailah proyeknya. Contohnya, pada proyek pembangunan jembatan. Bila jembatan sudah jadi, maka proyek tersebut selesai dan pekerjaan berhenti. Nah, sangat boleh jadi kita rajin ibadah, atau mulai beribadah pada saat berada di bulan Ramadhan. Sedang di luar Ramadhan, kita tidak melaksanakannya. Istilahnya kita masih manusia ramadhani, bukan manusia Rabbani.

Pelaksanaan amalan-amalan secara lebih pol-polan saat Ramadhan tanpa persiapan di awal, akan berakibat kita akan merasa cepat kelelahan. Ibarat olahraga tanpa pemanasan terlebih dahulu, maka rentan cedera, terlebih lagi bila sebelumnya tidak pernah olahraga. Atau seperti mesin yang tidak pernah dipanasi, kemudian langsung dipakai kenceng. Ya pasti bodhol. Kalau kita sudah mulai kelelahan, pasti kemalasan akan datang, semangat akan kendur, meski di awal Ramadhan sudah berjalan baik.

Merenungkan itu, jadi teringat teladan dari Rasulullaah saw. Beliau bersama para shahabat telah melakukan persiapan sejak sebelas bulan sebelum Ramadhan, artinya sejak selesai Ramadhan sebelumnya, yakni bulan Syawal, mereka telah mengoptimalkan ibadahnya, sepanjang tahun. Dan persiapan mereka lebih dipertajam manakala menginjak bulan Rajab. Dengan begitu, kualitas ibadah mereka dapat terus meningkat karena semuanya telah terbangun sebagai kebiasaan. Dan ketika memasuki Ramadhan, mereka dapat meningkatkannya lagi. Berbeda sekali dengan kita yang 'proyekan'.

Kemungkinan penyebab kedua, yaitu bahwa mungkin kita 'berjalan' sendirian. Kita tidak punya komunitas ibadah yang bisa saling menyemangati, memotivasi, mengingatkan untuk terus rajin. Apabila kita sendirian, ketika kita lemah semangat tidak ada yang dapat menarik kita untuk kembali ke ritme awal. Terasa benar, ketika di rumah sendiri, semangat memang lebih mudah drop. Sebaliknya terasa benar ketika ada beberapa saudara seiman, misalnya di kala i'tikaf, semangat dapat lebih terjaga karena ada suasana kompetisi dalam ibadah dan ada kebersamaan.

Mungkin dua faktor itu yang berpengaruh terhadap keistiqomahan kita dalam beribadah dengan optimal di bulan Ramadhan. Semoga dengan mengetahui penyebab kenapa kita malas dan lemah semangat di pertengahan Ramadhan, kita dapat mengantisipasinya pada Ramadhan yang akan datang, insya Allah. Saya mengajak diri sendiri dan kita semua untuk mempersiapkan lebih dini dalam menyambut Ramadhan, sehingga dapat lebih optimal di dalamnya. Semoga Allah menyampaikan umur kita hingga Ramadhan yang akan datang dengan dipanjangkannya umur kita dan diberikan kesehatan yang prima. Aamiin.

Selasa, 30 Ramadhan 1432 H

Thursday, February 4, 2010

Dan Saya pun Menangis …

Ditulis oleh seorang sensei(guru)-ku


Ini kali kedua saya menangis saat menyupir kendaraan. Pertama kali saat melaju di atas 100km/jam di jalan tol sepanjang 40km. Sepanjang jalan itu saya mengucurkan air mata sambil berteriak sekerasnya. Saya sempatkan menelpon seseorang, tapi tak ada sepotong katapun yang bisa keluar selain tangisan yang membuat kepanikan soulmate di ujung telpon. Tangisan karena kelemahan dan ketidakmampuan menghadapi lingkungan yang tidak sesuai dengan idealisme yang mendarah daging. Hari ini kejadian itu berulang. Tidak selama yang pertama dan saya masih bisa mengendalikan diri. Saya sempatkan memarkirkan mobil di pinggir jalan dan merenung sepuasnya.

Berawal dari perjalanan menuju satu tempat di sore hari bersamaan dengan rintiknya hujan. Seperti biasa, sepanjang perjalanan saya selalu menyetel TV sebagai teman kesepian mengarungi macetnya Jakarta. Ada beberapa channel favorit, salah satunya adalah acara “minta tolong” yang disiarkan oleh RCTI pada sekitar pukul 4 sore.

“Minta tolong” Kali ini bercerita tentang seorang ibu setengah baya yang akan membeli susu untuk anaknya, namun tidak punya uang. Di tangannya hanya ada segenggam padi yang akan dijual seharga Rp.30.000. Berjam-jam ibu ini berkeliling mencari target, puluhan orang sudah dihampiri dan ditawarkan tapi tak satu pun yang mau membeli padi itu. Wajar, karena mau diapakan padi segenggaman tangan itu? Ingin dimakan, masih perlu proses panjang . Andaikan dijual lagi pun belum tentu laku. Ibu ini terus berusaha mencari orang yang mau membeli padi itu. Sampai satu saat dia sampai ke sebuah sekolah, menjumpai seorang ibu penjual kue. Ibu ini mencoba merayu ibu penjual kue dengan mengatakan bahwa hasil penjualannya itu digunakan untuk membeli susu.

Awalnya, hatinya tidak tergerak sama sekali, tetapi setelah berkali-kali mendengar kata-kata “susu untuk anak” hatinya luruh. Diberikannya hasil penjualannya hari itu sebanyak Rp.30.000 kepada sang ibu penjual segenggam padi. Entah apa yang ada dalam pikiran ibu itu saat memutuskan memberikan uang itu, padahal dalam satu hari dia hanya mendapatkan uang antara Rp. 40.000 sampai Rp. 50.000 saja. Itupun belum tentu, karena terkadang dia harus membawa kembali barang dagangannya pulang terutama pada saat musim hujan seperti ini.

Berurailah air mata saya. Ini bukan kali pertama saya menonton acara itu, tapi belum pernah sekalipun saya terhanyut sampai meneteskan air mata. Entah mengapa saat itu yang hadir di pelupuk mata adalah orang-orang yang telah saya kenal bertahun-tahun. Aktivis-aktivis dakwah yang saat masih menjadi mahasiwa punya segudang idealisme. Akan tetapi itu semua luntur sedikit demi sedikit bersamaan dengan berjalannya waktu. Yaah, luntur sedikit demi sedikit, bahkan sebagian sudah lupa terhadap apa yang pernah akan diperjuangkannya.

Dulu begitu senang diajak berdiskusi tentang kebijakan yang berprinsip keadilan, sekarang lebih senang diajak berdiskusi tentang kesejahteraan.

Dulu masih senang berbicara apa yang bisa kita lakukan untuk mengangkat derajat bangsa, sekarang lebih senang berbicara apa yang bisa dilakukan untuk mengangkat derajat dirinya.

Dulu sedemikian tulusnya melakukan sesuatu atas nama dakwah, sekarang setiap pertemuan pun ada harganya.

Huhh .. kenapa semua harus diukur dengan materi? Salahkah saya menilai semua ini. Orang anehkah saya kalau saya menuntut kepada mereka yang mengaku sebagai da’i untuk mau bersama-sama kembali memikirkan bangsa ini? Bukan sekedar membicarakan “siapa mendapat apa?”

Tidak pernahkah kita mendengar ribuan orang yang kelaparan dan jutaan bayi yang kekurangan gizi. Sementara mereka yang hidupnya sudah berkecukupan (bahkan sebagian sudah lebih dari cukup) masih sempat mencari celah bagaimana memanfaatkan dana-dana yang seharusnya diperuntukkan kepada orang-orang yang sengsara tersebut.

Yaah .. saya menangis karena saya teringat dengan orang-orang itu. Orang-orang yang hari-harinya disibukkan hanya untuk dirinya sendiri padahal mereka mengaku dirnya adalah seorang Da’i. Lebih takut lagi seandainya saya terseret menjadi seperti mereka dengan amanah-amanah yang sekarang ada. Naudzubillah.

“Saya baru sadar, bahwa ketulusan hati seseorang bukan hanya milik aktivis dakwah, tetapi milik siapa saja. Bahkan orang biasa pun terkadang lebih sensitif dan lebih tulus, seperti yang dicontohkan ibu penjual kue tersebut. Allah Maha Besar lagi Maha Mengetahui”.

Jakarta, 4 Feb 2010 (dini hari)

Tuesday, November 10, 2009

Nasihat Untukku, dari Saudariku

Di tengah kegalauan hati hari ini ... ada tetesan embun yang mengurangi kegersangannya. Berbincang, dan mendapatkan nasihat yang boleh jadi dibutuhkan setiap orang....

"Yakin.. Alloh Maha Adil..

Tidak ada sedikitpun pengorbanan, cucuran keringat dan air mata yg tak dihitung oleh-NYA..
Yakin, kalau ikhlas, DIA akan beri ganti yg jauh2 lebih baik dr yg kita lakukan..
Banyak hal luar biasa...
ya.. kalau g di dunia.. yakin, bakal dapat itu di akhirat..
^_^

Yupz!!!
SLALU SMANGADH Pak!!! ^_^
Yakin, DIA slalu kasih yg terbaik utk kita, seburuk apapun itu dlm pandangan kita..
Mungkin awalnya begitu.. namun yakin.. DIA menyimpan hikmah mendalam atas smuanya..
Yg hanya akan mampu kita petik dg bekal keikhlasan.. ridho dg sgala ketetapan-NYA.. seberat apapun itu pd awalnya...

DIA yang paling tahu ttg kita kn pak..
Yg paling tahu, cara terbaik untuk membentuk diri kita mjd pribadi plg istimewa... ^_^
Dunia dan akhirat..

Wilayah kita kan skedar wil ikhtiar kan ya..?
Sdg ttg hasil, spenuhnya hak prerogatif Alloh.. ^_^
Ni kata Ust. Syatori.. ;-P

Setidaknya kita tlah mengupayakan semampu kita..
bukannya Insya Allah tak pernah membebani kita di luar kemampuan kita..?

Wajarlah.. kalau ada lalainya.. namanya jg masih jd manusia..
yg penting.. begitu inget.. bersegera memenuhi yg kmrn2 terlalaikan......"

Jaazakillaah khairan ukhti,... barakallaahu fiik.. [ ]

Wednesday, September 30, 2009

Inikah Akibat Kebakhilan??


Oleh : Cahya Herwening


Malam hari itu, Sabtu 26 September 2009, saya sedang ada dalam acara syawalan kampung. Di tengah acara, pak Ketua RT 05 pamit pada saya karena harus segera meluncur ke lokasi taman candi Prambanan, membantu tetangga untuk mengangkut beberapa barang yang masih bisa diselamatkan, jika ada. Apa pasal?

Malam hari itu ada kejadian yang cukup menghebohkan, sempat menjadi buah bibir masyarakat yang tahu akan kejadian tersebut, termasuk di rumah saya. Malam itu ada kebakaran di lokasi taman candi Prambanan, yang di sana ada banyak kios yang digunakan untuk menjajakan pakaian, souvenir, pernak-pernik, mainan, dan sebagainya. Semua kios habis dilalap api, meski pemadam kebakaran mengerahkan 9 mobil pemadam kebakaran. Sepertinya tidak ada lagi barang yang bisa diselamatkan, karena para pemilik kios juga terlambat datang padahal api sangat cepat menjalar. Kios-kios itu, menurut kabar yang saya dengar, terbuat dari papan tripleks. Sehingga tentu api dengan renyahnya melahap kios-kios tersebut. Mungkin (karena saya juga tidak di sana) para pemilik kios berteriak histeris menyaksikan barang dagangannya ludes, tinggal abu.

