Showing posts with label pendapatku. Show all posts
Showing posts with label pendapatku. Show all posts

Tuesday, January 6, 2009

MENDINGAN AKU DIAM AJA AH!!


Oleh : Cahya Herwening


Seringkali kita menemukan beberapa orang yang pilih diam daripada bicara, entah itu di kelas waktu jam pelajaran sekolah atau kuliah, pas forum rapat, dalam pergaulan, di kehidupan organisasi atau pula di dalam hidup bermasyarakat. Kita ketika menemui hal seperti itu, dan jika kebetulan kita yang menjadi komunikator (pihak pertama), bisa jadi kita menjadi bingung dibuatnya. Kita bertanya-tanya, mau kuapakan ini? Gini diem, gitu tetep diem, digimanain apa aja tetep aja diem. Lalu, mau diapain tuh si komunikan (pihak kedua, yang diajak berkomunikasi)?

Mungkin sih, si orang itu begitu menghayati sebuah kalam hikmah: “Diam itu emas.” Jadi daripada ngomong buang-buang tenaga gak dapet apa-apa, kan mending diam dan dapet emas. Gitu kali ya. So ya, diajak gimana aja tetep diem. Kayak patung aja gitu, diajak ngomong gak responding. Kita lihat ilustrasi berikut…..

Sore itu, jarum jam telah menunjuk ke angka empat dan lima untuk jarum pendek dan panjang, pukul empat lebih dua puluh lima menit. Si pemimpin rapat, mengalihkan pandangan dari jam yang melingkar di pergelangannya.
    “Gimana, tentang usulan tadi? Apakah ada yang memberikan tanggapan atau masukan?” tanyanya. Suasana sunyi senyap.
    “Atau kalau tidak ada, bisakah kita sepakati?” Kembali sunyi.
    “Gimana, sepakat nggak?” Masih belum ada suara terdengar.
    Setelah beberapa lama ditunggu dan ditanya belum juga ada suara, dengan kesal sang pemimpin rapat berkata, “Gimana sih ini?? Diam dalam forum rapat adalah sebuah penghianatan, karena kewajiban anggota rapat adalah memberikan segala usulan dan pandangan mengenai semua hal yang dibahas. Jika seperti ini, sebaiknya bubarkan aja rapat ini!!” seraya berdiri dan meninggalkan ruangan.

Hehe… mungkin pembaca akan berpendapat bahwa ilustrasi di atas terlalu berlebihan. Terlalu aneh memang jika dalam sebuah rapat tidak ada satupun yang mau bersuara, apalagi mengemukakan pendapat. Namun bisa saja kan hal yang seperti itu pernah atau akan terjadi, terutama jika ternyata sang pemimpin rapat hanya rapat sendirian, alias tidak ada peserta rapat yang lain. Hahaha… don’t take it so serious…

Adalagi contoh manakala kita bertemu dengan seorang teman, dia terlihat murung dan kita melihat guratan beban pikiran di wajahnya. Ketika kita bertanya, “Ada apa? Bolehkah aku tahu apa yang sedang terjadi? Barangkali aku bisa sedikit membantu…” Namun teman kita itu tetap diam seribu bahasa, enggan untuk bercerita tentang apa saja yang sedang menjadi bebannya.

Diam, meskipun secara umum itu baik, namun jika tidak tepat pelaksanaannya ya jadinya akhirnya tidak baik. Kita memang seharusnya diam daripada nge-gosip sana sini, diam daripada bicara hal sia-sia, diam daripada membuka rahasia yang harus disimpan, dan diam saat tidur daripada ngelindur… hehe. Tetapi sebaliknya, pantaskah kita diam dalam forum rapat, diskusi atau debat? Pantaskah kita diam manakala melihat kemunkaran terjadi? Pantaskah diam manakala dibutuhkan peran kita untuk bersuara? Pantaskah kita diam padahal perlu mencitrakan diri ketika on mission dalam dakwah? Baikkah kita diam manakala banyak masalah yang terjadi yang perlu dipecahkan? Nah, jika diam itu emas, maka berbicara yang baik dan bermanfaat itu adalah intan.