Di antara banyak pemilik kios, mungkin hanya satu yang menderita kerugian paling besar. Tak kurang dari Rp 700 juta amblas akibat peristiwa itu. Masya Allah... saya sendiri belum pernah melihat uang sebanyak itu. Dan pastinya lebih, karena jumlah itu baru uang yang tersimpan di sana, belum barang dagangannya. Wah.. wah.. wah.., bagaimana rasanya ya kehilangan sebanyak itu. Meski pihak pengelola candi memberikan ganti Rp 10 juta per kios, jelas tidak sebanding dengan jumlah itu.

Tapi, mungkin ini merupakan peringatan kepada orang itu. Kabarnya, pendapatannya per hari (entah total omset atau bersihnya) Rp 10 juta. Tapi sepertinya tidak mau men-zakat-i harta tersebut. Idul Adha kemarin tidak tahu juga, ikut berqurban atau tidak. Bahkan, dengan tidak tahu malunya dia 'menggantol' (mengambil secara ilegal) listrik dari aliran listrik di jalan untuk keperluan tertentu. Padahal penghasilannya sebanyak itu, tapi tidak mau kehilangan sedikit uang untuk membayar biaya pemakaian listrik dan memilih cara ilegal. Apakah yang seperti itu bukan bakhil namanya? Udah bakhil, uthil, cethil, mbedhidhil.., apalagi ya sebutan yang tepat... Cari sendiri deh.

Maka ini bisa menjadi pelajaran bagi kita. Logikanya, kalau kita sudah menjadi wajib pajak, misalnya pendapatan sudah memenuhi PKP (Penghasilan Kena Pajak), ya harus pajak. Kalau tidak pajak, nanti kena denda, atau disita. Seperti itu pulalah dalam zakat, kalau sudah mencapai nishob, maka zakatnya harus dibayarkan. Jika tidak, maka Allah akan menarik dendanya, atau bahkan disita hartanya. Sudah banyak kan, contoh orang yang kehilangan jauh lebih banyak akibat tidak mau membayar zakat atau shodaqoh? Padahal, harta yang dizakatkan atau dishodaqohkan tidaklah hilang, melainkan justru menjadi tabungan milik kita yang sejati, yang jumlahnya dilipat gandakan oleh Allah.

Wallaahu a'lam...


Monday, May 11, 2009

Bukan VMJ, Tapi VAN


Oleh : Cahya Herwening


VMJ?? Apaan tuh?? Hmm, penulis yakin VMJ sudah bukan menjadi istilah asing. Bahkan termasuk istilah jadul, sudah lama dikenal oleh masyarakat, khususnya pada segmen tertentu. Jadi tidak perlu menjelaskan lagi apa dan yang bagaimanakah VMJ itu. Eh, tapi siapa tau ada kepanjangan lain selain yang dimaksud oleh penulis ya. Oke, yang dimaksud VMJ di sini adalah Virus Merah Jambu.

Selain seputar definisi, penulis yakin sudah banyak yang mengulas pula tentang sebab mengapa VMJ bisa muncul, akibat atau dampaknya, contoh-contoh kasusnya, dan sebagainya. Yang akan dipertanyakan di sini adalah, apakah nama VMJ itu masih relevan bila melihat pada tipe penyakit yang diakibatkannya dan potensi bahayanya??


Dalam sebuah forum taujih, seorang ustadz menyampaikan bahwa virus itu tidak layak dinamakan VMJ, Virus Merah Jambu. Karena, kesan dari nama itu justru kebalikan dari wujud dan bahayanya. Istilah "merah jambu" terkesan bagus, indah, menawan. Sedangkan virusnya sendiri dapat memberikan dampak luar biasa berbahaya. Antara lain contoh bahayanya ialah dapat merusak kelurusan orientasi dan kebersihan niat, membuka lebih lebar pintu syahwat dan implementasinya seperti khalwat, pacaran, bahkan perzinaan. Merobohkan bangunan kepribadian, fikroh dan amal sholih. Dan beberapa bahaya yang lain.

Dari potensi bahaya yang sedemikian besar, maka istilah VMJ jelas tidak relevan. Sebagaimana ustadz tersebut juga menyampaikan demikian. Menurut beliau lagi, jauh lebih cocok manakala virus itu dinamakan VAN, Virus Api Neraka. Rasanya, memang nama itu jauh lebih pas.

Kenapa Virus Api Neraka? Ya gampang saja jawabannya. Virus tersebut berpotensi menggiring pengidapnya menuju jurang neraka. Dengan tidak lurusnya niat dan orientasi, maka masuk kategori riya', sedang riya' adalah bagian dari kesyirikan. Apabila virusnya sudah menimbulkan dampak penyakit yang parah, maka pintu ke arah zina semakin dekat, padahal zina termasuk kabair (dosa besar). Jadi, nama VAN, Virus Api Neraka, memang jauh lebih relevan daripada VMJ.

Maka, dengan ini mendeklarasikan nama VAN -- VIRUS API NERAKA sebagai pengganti nama VMJ -- Virus Merah Jambu.


GOOOONGGG!!!!
(bunyi gong dipukul, tanda peresmian ). [ ]




sumber gambar: http://www.poconomountainleather.com/

Sunday, May 10, 2009

Bangganya Pria Jika Dicinta


Oleh : Cahya Herwening


Helloo... ketemu lagi dengan saya di tulisan-tulisan iseng. Namun meski iseng semoga sedikit banyak jadi bahan renungan dan inspirasi. Semoga judul di atas cukup menarik minat bagi yang kebetulan melihatnya di inbox. Sebagaimana salah satu syarat judul yang baik memang harus menarik, di samping harus menggambarkan isi tulisannya. Yuk kita mulai...

Pengambilan tema dan judul dari tulisan ini berawal dari selayang renungan, terhadap apa yang pernah dilihat, didengar dan dirasakan penulis. Khususnya terkait hal-hal yang berhubungan dengan masalah pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Lebih khusus lagi kondisi hati dan orientasinya dalam menjalin interaksi. Ini ada kaitannya juga, bahkan erat, dengan fase PeDeKaTe. Entah itu terjadi saat pertama kali berkenalan, atau saat mencoba memperdalam tingkat kedalaman hubungan.

Huee... sampai di sini, tampaknya pembicaraan mulai menghangat ya . Tema-tema seperti ini tampaknya akan selalu menarik, hangat, dan tak pernah basi. Meski itu semua kembali kepada paradigma sosial, apakah masih relevan untuk membicarakan permasalahan cinta, padahal masih jauh lebih banyak masalah-masalah lain yang harus dipikirkan. Namun masalah cinta yang sebenarnya kecil, dapat menjadi sumber bagi masalah-masalah dan peristiwa lain yang lebih besar, bahkan jauh labih besar. Perlukah diberikan contoh? Penulis rasa tidak perlu, karena sudah terlalu banyak, baik di masa lalu maupun peristiwa yang masih aktual, hangat dan menjadi sajian di layar kaca di setiap harinya.

Kita kembali ke jalur semula . Secara umum, yang namanya laki-laki, cowok, pria manapun, melakukan pendekatan kepada sebuah obyek (baca: wanita) pastilah berdasarkan ketertarikan. Entah karena suka atau sekadar simpati. Bisa karena rupa, watak atau karakter, sifat dan sikap. Namun, tak jarang sepertinya, yang melakukan PDKT karena iseng saja dan coba-coba.

Kita kesampingkan laki-laki yang benar-benar serius PDKT karena memang pengen berproses dalam menjemput jodohnya. Ya jelas, karena tidak ada orientasi yang salah. Lha kalau memang sudah siap memiliki pendamping, kenapa tidak? Ya kan? Nah, untuk selanjutnya kita bicarakan lelaki yang PDKT karena sekadar iseng.

Laki-laki, makhluk yang bisa jinak seperti domba, bisa juga liar seperti serigala. Terkadang, dia serigala berbulu domba. Hehehe.. ngeri memang. Sebagaimana serigala, ketika dia melihat mangsa, maka akan menyusun segala strategi untuk mendapatkan mangsa tersebut. Apakah dengan cara fair, atau kelicikan, segala cara ditempuh. Wah, lebay memang.

Intinya, jika ada sasaran yang menarik minat (faktanya, banyak sekali yang menarik minat), maka tentu menyusun strategi untuk melakukan pendekatan. Banyak sekali macam strateginya. Penulis mengupas tentang itu di tulisan yang lain, biar tidak buka-buka rahasia teknik PDKT cowok dan cogom (cowok gombal), hehe. Nah, tapi ya itu tadi, perlu diwaspadai bahwa tak sedikit PDKT yang hanya bersifat iseng saja!!

Hah?? Iseng!! Dasar, kurang kerjaan banget!! Yah, begitulah sebagian kenyataannya. Cowok itu merasa bangga, bila nantinya ada yang merespon dan kecantol dengan dia. Bangga jika nantinya ada yang benar-benar suka, atau sukses terkena jebakan gombalismenya. Penulis juga tidak tau, dari mana asal dari motivasi seperti ini, dan apa pula tujuannya. Yang jelas, rasa senang manakala ada yang terkena umpan di kailnya bisa jadi menjadi kenikmatan tersendiri.

Kemudian, setelah ada yang kecantol, lalu diapain? Ya penulis pun tidak begitu tahu. Semua bergantung dari jenis cowok itu. Ada yang kemudian mempermainkan untuk kesenangannya. Ada yang mendiamkan alias cuek dan meninggalkannya. Ada yang mencari sasaran-sasaran baru, agar makin banyak 'ikan' yang didapatnya. Memangnya mancing??

Begitulah. Di sini penulis hanya asal cerita saja. Mencoba share agar beberapa pihak terkait mewaspadai makhluk yang disebut cowok. Khususnya para cewek, agar semakin hati-hati. Dan terlebih, jangan memulai terlebih dahulu dengan memamerkan paras ayumu, tubuh seksimu, suara manjamu, tingkah centilmu. Semua bahaya akan kembali kepadamu. So, jaga diri dan hatimu. Waspada.. waspada!! [ ]

Saturday, May 9, 2009

Orang yang Terpuruk




Oleh : Cahya Herwening


Orang yang terpuruk bukanlah orang yang hidup miskin,
Bukan pula yang tadinya kaya raya dan konglomerat, kemudian jadi melarat.

Orang yang terpuruk itu bukanlah orang yang tidak lengkap anggota tubuhnya,
Atau pun tadinya lengkap kemudian cacat karena suatu sebab.

Orang terpuruk itu bukanlah orang yang gagal meraih keinginan,
Maupun juga yang gagal meraih cita-cita.

Orang terpuruk bukanlah orang yang....
...... belum bertemu jodoh padahal sudah berusia,
...... belum dikaruniai anak meski sudah lama menikah,
...... belum punya momongan dalam usia senja bahkan renta.



LALU??






















SIAPAKAH ORANG YANG TERPURUK ITU???





































Orang yang terpuruk adalah orang yang tak bisa memenuhi janji-janjinya,
Orang yang terpuruk adalah orang yang tak bisa menguasai nafsunya, bahkan mengumbarnya,
Orang yang terpuruk adalah yang menyia-nyiakan waktunya untuk kemaksiatan,
Orang yang terpuruk adalah yang tak bersemangat dan tak merasakan nikmat-manisnya ibadah.



Orang yang terpuruk adalah orang yang tak punya tujuan hidup...
Tak tahu mau ke mana....
Dan tidak pula tahu harus melakukan apa.........



Itu menurutku.
Kalau menurutmu??


Lalu.............sedang terpurukkah kamu???

Friday, March 13, 2009

Langkahkan Kaki dengan Mantap, Jangan Ragu


Oleh : Cahya Herwening


Dear readers and visitors,
pada posting sebelumnya kita melihat sebuah contoh tentang hal yang mungkin biasa kita alami. Hal yang tak jauh dari keseharian kita dalam beraktivitas, menentukan langkah, memilih serta mengambil keputusan. Keragu-raguan, kegamangan, bisa jadi adalah hal yang sering kita alami dan menjadi kendala biasa bagi kita semua.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan kita ragu. Yang kesemuanya sebenarnya bermuara pada yang satu: KARENA TIDAK TAHU.