Kita perlu menganalisis faktor penyebab mengapa seseorang lebih memilih diam daripada berbicara. Ketika kita menemukan sumber penyebabnya, maka tentu akan lebih terbuka untuk menemukan solusinya. Maka menurut pengalaman penulis yang tidak berbasis keilmuan teoritis ini, ada beberapa alternatif penyebab kediaman seseorang, yakni sebagai berikut.

1. Sudah menjadi karakter bawaannya
Orang bertipe intovert memang cenderung suka menyimpan sesuatu sendiri, tidak mau membaginya dengan orang lain, terutama pada orang yang belum dekat dengannya. Semua masalah dan beban disimpannya. Orangnya juga tertutup dan tidak suka menampakkan dirinya. Ada juga yang tertutup terhadap pergaulan jika introvertnya cukup parah. Orang seperti ini tidak suka bila orang mengetahui sesuatu yang disembunyikannya, sehingga banyak hal benar-benar dia simpan rapat.

Tidak PD-an dan minderan juga faktor penyebab diamnya seseorang dari aspek karakter. Banyak yang sebenarnya punya pikiran dan gagasan bagus terhadap suatu tema pembahasan, namun karena terhalang kepercayaan diri, maka hal-hal itu tak mampu terungkapkan. Dia berpikir bahwa gagasannya jelek, tidak bermutu dan tak layak disampaikan. Underestimate terhadap diri sendiri dan overestimate terhadap orang lain, merasa orang lain lebih hebat dan lebih pandai dari dirinya.

Antara tidak PD dan introvert bisa terdapat hubungan, yakni orang menjadi introvert karena tidak PD. Atau juga karena ada faktor eksternal yang pernah menimpanya dan menorehkan bekas yang dalam, menjadi trauma. Trauma akan sesuatu hal dapat menyebabkan seseorang menjadi introvert dan atau tidak PD bin minderan. Beberapa faktor itu bisa terkait satu sama lain.

Ada juga karakter bawaan yang bersifat sosial, bukan hanya personal. Mari kita lihat dan bandingkan beberapa masyarakat suku di Indonesia. Kita ambil contoh saja dua masyarakat yang punya karakter cukup kontras, yakni Jawa dan Sumatera. Orang Sumatera biasanya lebih suka tegas, blak-blakan, to the point, jujur. Sedangkan orang Jawa, bukannya tidak jujur sih, namun lebih suka basa-basi terlebih dahulu, ngalor ngidul ngetan ngulon dulu baru kemudian mengatakan intinya. Ketika dijamu makanan ketika bertamu akan mengatakan “wah mbok boten sah repot-repot…” (“wah tidak usah repot-repot…”), dan ketika dipersilahkan makan bilang “nggih, matur nuwun” (“ya, terima kasih”) tapi tak kunjung makan pula. Baru beberapa saat kemudian setelah beberapa kali ditawarin mulai makan, dan akhirnya habis banyak juga, hahaha… Orang Jawa juga sering ngedumel di belakang, padahal di depan bilang ya..ya.. Sifat seperti itu digambarkan oleh blangkon orang Jawa (khususnya Yogyakarta .. hehe…) yang rata di bagian depan, namun bagian belakangnya ada benjolannya.

2. Adanya kondisi psikis tertentu saat itu
Pada suatu saat tertentu, karena peristiwa tertentu seseorang mengalami kesedihan yang mendalam, atau ketakutan yang sangat maupun kekhawatiran yang berlebihan. Keadaan psikis yang tertekan seperti ini bisa mengubah orang menjadi introvert dan pendiam, baik hanya temporer atau bisa juga permanen. Hal seperti ini membutuhkan terapi kejiwaan agar kondisi psikisnya menjadi pulih.

3. Kondisi otak atau pemikirannya
Ada tipe orang yang benar-benar DDR, bukan Double Density RAM lho, namun Daya Dong Rendah! Oon bin tulalit bener deh, dah dijelasin tentang sesuatu berulang-ulang dengan beragam cara tetap saja gak ngerti. Wah repot kalau yang ini, setelan sinyalnya aja beda frekuensi, mana bisa nyambung??