Tidak tahu tentang apa? Boleh jadi:
- tidak tahu apa yang akan dituju,
- tidak tahu apa yang ingin dicapai,
- tidak tahu sebab dan latar belakang sesuatu,
- tidak tahu hal-hal yang berkaitan,
- tidak tahu alternatif-alternatif pilihan,
- tidak tahu (kekurangan data) tentang kondisi sebuah objek tertentu,
- tidak tahu apa yang akan terjadi (prediksi masa depan/forecasting),
- tidak tahu apa yang musti dilakukan,
- tidak tahu apakah mampu melaksanakan....
- dan ketidaktahuan-ketidaktahuan yang lainnya...

Maka, pertama dan utama yang harus dilakukan untuk mengatasi keraguan, adalah dengan menghilangkan ketidaktahuan. Jelas, tentu saja harus mencari tahu. Mencari tahu tentang apa saja yang harus diketahui, dan mencari tahu tentang apa saja itu sendiri. He.. semoga tidak bingung. Kalau tidak tahu memang harus mencari ilmunya. Ada sebuah prinsip yang harus dipegang ketika bergerak, yakni: "Al ilmu qabla al qaulu wal amal", "Ilmu, sebelum perkataan dan amalan."

Mencari ilmu itu banyak pintunya. Bisa lewat orang lain, membaca buku, mencermati berbagai media, mengamati lingkungan sekitar, menganalisis peristiwa, dan sebagainya. Semua harus bisa dioptimalkan untuk memaksimalkan inventarisasi pengetahuan kita.

Setelah punya ilmunya, sekarang tinggal bergerak, beramal, menentukan keputusan, mengambil pilihan. Pilihan harus dilakukan dengan mantap dan tanpa ragu. Tidak pernah ada cerita, bahwa keraguan bisa menjadi dasar pengambilan keputusan. Semua keputusan memang harus dilakukan dengan keyakinan. Kita ambil contoh ketika kita sedang shalat. Jika kita merasa kok sepertinya kita telah batal (karena buang gas misalnya) tapi masih ragu apakah benar telah buang gas atau belum. Maka keputusan yang harus diambil adalah membuang keraguan dan meneruskan shalat, dianggap belum batal. Karena ada hadits yang menjadi dasarnya, bahwa jika masih ragu maka hendaknya meneruskan shalat kecuali telah mendengar suaranya atau mencium baunya.

Contoh lain, ketika shalat juga. Kita lupa sama sekali berapa rakaat yang telah kita dapatkan. Kita ragu, apakah bilangan rakaat yang ini atau yang itu. Maka keputusan yang diambil adalah menyimpulkan bahwa kita mendapatkan rakaat sebanyak rakaat yang lebih kecil dari dua pilihan yang kita ragukan. Misalnya ketika shalat Dhuhur kita ragu, apakah telah melaksanakan tiga ataukah empat rakaat, maka kita mengambil keyakinan bahwa kita baru mendapatkan tiga rakaat, sehingga tinggal menambah satu rakaat lagi untuk menjadi empat rakaat. Hal seperti itu analog untuk wudhu, jika ragu telah membasuh suatu anggota badan sebanyak berapa kali. Dari contoh di atas, kita tahu bahwa keraguan itu memang harus dijauhi.

Terakhir, ada sebuah kaidah fiqh yang melandasi pengambilan keputusan (istimbath) yang terkait dengan keraguan, yakni:

"Dan dikembalikan hukum itu kepada yang diyakini dan keraguan tidaklah membatalkan keyakinan itu."

Beberapa dalil dari kaidah di atas antara lain :
"Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran." (QS. Yunus : 36)

"Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran." (QS. An Najm : 28)

Nah, jadi memang keraguan itu tidak bisa menjadi dasar apapun. Semua pilihan dikembalikan pada apa yang diyakini. Keraguan yang muncul karena persangkaan, tidak dapat membatalkan hal-hal yang telah diyakini. So, ambillah yang pasti dan buanglah yang ragu. Teramsuk dalam melakukan atau menjalankan sesuatu. Jalankan semuanya dengan keyakinan, dan kemantapan melangkah. Wallaahu a'lam. [ ]


sumber image: http://www.ends.com.au/images2/

Wednesday, February 18, 2009

Laporan Perjalanan Ust. Hilmi Aminudin dari Palestina: Alasan HAMAS Memenangkan Perang Gaza

Laporan Perjalanan Ust. Hilmi Aminudin dari Palestina
Alasan HAMAS Memenangkan Perang Gaza

Sadarkah antum bahwa berita yang kita dapatkan dalam siaran berita di televisi maupun lembaran koran seluruh dunia seputar perang Gaza rata-rata banyak sekali yang mengekspos penderitaan bangsa Palestina. Di sisi lain sering kali kita perhatikan ditampilkannya kabar bahwa seolah-olah Israel telah berhasil menang dalam peperangan yang mereka kobarkan di Gaza. Kita berhusnudzan, barangkali apa yang dilakukan media adalah cara mereka dalam memberi dukungan bagi rakyat Palestina. Semakin nampak penderitaan bangsa Palestina di hadapan dunia, maka otomatis akan semakin membangkitkan semangat pembelaan bagi rakyat
Palestina.

Namun nampaknya jarang sekali kita dengar kabar yang menggembirakan atas bangsa Palestina selama perang 22 hari di Gaza. Tahukah antum bahwa ternyata banyak sekali Allah turunkan pertolongan- Nya bagi rakyat Palestina selama perang 22 hari itu. Apa yang akan saya ceritakan berikut tidak banyak diekspos oleh media. Entah kenapa, atau mungkin karena apa yang mereka dapatkan bukan berasal dari sumber utama para tentara pejuang kemerdekaan Palestina
(brigade izzudin al-qassam dan HAMAS).

Dalam salah satu acara malam penggalangan dana untuk Palestina, Ust. Hilmi Aminudin bercerita tentang pengalaman beliau ketika mengantarkan rombongan para penyalur bantuan dari rakyat Indonesia langsung ke pemerintah HAMAS di Palestina. Alhamdulillah saya beruntung dapat mendengarkan cerita beliau secara langsung, dan kemudian saya ceritakan kembali pada teman-teman semua.

Selama kunjungannya di Palestina, Ust. Hilmi disambut langsung oleh para petinggi HAMAS. Beliau disambut di perbatasan Raffah-Mesir. Beliau beserta rombongan tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh pemerintah Mesir dengan alasan keamanan. Oleh karena itu, para petinggi HAMAS tersebut yang akhirnya menghampiri perbatasan untuk melakukan dialog. Ust. Hilmi beserta rombongan pada waktu itu membawa dana segar hasil pengumpulan dana dalam demonstrasi-
demonstrasi yang dilakukan bangsa Indonesia selama agresi Israel berlangsung. Alhamdulillah, total dana yang diberikan adalah sebesar 2 juta US dollar. Seolah sambil sedikit bercanda, Ust. Hilmi mengatakan bahwa uang yang terkumpul tersebut merupakan infaknya 'minal fukhoro wal masakin' (infaknya orang-orang fakir dan miskin). Maksudnya tentu bukan merendahkan yang
memberikan infak itu. Melainkan memberi gambaran bahwa jika uang yang dikumpulkan dari hasil demontrasi jalanan saja bisa sampai terkumpul 2 juta dollar, maka apalagi jika sudah melibatkan para agnia dan pengusaha? InsyaAllah dijamin jumlahnya akan berlipat lebih besar lagi.

Dalam dialog yang berlangsung bersama para pemimpin HAMAS tersebut, Ust. Hilmi
banyak mendapatkan cerita kondisi yang sebenarnya dialami oleh para tentara al- qassam. Subhanallah. .. ternyata Allah telah banyak menurunkan pertolongan dan lindungan-Nya selama perang berlangsung. Sangat banyak hal yang secara akal tidak lah mungkin terjadi. Pertama, secara kesenjataan, sudah sangat jelas bahwa perbandingan kekuatan persenjataan antara HAMAS dan Israel sangatlah jauh berbeda. Dalam sistem pertahanan kesenjataan, Israel
menempati urutan keempat di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan Inggris. Ini pun masih belum termasuk dengan bantuan militer yang diberikan Amerika Serikat untuk mendukung persenjataan selama perang Gaza.

Menurut salah satu sumber, disebutkan bahwa untuk perang Gaza, Amerika telah menyuplai persenjataan sebanyak lebih dari 60.000 ton. Bantuan itu dikirim dalam ratusan buah kontainer besar. Bantuan senjata ini dipercaya sebagai suplai senjata yang terbesar sepanjang sejarah persekongkolan Amerika-Israel. Maka coba bandingkanlah dengan HAMAS hanya mempersenjatai diri mereka dengan roket-roket berdaya jelajah menengah dengan daya rusak
yang tidak terlalu besar.

Kedua, jika dilihat dari besarnya pasukan, HAMAS hanya memiliki sekitar 15.000 personil. Sedangkan Israel memiliki 130.000 tentara aktif dan lebih dari 400.000 tentara cadangan. Ketiga, dari segi medan pertempuran, Gaza adalah kota yang terisolir. Sekelilingnya dibatasi oleh tembok-tembok blokade sepanjang lebih dari 750 KM dengan tinggi 8 meter, dan di setiap 10
meternya telah siap tentara Israel di atas pos blokade yang siap menembak mati siapapun warga Palestina yang mencoba mendekati tembok blockade tersebut. Segala hal hampir membuat tidak masuk akal bagi pejuang Palestina untuk memenangkan pertempuran.

Beberapa hari ke belakang kita menyaksikan sama-sama berita yang menceritakan
aksi perayaan kemenangan yang dilakukan warga Palestina baik yang di jalur Gaza maupun di tepi Barat. Bagi sebagian orang barangkali merasa heran, kemenangan macam apakah itu? Bukankah sudah lebih dari 1.200 orang menemui syahid, 5.000 lebih orang luka-luka, 13 masjid dibom, ribuan rumah hancur, jalan dan sarana publik hancur total. Apakah ini yang disebut dengan kemenangan? hal ini lah yang tidak kita ketahui kebenaran yang sesungguhnya.

Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat Palestina memenangkan pertempuran.
Para petinggi HAMAS itu bercerita, sebenarnya serangan yang dilakukan Israel awalnya direncakan hanya dalam 3 hari saja. Pertama kali mereka menyerang melalui serangan udara pada tanggal 27 Desember 2008, seharusnya menurut pemikiran mereka, akan dapat menguasai sepenuhnya Gaza dalam waktu tiga hari saja (29 desember 2008). Mereka berencana hanya akan melakukan serangan udara selama 3 hari, tanpa serangan darat, lalu pada tanggal 30-31 Desember 2008 mereka akan melakukan persiapan perayaan kemenangan dan perayaan tahun baru di Gaza.

Dikabarkan juga pada akhir tahun 2008 tersebut, sebagian tamu undangan yang rencananya akan menghadiri perayaan kemenangan Israel atas Gaza sudah bersiap di perbatasan untuk selanjutnya dapat memasuki Gaza. Tapi ternyata apa yang mereka dapatkan sangat jauh dari apa yang mereka bayangkan. Justru perlawanan yang sangat sengit dari pejuang HAMAS lah yang mereka dapatkan. Hal ini akhirnya memaksa zionis Israel untuk melakukan serangkaian serangan sporadis ke seluruh target. Pertempuran yang awalnya hanya diperkirakan akan
dimenangkan Israel dalam waktu tiga hari, ternyata meleset sangat jauh dari target.

Setelah perang melewati 10 hari serangan, tentara Israel mulai kehilangan konsentrasi dan fokus serangan. Sehingga serangan yang awalnya ditargetkan untuk menghancurkan basis-basis perlawanan HAMAS, akhirnya mulai berubah menjadi target rakyat sipil. Tentara Israel mulai kehilangan arah sasaran. Mereka tidak tahu lagi target mana yang harus mereka hancurkan. Dan
ternyata, target-target bangunan yang Israel klaim di media merupakan basis HAMAS, pada kenyataannya itu tidak lain hanyalah bangunan yang kosong tidak berpenghuni, atau bahkan malah target fasilitas publik dan sipil. Jika kita perhatikan berita di media asing, Israel selalu berkilah bahwa target sipil yang mereka hancurkan itu karena HAMAS sering menjadikan tempat-tempat macam itu sebagai tempat perlindungan dan gudang persenjataan. Padahal yang sebenarnya itu dilakukan Israel tidak lain hanya karena sudah bingung dan tidak tahu lagi
target serangan.

Kemudian salah satu pejabat HAMAS tersebut melanjutkan ceritanya kepada Ust. Hilmi. Beliau menambahkan, bahwa ternyata pihak Israel sebelumnya telah mempersiapkan pasukan elite mereka untuk berlatih sebelum serangan dilakukan. Jadi apa yang mereka lakukan itu tentunya bukan dilakukan dengan spontan, melainkan sudah melalui perencanaan yang matang. Para pasukan khusus itu dilatih di sebuah tempat yang kondisinya dibuat persis sama seperti keadaan
di kota Gaza. Mulai dari bangunan, jalan-jalan, bahkan sampai gang-gang sempit, semuanya dibuat mirip seperti kota Gaza. Ini diharapkan ketika mereka melakukan serangan darat, maka sudah dapat mengetahui medan pertempuran dengan sebaik- baiknya. Tetapi ternyata apa yang mereka dapatkan setelah terjun langsung ke medan pertempuran yang sebenarnya? Ternyata apa yang mereka dapatkan sungguh berbeda menurut pandangan mereka. Target yang
awalnya sudah mereka rencanakan dan dicurigai merupakan tempat persembunyian tentara pejuang Palestina ternyata tidak pernah mereka temukan. Ketika mereka masuk ke bangunan atau rumah yang awalnya mereka curigai sebagai markas, ternyata tidak lain hanyalah sebuah rumah biasa milik penduduk sipil.

Barangkali kita bertanya-bertanya dalam benak kita semua. Bagaimana mungkin HAMAS tetap bisa menggalang kekuatan. Padahal sekeliling kota Gaza sudah diblokade dengan tembok-tembok raksasa dan pos penjagaan di tiap perbatasan. Dari mana mereka mendapatkan suplai untuk persenjataan mereka? Di luar dugaan, ternyata roket-roket yang dibuat HAMAS itu terbuat dari barang-barang bekas. Rangka roketnya terbuat dari bekas tiang listrik, kabel-kabel sambungan detonatornya terbuat dari kabel yang ada di rumah-rumah warga, bahan bakar
roketnya terbuat dari gula, dan hulu ledaknya terbuat dari kimia sederhana yang mereka racik sedemikian rupa. Selain itu, suplai bahan baku senjata juga mereka dapatkan melalui ratusan terowongan yang mereka buat yang melintasi perbatasan.

Israel mengklaim bahwa mereka telah berhasil menghancurkan banyak terowongan yang sering dimanfaatkan warga Gaza untuk transfer barang dari dan ke kota Gaza. Tetapi yang perlu kita ketahui adalah ternyata apa yang berhasil Israel hancurkan itu hanya 200 terowongan dari total terowongan yang berjumlah 800 buah. Jadi setidaknya masih ada 600 terowongan yang tersisa dan belum hancur. Adapun terowongan yang sudah hancur tersebut, pihak HAMAS menyebutkan bahwa mereka akan selesai memperbaikinya kembali hanya dalam 3 bulan.

Secara fisik, mungkin HAMAS lah yang paling banyak menderita kerugian. Namun ini sama sekali bukanlah indikasi kekalahan HAMAS. Justru Israel lah yang kalah! Betapa tidak, HAMAS telah membuat perlawanan yang sangat sengit sehingga Israel melewati target lama pertempuran yang telah direncanakan, dan akhirnya mundur dari Gaza tanpa syarat apa pun. Ingat... tanpa syarat
apapun!!! Justru pihak Israel lah yang pertama kali mengumumkan gencatan senjata sepihak,
sementara pada saat itu HAMAS sama sekali menolak gencatan senjata dan terus memberi perlawanan. Bahkan menurut kabar, lima menit sebelum Israel mengumumkan gencatan senjata, HAMAS masih meluncurkan roketnya ke wilayah Israel. Secara tersirat, HAMAS seolah ingin memberikan ancaman pada Israel bahwa perlawanan mereka tidak pernah berhenti sedikit pun dan kondisi persenjataan mereka masih dalam kondisi prima. Perlu ditambahkan juga bahwa
selama perang Gaza, HAMAS telah meluncurkan sekitar 900 roket, dan itu tidak lebih hanya 1 % dari total jumlah roket yang mereka miliki.

Lebih jauh lagi, salah satu pejabat HAMAS tersebut menyampaikan bahwa mereka sama sekali tidak membutuhkan kiriman pasukan mujahid dari negara mana pun. Beliau mengatakan, "kami hanya kehilangan 48 orang mujahid selama perang berlangsung, dan masih punya belasan ribu pasukan yang lain." Melalui Ust. Hilmi, para pejuang HAMAS ingin mengucapkan rasa terimakasih dan rasa bangga yang sebesar-besarnya atas apa yang telah diupayakan rakyat Indonesia. HAMAS berharap bahwa kalaupun ada yang ingin memberikan bantuannya kepada
Palestina, maka berikanlah bantuan itu dalam wujud bantuan kemanusiaan berupa makanan,
minuman, obat-obatan, pakaian, atau uang tunai. Karena sesungguhnya itu yang lebih mereka butuhkan daripada mengirimkan bantuan pasukan jihad.

InsyaAllah.. . apa yang telah kita upayakan bersama ini untuk membantu rakyat Palestina bukanlah yang terakhir kali. Masih akan datang lagi bantuan-bantuan berikutnya. Pendistribusian bantuan yang dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus memang bukan tanpa alasan. Ini dikarenakan pemerintah Mesir yang berbatasan langsung dengan Gaza tidak mau untuk memberikan izin masuk Gaza jika dilakukan secara besar-besaran. Salah satu pihak pejabat Mesir mengatakan bahwa mereka tidak mau ambil risiko dengan pihak Israel. Sehingga
hal ini membuat kita untuk secara bertahap dan sedikit-sedikit dalam menyalurkan bantuan ke Gaza.

Barangkali perlu juga menjadi catatan bagi kita, bahwa ternyata aksi-aksi yang kita lakukan selama ini ternyata adalah aksi terbesar di selurh dunia. Di saat saudara-saudara kita di belahan dunia lain harus dikejar-kejar polisi dan dijaga ribuan aparat setiap melakukan aksi solidaritas, lain halnya dengan apa yang kita lakukan di Indonesia. Semangat pembelaan terhadap bangsa Palestina harus terus kita gelorakan di bumi manapun kita berada. Jangan pernah berhenti hingga yahudi laknatullah itu pergi dari bumi jajahan mereka, dan Palestina terbebaskan sepenuhnya dari cengkraman yahudi.

Allahu akbar!!!

Monday, November 17, 2008

Surat Wasiat Imam Samudera

imam samudraPeka media. Itulah predikat yang pantas untuk disematkan kepada ketiga Mujahid Bali, Imam Samudera, Amrozi, dan Mukhlaas. Terutama Imam Samudera yang tidak henti-hentinya menggunakan media cetak dan elektronik untuk menyampaikan pesan-pesan mereka.

Bahkan saat ini, setelah Imam Samudera syahid dibunuh oleh aparat pemerintah, beliau masih memikirkan untuk membuat surat wasiat yang ditujukan kepada seluruh kaum Muslimin. Surat wasiat ini dibagikan kepada khalayak ramai yang melayat dan memberi penghormatan terakhir kepadanya di Kampung Lopang Gede, Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, Banten. Berikut surat wasiat yang dibagikan dalam secarik kertas HVS.

“Saudara, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh umat Islam yang telah mengazzamkan dirinya kepada jihad dan mati syahid untuk terus berjihad dan bertempur melawan setan akbar, Amerika dan Yahudi laknat.

Saudaraku, jagalah selalu amalan wajib dan sunnah harian antum semua. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunnah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita semua dari bahaya futur dan malas hati.


Saudaraku, jagalah salat malammu kepada Allah Azza Wajalla. Selalulah isi malam-malammu sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum semua sepenuhnya kepada kekuasaannya. Ingatlah saudaraku, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.

Kepada antum semua yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belum usai. Janganlah takut cercaan orang-orang yang suka mencela, sebab Allah di belakang kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir, sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua, adalah Islam atau kafir.

Misteri Tanda Syahid Amrozi Cs Terkuak (FOTO SENYUMAN JENAZAH AMROZI)

foto jenazah

Tiada kata yang terucap melainkan kalimat takbir, Allahu Akbar, atas kondisi jenasah ketiga syuhada Bali. Betapa tidak, ketiga syuhada tersebut sangat jelas menampakkan tanda-tanda sebagai syahid seperti yang biasa ditemui di kancah peperangan, meski mereka ‘tidak sedang berperang’ melawan musuh Islam. Demikian diberitakan dalam http://muslimdaily.net

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Kantor Berita Islam Muslimdaily.net mendapat ijin dari pihak keluarga, yang diwakili oleh Bp. Ali Fauzi, untuk mempublikasikan photo dua mujahid Bali yakni Amrozi dan Ust. Mukhlas. Bp Ali Fauzi berpesan agar photo ini disebarluaskan untuk memberikan bukti nyata atas misteri dan polemik yang terjadi ke atas Mujahid Bali, terutama Syuhada Tenggulun, terkait status mereka, apakah mati syahid atau tidak. Disamping itu memberikan hikmah nyata kepada seluruh kaum Muslimin bahwa perjuangan Islam yang mereka lakukan benar-benar ikhlas untuk tingginya kalimat Allah, dan bukan sekedar untuk aksi pamer.

Sebagaimana syuhada yang gugur dalam medan jihad, photo kedua syuhada Tenggulun terlihat tersenyum dengan barisan gigi yang terlihat rapi. Apalagi yang terjadi dengan Amrozi. Senyuman khas “The Smiling Bomber” yang seiring dengan kedua mata yang terbuka, terlihat seakan-akan bertemu dengan sesuatu yang membuat kagum. Mungkin sepasang bidadari yang menyambut ramah.

(BACA BERITA ASLINYA DI http://muslimdaily.net aja)

Kondisi tak jauh berbeda terjadi dengan jenasah Ust. Mukhlas. Ulama yang jago berorasi ini memperlihatkan senyuman dengan mata yang juga terbuka. Wajah bersih pun menjadi pertanda yang lain. Wajah bersih yang juga dimiliki oleh sang “Mujahid Hacker,” Imam Samudera alias Abdul Azis. Imam memperlihatkan wajah tampan dan bersih, persis dengan kondisi Ust. Mukhlas.

Disamping analisis photo ketiga Mujahid Bali tersebut, keterangan dari lapangan makin memperkuat bukti bahwa ketiga pelaku aksi jihad tersebut adalah para Mujahidin, mereka telah memiliki niat yang tulus dan menemui kematian sebagai seorang syuhada. Berikut adalah bukti dan persaksian dari lapangan.