Di samping yang ekstrim seperti itu, kadang kala seseorang menemukan saat dimana dia cukup susah untuk memahami sesuatu. Tidak ngerti, nggak nyambung. Mau menganalisis sesuatu, yang dianalisis saja belum dipahami, maka tentu tidak bisa dilakukan. Penyebab dari hal seperti ini bisa karena kurang jelasnya input informasi yang diterima dari komunikator, informasi tidak lengkap atau ambigu yang menimbulkan penafsiran ganda. Atau si komunikan sendiri belum memahami pengetahuan dasar tentang bidang yang sedang dibicarakan. Maka kemudian si komunikan akan merasa blank, tidak tahu apa yang sedang dibicarakan dan tidak mengerti apa yang akan dikatakan. Maka, jelas dia akan diam.

4. Sedang memiliki ‘kendala teknis’
Kendala teknis di sini maksudnya adalah sesuatu yang kata Meggie Z. lebih mending daripada sakit hati. Apa tuh? Ya sakit gigi lah… hehe. Padahal sakit gigi kan sakit banget kan, sehingga yang sakit jadi malas untuk ngomong. Selain sakit gigi, bisa juga sakit gusi, sariawan, sakit kepala baik sebelah atau kedua belah, sakit perut dan lain sebagainya yang menyebabkan si penderita lebih suka diam. Bagian tulisan yang ini sebagai intermezo saja, hehe….

5. Reaksi terhadap kondisi lingkungan
Ada sebuah kondisi lingkungan yang benar-benar bikin bete, dan ini masih sering terjadi di masyarakat kita. Masyarakat masih sering melihat siapa orang yang berbicara daripada apa yang dikatakan. Maka perkataan dari yang lebih tua, lebih kaya, lebih menokoh, lebih tinggi kedudukannya akan jauh lebih didengar daripada perkataan orang biasa, apalagi anak muda. Perkataan mereka-merekalah yang biasanya lebih dipakai, meski secara kualitas bisa jadi kalah dengan yang lain. Anak muda, yang sering punya gagasan dan ide yang fresh dan inovatif pun sering tidak digubris, karena dianggap hanya omongan anak kemarin sore. Maka reaksi yang muncul dari orang-orang yang tidak dianggap seperti itu jelaslah memilih diam. Karena kalau ngomong pun juga tak ada gunanya.

Itulah beberapa telaah kasar tentang penyebab mengapa seseorang lebih suka diam daripada berbicara. Nah, kadang ada pula orang yang memilih diam karena pertimbangan kemashlahatan. Misalnya dalam suatu percakapan atau forum diskusi, seseorang memilih diam. Dia diam bukan karena tidak memahami permasalahan, namun karena menghindari perdebatan yang tidak berguna yang bisa menimbulkan benih pertentangan dan permusuhan. Apalagi kalau melihat bahwa lawan bicara adalah orang yang asal ngotot dan asal ngeyel, tidak menggunakan otaknya. Maka, diam seperti inilah salah satu contoh kecil diam yang emas. Wallaahu a’lam. [ ]

Saturday, May 24, 2008

Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 3]


Oleh : Cahya Herwening


Sambungan dari: Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 2]

Kegombalan di Kalangan Aktivis Dakwah
(Baca: oleh aktivis dakwah palsu)
Nih dia yang ditunggu-tunggu. Hehehe… Hal yang sangat menarik salah satunya adalah menyimak romantika di dunia aktivis dakwah. Di antara sebegitu banyak yang memiliki komitmen perjuangan, ada juga beberapa yang suatu saat kadang tergelincir pada jebakan interaksi ikhwan-akhwat. Karena memiliki amanah yang sama, sesama pengurus harian lembaga, atau berada dalam satu bidang, bisa juga dalam satu kepanitiaan, membuat interaksi kerja menjadi lebih intens.