  1. Salah satu pelayat yang kebetulan ikut hadir di kediaman Hj. Tariyem adalah Ust. Abdul Rachim Ba’asyir. Menyaksikan bahwa ketika keranda jenasah masuk dan kain penutup keranda dibuka, sontak tercium bau wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. Kejadian ini sempat membuat keheranan para pelayat, karena didalam ruangan yang sempit tersebut udara sangat pengap dan pengunjung berjubel dalam satu ruangan. Bila merupakan wangi dari minyak wangi, tak akan mampu mengalahkan bau badan para pengunjung dan tidak akan dapat memberikan aroma dengan kadar wangi yang sama.” Allahu Akbar. Itu bukan bau minyak wangi. Bukan. Tapi bau wangi dari asy syahid,” kata beliau.
  2. Selain itu, masih menurut Ust, Abdul Rachim, ketika kain penutup wajah dari Ust. Mukhlas di buka, terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di bagian muka. Kondisi yang sama yang terjadi dengan mereka yang masih hidup dan dalam kondisi kegerahan. Seakan Ust. Mukhlas merasakan kegerahan yang sama yang dengan kegerahan yang dialami oleh para pelayat beliau.
  3. Sebagaimana dilansir oleh beberapa media nasional, seperti detik.com, nampak jelas terlihat fenomena datangnya tiga burung hitam di atas kediaman syuhada. Ketiga burung ini jelas bukan burung Gagak seperti yang banyak diberitakan di media, karena memiliki leher yang panjang. Mereka datang begitu saja berputar-putar selama kurang lebih tujuh menit, dan kemudian pergi berpencar. Dua burung hitam terbang ke arah Timur, mereka merepresentasikan diterimanya amalan jihad Ust Mukhlas dan Amrozi, dan satu burung hitam terbang ke Barat, sebagai pertanda syahid atas diri ‘Mujahid Hacker’ Imam Samudera. Fenomena datangnya burung hitam ini sempat membuat suasana haru dengan teriakan takbir para pelayat.
  4. Seperti penuturan adik kandung Imam Samudera, Lulu Jamaludin, kakaknya menampakkan keanehan ketika akan dimasukkan dalam liang lahat. Bau wangi juga tercium dari jenasah Imam. Selain itu luka bekas tembakan peluru tajam terus menerus mengalirkan darah segar. Aliran darah ini keluar seperti yang terjadi dengan seseorang yang masih hidup ketika terluka. Masih menurut Lulu juga, wajah kakaknya lebih bersih dan tampan dari biasanya.
  5. Kabar terakhir baru saja diterima oleh salah satu kru muslimdaily.net. Beberapa hari yang lalu, tepatnya tiga hari setelah pemakaman Amrozi dan Ust. Mukhlas, keluarga Hj. Tariyem meminta beberapa orang untuk menjaga makam. Hal ini dilakukan untuk menghindari dan menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa diantara mereka yang ikut jaga adalah Sumarno, Baror, Rosyidin, Mashudi dan beberapa santri pondok Al Islam Tenggulun Lamongan. Mereka mengatakan mencium bau wangi keluar dari dalam kubur (makam). Bau wangi yang sama saat mereka pertama kali membuka kain penutup jenasah syuhada. Namun, bau wangi ini bukan seperti bau dari minyak wangi yang biasa mereka pakai atau dipakai oleh orang kebanyakan.

Jelas sudah keterangan yang diberikan Allah s.w.t. lewat kebesaran-Nya. Meski banyak pihak yang membantah, memberikan suara sumbang, dan menggalang opini massa untuk memojokkan status para Mujahid Bali, serta membuat makar melalui kaki tangan aparat pemerintah, namun Allah berkehendak lain. Dan siapakah sebaik-baik pembuat makar? (far/MD)


dari: http://andryzone.wordpress.com/2008/11/16/misteri-tanda-syahid-amrozi-cs-terkuak-foto-senyuman-jenazah-amrozi/

Thursday, August 14, 2008

Cerita di Balik Acara Nonton Bareng Film “Sang Murabbi” di Grha Wanabhakti Yasa, Yogyakarta, 7 Agustus 2008


Oleh : Cahya Herwening


Subhanallaah, antrian panjang memenuhi front desk registrasi malam itu. Cukup sulit dipercaya, sesuatu yang hampir di luar dugaan, peserta nonton bareng pada malam itu bisa sebanyak itu. Ketika acara di mulai, pengunjung sudah mulai memenuhi ruang besar itu, dan makin malam makin bertambah. Padahal, publikasi dengan pamflet tempelan hampir tidak ada, hampir sepenuhnya mengandalkan mobilisasi internal, baik MLM (mulut lewat mulut) maupun STS (SMS to SMS). Ini sungguh pertolongan Allah. Dan itu baru satu pertolongan dari beberapa pertolongan yang diberikan-Nya.

Di awal, sama sekali tidak ada bayangan untuk menggelar acara dengan konsep pelaksanaan seperti itu. Nonton bareng yang direncanakan di awal adalah acara yang dikhususkan untuk panitia Launching Pemuda Keadilan, yang menyiapkan perlengkapan dan berjaga semalam untuk keperluan launching pada pagi harinya, pada 8 Agustus 2008. Launching itu sendiri sedianya dilaksanakan di Monumen Serangan Umum 1 Maret, dekat Benteng Vredeburg, kawasan Malioboro. Karena lokasi merupakan tempat terbuka, maka jika ada nonton film harus malam hari. Maka ada ide untuk menggelarnya malam Kamis, malam sebelum launching, untuk memberikan penyegaran pada para panitia. Sekaligus mencoba men-shibghoh lingkungan di sekitar itu yang biasanya ramai oleh kemaksiatan dengan nilai-nilai kebaikan sebagaimana yang dikandung oleh film tersebut.

Namun baru beberapa hari sebelum acara launching itu terlaksana, tepatnya pada hari Sabtu, 2 Agustus, ada informasi bahwa ternyata kawasan itu (jalan protokol Malioboro) termasuk kawasan yang dilarang untuk kegiatan dalam bentuk apapun yang melibatkan partai tertentu peserta pemilu 2009. Tentu saja panitia harus segera mencari tempat pengganti. Alternatif pertama jatuh pada Museum Perjuangan, yang berlokasi di jalan arah timur dari Pojok Beteng Wetan Kraton Yogyakarta (nggak hafal nama jalannya). Pertimbangan pilihan tempat itu karena halamannya luas, dan bisa dijadikan momen untuk memperkuat kembali nilai-nilai perjuangan. Tepat sekali dengan konteks PeKa (Pemuda Keadilan) yang diharapkan menjadi para pemuda pejuang yang membela nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Malam harinya muncul gagasan untuk mencari alternatif tempat yang lebih strategis, lebih terjangkau, karena alternatif di Museum Perjuangan terkesan agak ‘terpencil’ (padahal di tengah kota ^_^), susah dijangkau, dan kurang ramai. Muncul pilihan di halaman Mandala Bhakti Wanitatama, dan ini segera dikomunikasikan ke beberapa panitia. Setelah pihak pengelola gedung dihubungi, ternyata tidak bisa memakai tempat di sana karena gedung dipakai untuk acara pernikahan dan halamannya digunakan untuk parkir. Akhirnya pilihan jatuh di Grha Wanabhakti Yasa, gedung yang telah beberapa kali dipakai untuk kegiatan jama’ah kita.

Ada konsekuensi besar manakala memakai gedung tersebut, yakni biaya sewa gedung yang selangit. Hal ini dikonsultasikan ke struktur, dan ada masukan untuk membesarkan sekalian acara itu. Acara dibuat besar, dan dibuka untuk umum. Tujuannya agar peminjaman gedung yang mahal itu tidak sia-sia dan bisa dioptimalkan untuk syiar.

Mau tak mau panitia harus melakukan penyesuaian dengan rancangan acara yang baru. Publikasi harus digencarkan, persiapan alat-alat dan sarana, dan sebagainya. Untuk publikasi, yang akan digunakan adalah spanduk dan pamflet. Lalu kebutuhan perlengkapan yang segera harus dicari adalah tikar minimal sebanyak seratus lembar, proyektor LCD sebanyak lima buah beserta layarnya, RGB link cable yang panjang, hub, dan lain-lain. Masih banyak lagi yang harus disiapkan, sehingga hampir-hampir fokus kerja panitia berubah total dari menyiapkan hari H launching menjadi hari H nonton bareng.

Tim perkap, yang menjadi penanggung jawab terpenuhinya kebutuhan alat dan perlengkapan, hampir semua anggotanya berasal dari Gunung Kidul. Praktis hanya ketua sie dan dua staf saja yang bisa bergerak karena domisilinya terbilang dekat. Maka personil dari sie yang lain harus backing up. Itupun mereka telah disibukkan oleh tugas-tugas di tiap sie mereka. Tapi semua harus bisa berjalan baik, dalam waktu sesingkat itu.

Bagaimana dengan CD filmnya? Pada awalnya, informasi yang kami ketahui adalah bahwa CD film ”Sang Murabbi” sudah dirilis pada tanggal 3 Agustus 2008. Sehingga kami berasumsi bahwa pada tanggal 7 itu kami sudah memiliki CD-nya dan memutarnya dalam acara itu. Pada tanggal 3 (Ahad) malam, DPD Sleman dikontak apakah CD filmnya sudah sampai. Ternyata, kami mendapat informasi terbaru bahwa CD film ”Sang Murabbi” baru akan dirilis, dengan kata lain baru akan dikirim ke daerah-daerah pada tanggal 10 Agustus. Wow, that’s great!! Seketika itu juga pandangan kami menjadi ’gelap’. Eh, tapi nggak sampai pingsan lho...

Dengan apapun caranya, CD ”Sang Murabbi” harus sudah ada tanggal 7 Agustus, begitu pikir sang komandan PeKa, Mas Wiwid. Bagaimana tidak, informasi sudah disebar, pelbagai peralatan sudah mudah disiapkan, blow up media juga mulai dilakukan. Apa jadinya jika acara itu tiba-tiba dibatalkan? Maka hari Senin, 4 Agustus kami coba menghubungi beberapa relasi. Misalnya Nada Nurani, sebagai salah satu distributor di Yogya, atau juga Fatih (grup nasyid) menanyakan tentang CD film itu. Ternyata memang tanggal 10 itu baru ada di Yogyakarta. Mau tak mau, pilihan terakhir, langsung mengontak pusat. Mas Wiwid menelpon DPP, melobi, menjelaskan tentang apa yang terjadi, bahwa informasi awalnya CD itu sudah rilis tanggal 3 Agustus, bahwa akan ada acara launching PeKa pada tanggal 8 bulan 8 pukul 8, bahwa informasi tentang acara sudah tersebar, blow up media sudah dilakukan, dan seterusnya. Ternyata mendapat respon positif; ”... wah, begitu ya Mas. Ya, ya, saya sepakat sekali Mas. Acara itu harus tetap berjalan. Saya akan usahakan Mas. Akan saya kontak beberapa orang terkait. Besok silakan menghubungi lagi. Insya Allah semua akan beres.” Huff... siang itu, sedikit jalan terang telah terlihat. Sorenya, penulis menyempatkan memberikan informasi pengumuman terkait acara launching dan nonton bareng, di salah satu tatsqif gabungan di Sleman yang penulis hadiri. Modal nekat saja, padahal belum pasti beres terkait urusan CD-nya. Biar saja, sekalian minta do’a pada ikhwah di sana agar agendanya bisa terlaksana.

Hari Selasa, DPP kembali dikontak, lalu kita diberikan rekomendasi untuk menghubungi langsung penanggung jawab Majelis Budaya Rakyat, Pak Yulius. Menjelaskan kepada beliau beberapa hal dan akhirnya ada kesepakatan bahwa film itu bisa diusahakan untuk acara tersebut di Yogya. Konsekuensinya adalah, harus ada jaminan keamanan film jangan sampai dalam acara tersebut ada yang merekam, lebih-lebih meminjam atau meng-copy CD-nya. Dan Pak Yulius sendiri yang akan mengawal CD itu sampai ke Yogyakarta dan menjamin keamanannya, dan direncanakan akan tiba di Yogyakarta hari Kamis waktu ashar. Wow!! Luar biasa. Ini satu-satunya di Indonesia, ada pemutaran film di daerah untuk pertama dan satu-satunya setelah launching di Jakarta dan sebelum rilis tanggal 10 Agustus. Yogyakarta memang istimewa, seperti statusnya sebagai Daerah Istimewa. He..he..he... Nah, untuk sementara urusan CD film bisa dikatakan beres.

Kepastian akan CD film membuat para panitia makin mantap dan berusaha sekuat tenaga menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari mencari alat-alat yang belum tersedia, mematangkan konsep acara, sistem pengamanan (koordinasi dengan tim Kepanduan), lembur untuk mengangkut dan memasang bendera (malam Rabu) dan sebagainya. Ujian datang silih berganti. Spanduk yang harusnya jadi lebih awal agak molor, maka pemasangan pun agak terlambat. Lebih parah lagi, pamflet tempelan dan bendera PeKa. Seharusnya pamflet sudah bisa terpasang minimal hari Selasa, namun hingga Rabu belum juga selesai dicetak (percetakannya bermasalah). Maka pada malam Kamis, 6 Agustus, coba diganti dengan foto copy-an dan disebar bersamaan dengan pemasangan spanduk malam itu. Jelek memang, tapi apa boleh buat, daripada tidak ada publikasi sama sekali.

Bendera PeKa (Pemuda Keadilan), yang sudah harus terpasang hari Kamis di lokasi acara pun sangat-sangat molor. Kamis pagi, 7 Agutus, ada informasi dari perkap bahwa ternyata desain yang disetor ke tempat penyablonan belum diapa-apain sama sekali!! Alasannya yang bertugas menyablon sakit, dan inipun tidak diberitahukan kepada ’bos’-nya. Coba kalau memberitahukan, maka tentu akan segera dicarikan pengganti. Tapi, ya seperti itulah yang terjadi, maka praktis jam 9 pagi itu baru mulai dibuat. Ya Allah.... tolong. Coba bayangin Frens. Sedangkan pamflet, baru siang sekitar pukul 13 jadi dan diambil, itupun hanya satu warna. ’Baguus!!’  Tapi, mau tidak mau siang itu hingga pukul 16 tetap berusaha dipasang, daripada cuma dionggokin kan mubadzir. Meski kita tahu, hal itu sudah sangat tidak signifikan. Pfiuhh....

Ba’da ashar, dengan beberapa tambahan tenaga di luar kepanitiaan, bendera PeKa di pasang di lokasi. Sound system pun dalam proses pemasangan oleh petugasnya. Layar besar yang digunakan sebagai layar utama tidak jadi dipinjam, dan cukup menggunakan dinding belakang panggung yang lebar. Jadi tidak perlu repot memasang layar utama. Sedang layar-layar kecil beserta LCD belum semuanya datang. Begitu pula tikar, belum jelas siapa yang mengambil dan dengan apa mengambilnya. Meja registrasi belum disiapkan, meski tinggal ambil di belakang. Wah, hampir kurang terkoordinasi kondisi di lokasi, karena panitia yang ada tinggal beberapa gelintir, tidak ada satu pun yang berposisi sebagai koordinator. Heran juga, pada ke mana ini, sudah jam segini kok hanya beberapa gelintir yang terlihat di lokasi? Sudah tahu sih sebenarnya, bahwa sebagian besar pada menyebar untuk mengambil alat dan perlengkapan yang belum ada. Tapi…

Adzan maghrib berkumandang. Masih juga lokasi sepi dari panitia, padahal sudah mulai malam. Perlengkapan sama sekali belum lengkap; tikar belum terpasang, LCD juga belum ada, layar pun belum terlihat. Peserta sudah mulai ada yang datang!! Ketika ditanya, katanya mereka mendapat informasi bahwa acaranya pukul 18.00. Wadhu… padahal belum ada apa-apanya nih… gimana nih?? Tenang.. tenang.. maghrib dulu, jamaah sama beberapa temen. Setelah maghrib merasa lebih tenang. Beberapa panitia sudah mulai datang. Penulis memutuskan meninggalkan lokasi karena belum mandi dan pastinya bau. Maka segera balik ke base camp (DPW) untuk bersih diri, ganti pakaian, dan shalat isya’ karena adzan dah kembali memanggil hamba Allah untuk bersujud.

Setelah isya’ segera berangkat kembali ke lokasi dan … subhanallah, tikar sudah gilar-gilar tergelar di lantai ruang dalam. Proyektor LCD sudah terpasang plus layarnya, sebagian tengah diset oleh panitia. Alunan musik selingan sudah pula terdengar. Antrian peserta … wuihhh … pwanjaaang!!! Sebegini cepatnya kondisi berubah. Semuanya telah siap, dengan jumlah peserta yang membludak. Tinggal memulai jalannya acara kini. Justru di situ sedikit masalah berikutnya, siapa MC-nya? Kesibukan mempersiapkan perlengkapan agaknya membuat agak terlalaikan dengan jalannya acara itu sendiri. Di awal MC sudah ditentukan yakni Irwan dan Fitra. Tapi ternyata yang tahu kalau jadi MC baru Irwan, itupun baru saja. Oh noo!! Tampaknya Allah menghendaki penulis untuk turun tangan langsung. Maka tanpa ragu penulis menawarkan diri menjadi MC di acara malam itu. Hmm.. kalau dipikir-pikir, itu pengalaman pertama penulis menjadi MC untuk acara sebesar itu, dadakan lagi!! Bayangkan, debutan plus dadakan, apa jadinya nanti?

Segera kami berdua berkoordinasi tentang apa yang akan dibawakan nanti. Agar kompak, pikiran kami harus melebur menjadi satu, kami harus sehati. Beberapa saat belum bisa dimulai karena masih menanti yang akan memberi sambutan, yakni mas’ul dakwah DIY, Ust. Sumiyanto. Setelah beliau hadir, maka acara segera kami mulai. Pembukaan, kemudian tilawah keren oleh akh Shafwan yang bersuara indah, disusul sambutan oleh Ust. Anto, lalu taujih oleh Ust. Cholid Mahmud yang membuat beberapa hadirin meneteskan air mata. Walah… sambutan dan taujihnya kepanjangan, kasihan yang akhwat nanti makin kemalaman pulangnya. Setelah itu masuk ke acara inti, pengantar film oleh Pak Yulius dan pemutaran filmnya. Antusiasme peserta terlihat malam itu. Mereka terbawa alur cerita filmnya, misalnya tertawa dengan beberapa adegan lucu, bertepuk tangan terhadap beberapa hal yang memang patut dipuji. Beberapa hal lain yang juga terlihat dapat menjadi bahan analisis sosial terhadap kader. Kata seorang teman, “wah … sulukiyah kader muncul semua….”

Meski agak tersendat di awal (CD error dikiiit), pemutaran film berjalan lancar hingga selesai. Selesainya film disambut dengan tepuk tangan yang riuh. Banyak peserta yang mengakui bahwa film itu memang keren. Tentunya panitianya nggak kalah keren dong, he..he..he… meski sekali lagi, itu karena pertolongan Allah swt. Betapa tidak, acara itu hampir saja tidak terlaksana. Pak Yulius bercerita, bahwa sebenarnya dia kehabisan tiket pesawat satu-satunya yang sampai di Yogya sebelum acara. Tempat duduk telah penuh. Namun pihak maskapai penerbangan mengatakan masih bisa menambah penumpang lagi. Maka jadilah satu kursi lagi dipasang sehingga bisa mengangkut Pak Yulius hingga ke Yogyakarta. Subhanallaah…. Allaahu akbar!!!! [ ]

Friday, July 11, 2008

Prosesi Pernikahan yang Sederhana


Oleh : Cahya Herwening


Pernikahan adalah bagian dari ibadah dalam Islam, baik sebelum, saat proses maupun sesudahnya. Sehingga mulai dari niat, orientasi, cara dan metode yang ditempuh untuk menemukan sang jodoh serta cara yang digunakan untuk melaksanakan prosesnya pun hendaknya sesuai dengan aturan dan adabnya. Aturan ini tentu saja mengacu pada aturan dari Sang Pemilik Aturan, yakni Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam artian, segala hal yang berkaitan dengan pernikahan itu disesuaikan dengan nilai-nilai syari’at Islam.

Proses pernikahan para aktivis dakwah, analog, tak juga lepas dari bagian dakwah. Baik sebelum, selama proses dan sesudahnya. Maka orientasi itu harus lurus orientasi bervisi tinggi, visi ukhrawi, dan cara pelaksanaannya harus ditempatkan setepat mungkin dalam rangka melakukan syi’ar dakwah kepada masyarakat. Pernikahan adalah sarana strategis karena di sana terjadi interaksi banyak orang, mulai dari kedua mempelai, kedua keluarga mempelai, tetangga dan para tamu yang hadir dalam pesta pernikahannya (walimatul ‘ursy).

Dalam proses pernikahan, yang menjadi salah satu titik kritis adalah pelaksanaan syukuran atau pesta pernikahannya. Sering terjadi konflik batin di sana, antara keluarga, orang-orang yang membantu acara tersebut dan para tamu. Penulis yang sering menjadi petugas sinoman (penyaji minuman dan hidangan) di kampung sering merasakan hal-hal seperti ini. Misalnya, kita tidak memahami dengan jelas seperti apa maunya si empunya acara. Banyak hal yang tidak perlu dilakukan, tapi dengan alasan gengsi atau gaya, maka harus begini begitu. Tapi tetap saja komando sering tidak jelas, bahkan para petugas cenderung sering harus memikirkan sendiri tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Padahal sering juga, sarana yang ada tidak lengkap, mulai dari alat makan dan pelengkap lainnya. Gelas yang kurang, piring dan sendok yang tidak mencukupi. Padahal tamu sangat banyak dan belum terlayani dengan baik, terkadang makanan yang disediakan kurang. Para juru masak di belakang harus bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan. Itupun kadang para petugas tidak kebagian jatah. Bukan karena apa-apa, namun jika secara fisik sudah terbekali sumber energi yang cukup niscaya bisa bekerja dengan lebih baik. Itu saja.

Itu sekilas yang sering terjadi di kalangan umum yang pernah penulis rasakan. Sudah acaranya kurang bermakna, merepotkan banyak orang mulai dari keluarga besar hingga masyarakat sekitar, mengecewakan para tamu sehingga yang menjadi petugas pun harus ikut menanggung malu. Tapi demi profesionalitas, tetap saja kita bekerja dengan sebaik-baiknya. Namun dengan catatan, kalau pekerjaan sudah cukup beres maka segera melarikan diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Hehehe…. soalnya sudah cukup menanggung malu dan menahan jengkel.

Pernikahan para ikhwah aktivis dakwah hendaknya jauh dari sekilas contoh di atas. Harus ada makna yang terkandung di sana, ada hikmah yang bisa diambil, memuaskan para tamu meski acara digelar dengan sederhana, tidak merepotkan banyak orang terutama para tetangga tapi justru mereka menjadi bagian dari tamu yang tinggal menikmati acara, meski mereka juga sedikit banyak membantu acara kita. Satu hal yang perlu diperhatikan, yakni adanya syi’ar dakwah yang harus terasa di sana sehingga memberikan pencerahan kepada masyarakat bagaimana prinsip perhelatan pernikahan dalam Islam.


Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Ahad 29 Juni 2008, penulis cukup merasakan adanya suasana seperti ini. Sebuah pernikahan yang sederhana, tapi bermakna dan berlangsung khidmat. Tetangga juga tidak kerepotan karena hanya sedikit yang dilibatkan dalam acara tersebut sebagai bagian dari pembantu hajatan. Meski tamu yang hadir secara kuantitas lebih sedikit dari perkiraan penulis, tapi tetap tidak mengurangi makna acara. Saat itu penulis bertugas sebagai penjaga parkir, dan melihat tamu yang memarkirkan motor tidak seberapa dibandingkan luas area parkir yang disediakan. Harapannya sih, akan banyak anak-anak kampus yang datang. Tapi karena pada saat itu dilaksanakan juga pernikahan ikhwah yang juga dari fakultas yang sama dengan mempelai pria (Kehutanan) maka kemungkinan banyak juga yang ke sana.