Intensitas hubungan kerja itu suatu saat dapat menumbuhkan benih-benih simpati atau bahkan cinta di antara ikhwan dan akhwat. Hal ini bisa jadi fenomena yang wajar, karena cinta kepada lawan jenis itu fitrah manusia, katanya. Tapi meski fitrah, tetap aja ada resikonya, terutama pada keikhlasan beramal, sehingga bila ada bibit riya’ dan ujub bisa menghanguskan pahala yang seharusnya didapat. Namun jika ternyata tidak dapat mencegah adanya perasaan seperti itu, ya harus berusaha menjaga keikhlasan, dan tetap simpati (simpan dalam hati). Apabila perasaan itu telah mewujud pada realisasi amal, baik lisan maupun perbuatan, maka tak ayal akan terjadi juga gombalisasi di sini.

Sering seseorang ingin mengekspresikan atau menyampaikan perasaannya yang sedang membuncah karena cinta. Bagi aktivis dakwah, hal seperti ini mustinya disimpan rapat-rapat dalam lubuk hatinya, jangan sampai si “dia” memergoki adanya perasaan itu. Gengsi dong!! Namun suatu saat pertahanan itu bisa jebol manakala perasaan itu makin menjadi-jadi sedang keimanan dalam kondisi menurun. Maka lahirlah sebentuk perhatian pada si “dia”, baik berupa nasehat, tausiyah, pujian, menanyakan sesuatu (baik tanya beneran atau pun pura-pura bertanya :D hayoo…) atau sekadar menanyakan kabar. Entah itu lewat SMS, telpon, saat chatting, via e-mail … bisa juga dalam rapat koordinasi.

Dari pengamatan penulis, yang paling banyak terjadi adalah adanya gombalisme via SMS, kita sebut saja sebagai SMS gombal. Kita simak contoh SMS-SMS ini….
“Aslm. Apa kbr? Ukhti, ana sungguh kagum dgn semangat Anti. Amanah Anti di mana-mana namun semuanya bisa tetap tawazun. Anti benar-benar mujahidah tangguh. Tetep semangat ya Ukht!”

“Salut sama Ukhti! Anti sungguh militan. Hujan deras seperti itu datang rapat dgn jalan kaki. Jaga kesehatan ya. Saya nggak rela klo Anti sampai jatuh sakit…”

Akhwat: “Aww. Apa kabar? Akhi, sedang ngapain nih? Sudah makan belum? Jangan sampai lupa makan ya..”
Ikhwan: “Www. Alhamdulillaah, menjadi jauh lebih baik setelah Anti SMS ^_^. Ane sedang memikirkan seorang bidadari dunia yang begitu anggun mempesona. Hmm… ane belum makan, tapi dah gak terasa lapar klo ingat sama Anti…”
(Halah… gombal semua tuh!!!)

Ada yang lebih parah nih … kayak gini:
“Aww. Wah .. Anti makin terlihat anggun dengan jilbab biru tadi…”

“Assalaamu ‘alaikum. Apa kbr? Lama nggak kontak ya. Ane kangen ma suara Anti…”

“ … Ane janji akan menikahi Anti setelah lulus nanti ….”

Oh .. nooo!! Aneh-aneh aja isi SMS-nya. Mungkin lebih banyak lagi SMS-SMS aneh lainnya yang belum terdeteksi. Hmm.. bagaimana reaksi si penerima? Ya bervariasi, ada yang cuek saja, ada yang merasa risih, ada yang membalas biasa, ada yang bertanya-tanya bin penasaran, ada juga yang suka dan berbunga-bunga, ada yang kemudian menaruh harapan. Kita simak penggalan berikut…

Pada dini hari sekitar pukul dua pagi, suara berisik nada SMS membangunkan seorang akhwat dari perjalanan tidurnya. SMS dari siapa nih malam-malam gini, pikirnya. Serta merta dia buka SMS-nya, hah… dari seorang ikhwan, bunyinya:
”Wahai Ukhty, segera terjagalah dari mimpi indahmu, bangunlah dari peraduanmu, basuhlah wajah dan anggota tubuhmu agar bersinar di hari kemudian, bersujud dan bersimpuhlah kepada Allah, agungkanlah Asma-Nya. Niscaya Allah akan meridhoi langkah kita dan mengabulkan cita dan harapan kita.”

Sang akhwat tertegun, ngapain malam-malam begini si ikhwan itu ngirim SMS, kurang kerjaan aja. Dasar, sok perhatian! Namun tanpa sadar jari-jari lentik akhwat itu mengetik balasan:
“Jazakallah khairan, Akh. Jangan kapok tuk sering ngingetin ane ya…”
Nah lo!!

Coba dirasa-rasakan, apa SMS-SMS semacam itu tidak beresiko? Bagus sih sepertinya, membangunkan untuk sholat tahajud … tapi efek sampingnya bisa menimbulkan penyakit-penyakit hati. Bikin merajalelanya VMJ (Virus Merah Jambu). Waa.. kalau virus yang satu ini menyebar, bisa repot. Sulit nyari vaksin atau anti virusnya.

Makanya… ingat, penyebab awal perlu dicegah, yakni adanya gombalisasi. Kalau si gombal dah nyebar, maka sedikit banyak korban bisa berjatuhan. Baik ‘lecet-lecet’ ringan maupun ‘luka’ berat. Bahkan nanti gak hanya berdampak pada hati, tapi juga fisik. Lha bayangin aja … kalau jadi gak enak makan, gak nyaman tidur karena tiap mau makan .. ingat dia, mau tidur … ingat dia, mau ngapain aja ingat dia, apa gak lama-kalamaan bisa kurus tuh? Trus …siapa korbannya? Siapa lagi kalau bukan kaum wanita/akhawat. Mestinya paham dong gimana fitrah perasaan mereka. Mereka seneng dan suka bila diberi perhatian … bisa berbunga-bunga hatinya. Dan tipe cinta mereka (kebanyakan) adalah jatuh cinta sekali yang dibawa sampai mati, kayak Nurul dalam novel AAC itu loh… Trus mereka juga mudah berharap. Nah tuh … coba pikir kalau sampai mereka jatuh cinta, kemudian sampai berharap. Jika kemudian cinta dan harap itu tidak kesampaian, apa nggak sakiiiit banget nanti? Apa tega, mendholimi mereka seperti itu?

So, khususnya bagi para ikhwan, jaga diri, jaga hati, jaga gengsi. Jangan asal kirim SMS, lebih-lebih SMS gombal bin murahan. Juga .. jangan asal balas SMS, apalagi dengan SMS gombal. Ini nih contoh balasan yang ngegombal….
Akhwat    : “Ane pengin rihlah, ke syurga …”
Ikhwan    : “Ukhty, ke mana pun Anti mau pergi, saya akan bersedia menemani,  meski taruhannya jiwa ini …” (He..he..he.. peace Ukht  v ^_^ )
Nah!! Dasar gombal! Jaga gengsi dong. Ini nih…. Barisan kata berikut mungkin bisa menggambarkan ikhwan yang nggak mau nggombal.


Karena Aku Mencintaimu
Wahai Ukhty…
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu

Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah

Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.

Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….

Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu.


So, sekali lagi bagi para ikhwan, jangan jualan gombal, jangan obral janji. Gak usah deh sok perhatian, terlebih lagu bilang suka atau cinta. Bisa fatal tuh akibatnya! Mau jadi orang dholim??  Tegaskan semenjak sekarang, hal seperti itu tabu kalau belum nikah. Kalau dah nikah sih … puas-puasin aja bilang cinta seratus kali sehari ama istrinya. Sampai dhower deh, terserah! ^_^

Bagi para akhwat, hati-hati binti waspada Ukht … jangan mudah digombali. Jangan percaya dengan kata-kata suka, cinta atau janji-janji. Jangan mudah menambatkan hati, jangan mudah berharap. Stay cool, calm, confident. Perisai izzahmu harus tetap kokoh. Antunna tidak suka terombang-ambing kan? Antunna lebih suka pada kepastian kan? Makanya jangan sampai semua itu terjadi sebelum ada hal yang konkrit, sebelum ada kepastian. Hal konkrit itu adalah, si ikhwan mengkhitbah Antunna dengan datang ke orang tua Antunna. Itu … baru deh, oke. Waspadalah …waspadalah …