Acara itu adalah akad nikah dan walimatul ‘ursy-nya salah satu senior penulis dalam urusan dakwah kampus. Beliau adalah Mbak Muawanah Fatmawati (Fatma), seorang sarjana Ilmu Keperawatan UGM yang dipersunting oleh Pak Arif Rahmanullah (Iip) seorang sarjana Kehutanan. Perhelatan dilaksanakan di rumah Mbak Fatma, di Muntilan, Jawa Tengah, yang penulis tiba di sana malam Ahadnya untuk ikut mempersiapkan untuk kebutuhan ketika hari H, keesokan harinya.

Akad nikah berlangsung pada pukul delapan lebih sedikit, dilaksanakan di dalam rumah Mbak Fatma. Prosesi ijab-qabul berlangsung cukup cepat. Beberapa saat kemudian sudah masuk ke persiapan acara walimatul 'ursy-nya. Saat walimah, kedua mempelai tidak berada dalam satu tempat sebagaimana biasa dilakukan. Tidak ada tempat duduk khusus seperti pernikahan pada umumnya yang memperlakukan kedua mempelai seperti raja sehari, didudukkan dalam semacam singgasana. Namun dalam perhelatan ini, si mempelai wanita ada dalam rumah, sedangkan mempelai pria duduk bersama para tamu. Di depan hanya ada mimbar, untuk para pengisi sambutan juga khatib khutbah nikahnya.

Setelah banyak yang memberikan sambutan, baik dari perwakilan keluarga masing-masing dan dari pemerintah desa setempat, berlanjut ke khutbah nikah yang diisi oleh Ustadz Syatori Abdurrouf tentang bingkai kehidupan rumah tangga. (Tulisan ulangnya bisa dibaca di sini). Sebuah khutbah nikah yang menarik dari segi isi dan penyampaian. Sayanganya tidak menggunakan slide presentasi sebagaimana yang biasa beliau lakukan saat mengisi kajian. ^_^

Setelah khutbah selesai, masuk ke acara pestanya yakni dikeluarkannya hidangan. Tidak ada sistem prasmanan di sini. Hidangan diantar oleh para petugas sinoman, dan disajikan kepada seluruh tamu. Setelah acara selesai bersamaan dengan berkumandangnya adzan sehingga para tamu segera menuju ke masjid yang letaknya beberapa langkah saja dari lokasi tersebut.

Dari semua perhelatan pernikahan ikhwah, baru kali ini saya menemukan yang sesederhana itu. Namun, justru di sana ada makna yang terkandung, ada ruh yang terasa. Karena memang seharusnya seperti itulah pernikahan aktivis dakwah, ada fungsi dakwah di sana. Bukan sekadar melaksanakan pesta dengan mewah beserta segala hidangan lezat yang tersedia dan ambil sendiri, tanpa ada makna atau ruh yang dapat di ambil dari sana. Wallaahu a'lam. [ ]

Wednesday, June 18, 2008

BERSIKUKUH DENGAN SENIORITAS


Oleh : Cahya Herwening


Entah apakah hidup saya ditakdirkan penuh dengan hal-hal unik ataukah tidak. Namun kenyataan yang seringkali terjadi, hal itulah yang kerapkali menimpa saya. Salah satunya mungkin hal yang akan saya paparkan berikut ini. 
Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang saudara baru, yang mungkin kami sendiri hingga tulisan ini ditulis belum saling kenal dengan baik. Dan saudara saya itulah, yang sering menyebut saya dengan “junior”. Junior dalam aspek umur, mungkin juga dalam sisi pengalaman, kata beliau. Ha..ha..ha.. meski sebenarnya agak geli juga, mentang-mentang seorang puteri (puteri dalam bahasa Inggris: princess; kalau dalam bahasa Jepang: yume. He..he..he.. coba nyambung nggak??). Tapi, lebih baik mengalah sajalah, karena ngotot juga nggak ada gunanya. Demi saudara lah…, lagipula hanya masalah sepele ^_^.
Lepas dari itu, saya ingin mengungkapkan pendapat saya, terkait dengan urusan senioritas ini. Ada kata-kata hikmah yang berbunyi “tua itu pasti, dewasa itu pilihan”, dan kata-kata itu rasanya memang benar. Banyak terjadi di sekeliling kita, orang yang tua secara umur namun cara berpikirnya seperti anak-anak. Sebaliknya, ada anak yang rasanya belum genap sepuluh tahun namun dia punya pandangan yang begitu dewasa. Jadi memang, umur seseorang belum tentu menjamin kedewasaannya itu setara dengan umurnya. Nggak jaminan yang lebih tua itu lebih dewasa.
Begitu pulalah halnya dengan pengalaman. Apakah dengan lahir terlebih dahulu, pengalaman pasti lebih banyak? Saya meragukan itu. Karena cara memperbanyak pengalaman bukan hanya dengan mengalami sendiri suatu peristiwa atau kejadian dalam hidup. Pengalaman juga diperoleh dengan mempelajari pengalaman orang lain, dengan menimba pengalaman dan wawasan dari orang lain, maka pengalaman pun akan didapat tanpa harus mengalaminya sendiri. Dan pada titik inilah salah satu alasan akan pentingnya pergaulan, khususnya bergaul dengan orang yang lebih berpengalaman, berwawasan luas, berilmu dan bijaksana. Dengan cara seperti itu, yang muda pun bisa saja memiliki pengalaman yang banyak, bahkan seringkali lebih dari yang sudah tua. Jadi, yang tua belum menjamin pengalamannya lebih banyak dari yang muda.
Bagaimana dengan wawasan, pengetahuan atau ilmu? Analog juga menurut saya. Yang muda belum tentu kalah secara ilmu atau wawasan dengan yang lebih tua. Ada pepatah Jawa mengatakan “kebo nusu gudel”, arti secara terjemah adalah “kerbau menyusu pada anak kerbau”. Makna pepatah itu yakni yang tua belajar dari yang muda, dan ini telah banyak terjadi pada zaman sekarang. Banyak orang tua yang kalah dalam ilmu pengetahuan juga ilmu agama, dan akhirnya mereka belajar dari yang muda.
Nah, dengan sedikit argumen di atas, pantaskah jika seseorang dengan percaya dirinya (rasanya terlalu kasar jika dikatakan angkuh, hehehe…) bersikukuh dengan senioritasnya? Jikalau beliau lebih tua, bukan jaminan kan beliau lebih berpengalaman dari saya? Terlebih lagi … beliau belum begitu mengenal atau mengetahui tentang saya. Siapa tahu, saya memang lebih berpengalaman. Atau bahkan, siapa tahu saya justru lebih tua dari beliau. Nah tuh!!
Untuk saudaraku yang merasa tersindir atau tersinggung dengan tulisan ini, ‘afwan ya…. Peace deh!! ^_^ Saya bukan bermaksud apa-apa, cuma… enjoy aja! Junior ini siap menerima bimbinganmu, ‘Senior’!! He..he…he… BTW, ‘Senior’ kan umurnya 23 tahun, sedang saya ** tahun. Peace!! [ ]

Selasa, 17 Juni 2008
@ Rumah kakak di Sonayan, pk 21.24 WIB

Saturday, May 24, 2008

Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 3]


Oleh : Cahya Herwening


Sambungan dari: Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 2]

Kegombalan di Kalangan Aktivis Dakwah
(Baca: oleh aktivis dakwah palsu)
Nih dia yang ditunggu-tunggu. Hehehe… Hal yang sangat menarik salah satunya adalah menyimak romantika di dunia aktivis dakwah. Di antara sebegitu banyak yang memiliki komitmen perjuangan, ada juga beberapa yang suatu saat kadang tergelincir pada jebakan interaksi ikhwan-akhwat. Karena memiliki amanah yang sama, sesama pengurus harian lembaga, atau berada dalam satu bidang, bisa juga dalam satu kepanitiaan, membuat interaksi kerja menjadi lebih intens.

Intensitas hubungan kerja itu suatu saat dapat menumbuhkan benih-benih simpati atau bahkan cinta di antara ikhwan dan akhwat. Hal ini bisa jadi fenomena yang wajar, karena cinta kepada lawan jenis itu fitrah manusia, katanya. Tapi meski fitrah, tetap aja ada resikonya, terutama pada keikhlasan beramal, sehingga bila ada bibit riya’ dan ujub bisa menghanguskan pahala yang seharusnya didapat. Namun jika ternyata tidak dapat mencegah adanya perasaan seperti itu, ya harus berusaha menjaga keikhlasan, dan tetap simpati (simpan dalam hati). Apabila perasaan itu telah mewujud pada realisasi amal, baik lisan maupun perbuatan, maka tak ayal akan terjadi juga gombalisasi di sini.

Sering seseorang ingin mengekspresikan atau menyampaikan perasaannya yang sedang membuncah karena cinta. Bagi aktivis dakwah, hal seperti ini mustinya disimpan rapat-rapat dalam lubuk hatinya, jangan sampai si “dia” memergoki adanya perasaan itu. Gengsi dong!! Namun suatu saat pertahanan itu bisa jebol manakala perasaan itu makin menjadi-jadi sedang keimanan dalam kondisi menurun. Maka lahirlah sebentuk perhatian pada si “dia”, baik berupa nasehat, tausiyah, pujian, menanyakan sesuatu (baik tanya beneran atau pun pura-pura bertanya :D hayoo…) atau sekadar menanyakan kabar. Entah itu lewat SMS, telpon, saat chatting, via e-mail … bisa juga dalam rapat koordinasi.

Dari pengamatan penulis, yang paling banyak terjadi adalah adanya gombalisme via SMS, kita sebut saja sebagai SMS gombal. Kita simak contoh SMS-SMS ini….
“Aslm. Apa kbr? Ukhti, ana sungguh kagum dgn semangat Anti. Amanah Anti di mana-mana namun semuanya bisa tetap tawazun. Anti benar-benar mujahidah tangguh. Tetep semangat ya Ukht!”

“Salut sama Ukhti! Anti sungguh militan. Hujan deras seperti itu datang rapat dgn jalan kaki. Jaga kesehatan ya. Saya nggak rela klo Anti sampai jatuh sakit…”

Akhwat: “Aww. Apa kabar? Akhi, sedang ngapain nih? Sudah makan belum? Jangan sampai lupa makan ya..”
Ikhwan: “Www. Alhamdulillaah, menjadi jauh lebih baik setelah Anti SMS ^_^. Ane sedang memikirkan seorang bidadari dunia yang begitu anggun mempesona. Hmm… ane belum makan, tapi dah gak terasa lapar klo ingat sama Anti…”
(Halah… gombal semua tuh!!!)

Ada yang lebih parah nih … kayak gini:
“Aww. Wah .. Anti makin terlihat anggun dengan jilbab biru tadi…”

“Assalaamu ‘alaikum. Apa kbr? Lama nggak kontak ya. Ane kangen ma suara Anti…”

“ … Ane janji akan menikahi Anti setelah lulus nanti ….”

Oh .. nooo!! Aneh-aneh aja isi SMS-nya. Mungkin lebih banyak lagi SMS-SMS aneh lainnya yang belum terdeteksi. Hmm.. bagaimana reaksi si penerima? Ya bervariasi, ada yang cuek saja, ada yang merasa risih, ada yang membalas biasa, ada yang bertanya-tanya bin penasaran, ada juga yang suka dan berbunga-bunga, ada yang kemudian menaruh harapan. Kita simak penggalan berikut…

Pada dini hari sekitar pukul dua pagi, suara berisik nada SMS membangunkan seorang akhwat dari perjalanan tidurnya. SMS dari siapa nih malam-malam gini, pikirnya. Serta merta dia buka SMS-nya, hah… dari seorang ikhwan, bunyinya:
”Wahai Ukhty, segera terjagalah dari mimpi indahmu, bangunlah dari peraduanmu, basuhlah wajah dan anggota tubuhmu agar bersinar di hari kemudian, bersujud dan bersimpuhlah kepada Allah, agungkanlah Asma-Nya. Niscaya Allah akan meridhoi langkah kita dan mengabulkan cita dan harapan kita.”