SO SEMUANYA … WASPADAI GOMBALISASI!!! [ ]

Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 2]


Oleh : Cahya Herwening


Sambungan dari: Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 1]

Adakah Gombal yang Diperbolehkan?
Ada yang bisa jawab pertanyaan itu? He … nyangka nggak, ada lho kegombalan yang diperbolehkan. Eh, emang ada? Gak salah nih?? Hehehe… jangan pada kaget. Banyak yang punya motor kan? Nah, klo bersihin motor dari debu kan biasanya pakai gombal tuh. Gombal amoh malah! (gombal amoh = kain bolong) Jadi kan gombal itu boleh. Ha .. ha.. ha.. ngaco ya! Gak nyambung kalee…

Kegombalan itu analog dengan berbohong, adakalanya berbohong itu diperbolehkan. Misalnya untuk menyelamatkan orang dari kejahatan. Nabi Ibrahim AS pernah berbohong pada penguasa lalim untuk menyelamatkan istrinya dari tangan rakusnya si penguasa terhadap wanita. Gombal begitu juga, ada yang boleh dilakukan. Yang kayak gimana hayo…. Pengen tau kan? ^_^

Kegombalan yang diperbolehkan misalnya gombal pada pasangan hidupnya (istri atau suami) untuk menyenangkannya atau agar tidak membuatnya kecewa. Dari pada dijelaskan, mending kita kasih contoh aja yach … nanti akan ngerti sendiri. Biar lebih simple and jelazz getho…

Sore itu seorang ikhwan pulang dari tempat kerja, dalam kondisi kelaparan karena belum makan siang. Sesampainya di rumah dia meminta istrinya menyiapkan makanan;
 “Dik, aku tadi belum makan siang. Laper banget nih. Tolong siapin makanan untukku ya … istriku sayang…”.

“Ya Mas, kebetulan barusan saya masak masakan kesukaan Mas. Bentar ya Mas..” sahut si istri. Beberapa saat kemudian siaplah di meja makan nasi, sayur dan lauk pauk pelengkapnya. Tak ketinggalan segelas jus mangga terhidang. Segeralah si istri memanggil suaminya, “Mas, itu makanan udah siap di meja. Dinikmati ya Mas, makannya nggak usah terburu-buru…”

“Syukron ya Dik.” Si ikhwan segera bergegas dari duduk santainya menuju ruang makan, sambil menyempatkan menyambar kening istrinya dengan sebuah kecupan yang lembut serta senyuman.

Setelah berdo’a, ikhwan itu segera mulai menyikat makanan yang terhidang. Begitu suapan pertama masuk ke mulut … oopss …ada yang aneh. Dia sejenak diam karena cukup kaget dengan rasa makanannya. Tapi sesaat kemudian meneruskan makan dan terlihat sangat lahap, makanan yang masuk dikunyah sedikit langsung ditelan. Tak berapa lama berselang makanan di piringnya pun ludes tak bersisa. Jus mangga pun segera disikat habis.

Istrinya yang memperhatikannya makan tersenyum, agak terkejut karena tak biasanya suaminya yang lahap makannya itu makan selahap sore itu. Tak ayal pertanyaan terucap dari bibirnya, “Mas, bagaimana masakanku? Mas terlihat lahap sekali tadi.”

Si ikhwan tersenyum, dan menjawab, “Dik, masakanmu hari ini sungguh luar biasa. Spesial banget. Belum pernah aku merasakan masakanmu seluar biasa yang tadi. Aku jadi makin sayang sama Adik.” Senyumnya terkembang. “Dik, aku mandi dulu ya. Gerah nih, dan pastinya bau juga kan?”

Saat si ikhwan mandi, istrinya segera ke belakang. Sejak tadi dia bertanya-tanya, perasaan saat masak dia nggak nambahin sesuatu yang berbeda. Rasanya dia masak seperti biasanya, tapi kok suaminya bilang kalau masakan hari ini spesial. Kata suaminya masakan hari ini luar biasa. Kebetulan saat masak tadi dia nggak mencicipi seperti apa rasanya. Ketika sesendok sayur dicicipinya, kontan tanpa sadar makanan itu termuntahkan lagi. Asiiiiiiiiiiin banget ternyata. Baru sadar dia, saat masak tadi yang dimasukkan bukan gula pasir, tapi garam dapur!! Padahal tadi memasukkan cukup banyak, pantes sebegini asinnya.

Air mata meleleh di pipinya. Ternyata tadi menghidangkan masakan yang super asin kepada suaminya yang kelaparan. Istri macam apa aku ini, pikirnya. Malu sekali rasanya. Lelehan air mata haru pun menderas, mengingat tadi suaminya sama sekali tidak marah. Bahkan tersenyum dan memuji masakannya. Makanannya pun dimakan dengan lahap hingga ludes.

Begitu sang suami keluar dari kamar mandi, istrinya berlari dan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Si ikhwan jadi bingung, tidak ada apa-apa kok istrinya menangis. “Dik, ada apa sih? Kok menangis gini?” Dia semakin bingung karena istrinya malah menangis semakin tersedu. “Cerita dong Dik, apa Mas ada kesalahan? Kalau begitu Mas minta maaf ya..”

“Bu …kan begitu, .. Mas… hiks…. Justru Adik yang minta maaf .. hiks… ada suami kelaparan malah dikasih masakan super asin kayak gitu… hiks … istri macam apa aku ini. Malu sekali rasanya Mas…. Kenapa Mas tadi nggak bilang kalau masakanku asin begitu?” dia mendongak menatap wajah suaminya.

Wajah teduh sang ikhwan terlihat makin menentramkan dengan sunggingan senyumannya. “Lagi sensitif ya … gini aja nangis? He .. he.. he…,“ ujar ikhwan itu sembari mengusap air mata di pipi istrinya. “Dik, aku paham bahwa kamu telah bekerja keras mengurus rumah dan putra kita hari ini. Aku paham kamu juga lelah. Dan tentu aku memahami bagaimana kamu berusaha membuat masakan kesukaanku itu. Masak aku tega mengecewakanmu? Masak aku tega menyakiti hatimu, cuma karena kau salah mengambil gula? Kalau seperti itu, suami macam apa aku ini, Dik?”

Pecahlah tangis haru dan bahagia si istri, merasa begitu beruntung memperoleh suami yang sangat baik seperti itu. “Mas, beruntung sekali aku mendapat suami sepertimu. Aku sangat mencintaimu, Mas …” “Aku juga Dik, bahagia sekali aku memilikimu sebagai istriku..” sahut si ikhwan.

Hoi! Hoi! Bangun! Jangan ngelamun! Malah jadi ngebayangin kalau punya istri atau suami tuh … hayoo… Terlalu romantis ya?? Hihihihi…. Masih ada contoh kisah yang lain nih .. tapi dah ah… nanti kepanjangan cerita dan jadi ngebayangin macam-macam, jadi pengen mensegerakan untuk…. =D. Pokoknya gitu deh contoh kegombalan yang diperbolehkan, mengatakan masakan yang asin begitu dengan pujian luar biasa untuk menjaga hati istrinya. Jadi .. boleh dong ngegombal, tapi pada orang yang tepat ya!

HIDUP GOMBAL!! LHO?? :D

::Bersambung lagi ke Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 3], tentang kegombalan di kalangan aktivis dakwah ^_^. Okay, stay tune lagi yak!