Sang akhwat tertegun, ngapain malam-malam begini si ikhwan itu ngirim SMS, kurang kerjaan aja. Dasar, sok perhatian! Namun tanpa sadar jari-jari lentik akhwat itu mengetik balasan:
“Jazakallah khairan, Akh. Jangan kapok tuk sering ngingetin ane ya…”
Nah lo!!

Coba dirasa-rasakan, apa SMS-SMS semacam itu tidak beresiko? Bagus sih sepertinya, membangunkan untuk sholat tahajud … tapi efek sampingnya bisa menimbulkan penyakit-penyakit hati. Bikin merajalelanya VMJ (Virus Merah Jambu). Waa.. kalau virus yang satu ini menyebar, bisa repot. Sulit nyari vaksin atau anti virusnya.

Makanya… ingat, penyebab awal perlu dicegah, yakni adanya gombalisasi. Kalau si gombal dah nyebar, maka sedikit banyak korban bisa berjatuhan. Baik ‘lecet-lecet’ ringan maupun ‘luka’ berat. Bahkan nanti gak hanya berdampak pada hati, tapi juga fisik. Lha bayangin aja … kalau jadi gak enak makan, gak nyaman tidur karena tiap mau makan .. ingat dia, mau tidur … ingat dia, mau ngapain aja ingat dia, apa gak lama-kalamaan bisa kurus tuh? Trus …siapa korbannya? Siapa lagi kalau bukan kaum wanita/akhawat. Mestinya paham dong gimana fitrah perasaan mereka. Mereka seneng dan suka bila diberi perhatian … bisa berbunga-bunga hatinya. Dan tipe cinta mereka (kebanyakan) adalah jatuh cinta sekali yang dibawa sampai mati, kayak Nurul dalam novel AAC itu loh… Trus mereka juga mudah berharap. Nah tuh … coba pikir kalau sampai mereka jatuh cinta, kemudian sampai berharap. Jika kemudian cinta dan harap itu tidak kesampaian, apa nggak sakiiiit banget nanti? Apa tega, mendholimi mereka seperti itu?

So, khususnya bagi para ikhwan, jaga diri, jaga hati, jaga gengsi. Jangan asal kirim SMS, lebih-lebih SMS gombal bin murahan. Juga .. jangan asal balas SMS, apalagi dengan SMS gombal. Ini nih contoh balasan yang ngegombal….
Akhwat    : “Ane pengin rihlah, ke syurga …”
Ikhwan    : “Ukhty, ke mana pun Anti mau pergi, saya akan bersedia menemani,  meski taruhannya jiwa ini …” (He..he..he.. peace Ukht  v ^_^ )
Nah!! Dasar gombal! Jaga gengsi dong. Ini nih…. Barisan kata berikut mungkin bisa menggambarkan ikhwan yang nggak mau nggombal.


Karena Aku Mencintaimu
Wahai Ukhty…
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu

Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah

Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.

Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….

Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu.


So, sekali lagi bagi para ikhwan, jangan jualan gombal, jangan obral janji. Gak usah deh sok perhatian, terlebih lagu bilang suka atau cinta. Bisa fatal tuh akibatnya! Mau jadi orang dholim??  Tegaskan semenjak sekarang, hal seperti itu tabu kalau belum nikah. Kalau dah nikah sih … puas-puasin aja bilang cinta seratus kali sehari ama istrinya. Sampai dhower deh, terserah! ^_^

Bagi para akhwat, hati-hati binti waspada Ukht … jangan mudah digombali. Jangan percaya dengan kata-kata suka, cinta atau janji-janji. Jangan mudah menambatkan hati, jangan mudah berharap. Stay cool, calm, confident. Perisai izzahmu harus tetap kokoh. Antunna tidak suka terombang-ambing kan? Antunna lebih suka pada kepastian kan? Makanya jangan sampai semua itu terjadi sebelum ada hal yang konkrit, sebelum ada kepastian. Hal konkrit itu adalah, si ikhwan mengkhitbah Antunna dengan datang ke orang tua Antunna. Itu … baru deh, oke. Waspadalah …waspadalah …

SO SEMUANYA … WASPADAI GOMBALISASI!!! [ ]

Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 2]


Oleh : Cahya Herwening


Sambungan dari: Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 1]

Adakah Gombal yang Diperbolehkan?
Ada yang bisa jawab pertanyaan itu? He … nyangka nggak, ada lho kegombalan yang diperbolehkan. Eh, emang ada? Gak salah nih?? Hehehe… jangan pada kaget. Banyak yang punya motor kan? Nah, klo bersihin motor dari debu kan biasanya pakai gombal tuh. Gombal amoh malah! (gombal amoh = kain bolong) Jadi kan gombal itu boleh. Ha .. ha.. ha.. ngaco ya! Gak nyambung kalee…

Kegombalan itu analog dengan berbohong, adakalanya berbohong itu diperbolehkan. Misalnya untuk menyelamatkan orang dari kejahatan. Nabi Ibrahim AS pernah berbohong pada penguasa lalim untuk menyelamatkan istrinya dari tangan rakusnya si penguasa terhadap wanita. Gombal begitu juga, ada yang boleh dilakukan. Yang kayak gimana hayo…. Pengen tau kan? ^_^

Kegombalan yang diperbolehkan misalnya gombal pada pasangan hidupnya (istri atau suami) untuk menyenangkannya atau agar tidak membuatnya kecewa. Dari pada dijelaskan, mending kita kasih contoh aja yach … nanti akan ngerti sendiri. Biar lebih simple and jelazz getho…

Sore itu seorang ikhwan pulang dari tempat kerja, dalam kondisi kelaparan karena belum makan siang. Sesampainya di rumah dia meminta istrinya menyiapkan makanan;
 “Dik, aku tadi belum makan siang. Laper banget nih. Tolong siapin makanan untukku ya … istriku sayang…”.

“Ya Mas, kebetulan barusan saya masak masakan kesukaan Mas. Bentar ya Mas..” sahut si istri. Beberapa saat kemudian siaplah di meja makan nasi, sayur dan lauk pauk pelengkapnya. Tak ketinggalan segelas jus mangga terhidang. Segeralah si istri memanggil suaminya, “Mas, itu makanan udah siap di meja. Dinikmati ya Mas, makannya nggak usah terburu-buru…”

“Syukron ya Dik.” Si ikhwan segera bergegas dari duduk santainya menuju ruang makan, sambil menyempatkan menyambar kening istrinya dengan sebuah kecupan yang lembut serta senyuman.

Setelah berdo’a, ikhwan itu segera mulai menyikat makanan yang terhidang. Begitu suapan pertama masuk ke mulut … oopss …ada yang aneh. Dia sejenak diam karena cukup kaget dengan rasa makanannya. Tapi sesaat kemudian meneruskan makan dan terlihat sangat lahap, makanan yang masuk dikunyah sedikit langsung ditelan. Tak berapa lama berselang makanan di piringnya pun ludes tak bersisa. Jus mangga pun segera disikat habis.

Istrinya yang memperhatikannya makan tersenyum, agak terkejut karena tak biasanya suaminya yang lahap makannya itu makan selahap sore itu. Tak ayal pertanyaan terucap dari bibirnya, “Mas, bagaimana masakanku? Mas terlihat lahap sekali tadi.”

Si ikhwan tersenyum, dan menjawab, “Dik, masakanmu hari ini sungguh luar biasa. Spesial banget. Belum pernah aku merasakan masakanmu seluar biasa yang tadi. Aku jadi makin sayang sama Adik.” Senyumnya terkembang. “Dik, aku mandi dulu ya. Gerah nih, dan pastinya bau juga kan?”

Saat si ikhwan mandi, istrinya segera ke belakang. Sejak tadi dia bertanya-tanya, perasaan saat masak dia nggak nambahin sesuatu yang berbeda. Rasanya dia masak seperti biasanya, tapi kok suaminya bilang kalau masakan hari ini spesial. Kata suaminya masakan hari ini luar biasa. Kebetulan saat masak tadi dia nggak mencicipi seperti apa rasanya. Ketika sesendok sayur dicicipinya, kontan tanpa sadar makanan itu termuntahkan lagi. Asiiiiiiiiiiin banget ternyata. Baru sadar dia, saat masak tadi yang dimasukkan bukan gula pasir, tapi garam dapur!! Padahal tadi memasukkan cukup banyak, pantes sebegini asinnya.

Air mata meleleh di pipinya. Ternyata tadi menghidangkan masakan yang super asin kepada suaminya yang kelaparan. Istri macam apa aku ini, pikirnya. Malu sekali rasanya. Lelehan air mata haru pun menderas, mengingat tadi suaminya sama sekali tidak marah. Bahkan tersenyum dan memuji masakannya. Makanannya pun dimakan dengan lahap hingga ludes.

Begitu sang suami keluar dari kamar mandi, istrinya berlari dan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Si ikhwan jadi bingung, tidak ada apa-apa kok istrinya menangis. “Dik, ada apa sih? Kok menangis gini?” Dia semakin bingung karena istrinya malah menangis semakin tersedu. “Cerita dong Dik, apa Mas ada kesalahan? Kalau begitu Mas minta maaf ya..”

“Bu …kan begitu, .. Mas… hiks…. Justru Adik yang minta maaf .. hiks… ada suami kelaparan malah dikasih masakan super asin kayak gitu… hiks … istri macam apa aku ini. Malu sekali rasanya Mas…. Kenapa Mas tadi nggak bilang kalau masakanku asin begitu?” dia mendongak menatap wajah suaminya.

Wajah teduh sang ikhwan terlihat makin menentramkan dengan sunggingan senyumannya. “Lagi sensitif ya … gini aja nangis? He .. he.. he…,“ ujar ikhwan itu sembari mengusap air mata di pipi istrinya. “Dik, aku paham bahwa kamu telah bekerja keras mengurus rumah dan putra kita hari ini. Aku paham kamu juga lelah. Dan tentu aku memahami bagaimana kamu berusaha membuat masakan kesukaanku itu. Masak aku tega mengecewakanmu? Masak aku tega menyakiti hatimu, cuma karena kau salah mengambil gula? Kalau seperti itu, suami macam apa aku ini, Dik?”

Pecahlah tangis haru dan bahagia si istri, merasa begitu beruntung memperoleh suami yang sangat baik seperti itu. “Mas, beruntung sekali aku mendapat suami sepertimu. Aku sangat mencintaimu, Mas …” “Aku juga Dik, bahagia sekali aku memilikimu sebagai istriku..” sahut si ikhwan.

Hoi! Hoi! Bangun! Jangan ngelamun! Malah jadi ngebayangin kalau punya istri atau suami tuh … hayoo… Terlalu romantis ya?? Hihihihi…. Masih ada contoh kisah yang lain nih .. tapi dah ah… nanti kepanjangan cerita dan jadi ngebayangin macam-macam, jadi pengen mensegerakan untuk…. =D. Pokoknya gitu deh contoh kegombalan yang diperbolehkan, mengatakan masakan yang asin begitu dengan pujian luar biasa untuk menjaga hati istrinya. Jadi .. boleh dong ngegombal, tapi pada orang yang tepat ya!

HIDUP GOMBAL!! LHO?? :D

::Bersambung lagi ke Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 3], tentang kegombalan di kalangan aktivis dakwah ^_^. Okay, stay tune lagi yak!