Thursday, May 22, 2008

Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 1]


Oleh : Cahya Herwening


Insya Allah tidak ada salah ketik pada judul di atas, karena saya memang sama sekali nggak bermaksud untuk menulis kata “globalisasi”. Di antara pembaca mungkin ada yang bertanya-tanya, apa dan atau dalam konteks apakah gombalisasi ini. Sebelum kita kupas lebih jauh, mari kita simak beberapa penggalan percakapan berikut ini:

Contoh 1:
Cowok    : “Mmmm… Yank, ada yang mau aku omongin nih ama kamu…”
Cewek    : “Apaan tuh, Mas?”
Cowok    : “Aku, cintaaaa banget ama kamu, sayaaanng banget deh…”
Cewek    : “Benerkah?”
Cowok    : “Iya, bener. Sumprit deh. Demi … “

Contoh 2:
Cowok    : “Sayangku, demi kamu gunung akan kudaki, lautan akan kusebrangi, lembah    akan kulewati, demi bisa ketemu ama kamu..”
Cewek    : “Awww…Mas”

Contoh 3:
Cowok    : “Aku tadi minum jamu, pahiiit banget. Aku dah coba makan gula, roti, coklat, apapun, tapi pahitnya nggak ilang-ilang…”
Cewek    : “Trus gimana? Sampai sekarang masih pahit dong.”
Cowok    : “Nggak lagi kok. Sejak ketemu ama kamu tadi, pahitnya ilang. Bahkan sekarang jadi manis banget.”
Cewek    : “Ohh… bisa aja deh kamu…”

Dan seterusnya. Maaf ya kalau contohnya garing banget, soalnya nggak ahli nggombal sih... he…he…he… Tapi, minimal sudah ada gambaran yang cukup jelas kan, apa yang dimaksud gombalisasi di atas.

Definisi
Gombalisasi berasal dari dua kata, yakni gombal dan akhiran –isasi. Gombal kalau dalam bahasa Jawa artinya kain atau kain bekas, sedang dalam bahasa Indonesia … apa ya… silakan kalau ada yang lebih ngerti (setahu saya, kata itu memang serapan dari bahasa Jawa ^_^). Akhiran –isasi maknanya adalah sebuah proses atau fenomena yang terjadi secara serentak, masif atau dalam lingkup yang besar (luas). Secara definisi, gombalisasi berarti suatu fenomena penggombalan (memberikan sesuatu yang nggak berguna/sampah) yang banyak terjadi secara luas, di pelbagai tempat secara masif. Kira-kira seperti itulah, definisi menurut pendapat Shirotsuya (2008). =D

Nilai rasa (konotasi) yang timbul dari kata “gombal” itu sendiri bisa bermacam-macam. Bisa bermakna sesuatu yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya (bo’ongan, baik dikit atau banyak), bisa juga sesuai dengan yang sebenarnya namun dilebih-lebihkan (hiperbolis). Gombal dilakukan dengan maksud menyenangkan hati orang atau lawan bicara, untuk merayu atau juga menipu agar tujuan si penggombal dapat dicapainya.

Gombalisasi yang Pertama
Sebenarnya yang namanya gombal ini bukan barang baru, tapi sudah ada sejak manusia mengenal pakaian. Lho… kok nggak nyambung, salah konteks nih, he..he..he… ^_^. Maksudnya, gombal atau kegombalan itu dah ada sejak manusia pertama hidup, yakni Adam, dan saya cukup yakin pada waktu itu sudah memakai pakaian. Jadi memang betul, sejak manusia mengenal pakaian. Tuh kan betul, jadi nyambung deh sekarang :D. Kegombalan paling dahsyat saat itu adalah, manakala Iblis menggombali Adam dan Hawa untuk memakan buah quldi yang terlarang, yang berakibat dihukumnya mereka dan diusir dari surga.

Mungkin itulah kegombalan pertama dari musuh nyata dan abadi manusia, yang juga diwariskan pada para balatentaranya hingga sekarang.  Pada zaman sekarang akan lebih banyak lagi macam kegombalan yang mereka lakukan pada manusia. Termasuk pada orang-orang yang taat beribadah, kegombalan itu makin gencar dilakukan, yakni dengan membisikkan kata-kata macam: “Wahai manusia, engkau memang orang yang alim, rajin sekali engkau shalat dan puasa. Tidak ada yang lebih alim darimu di kampung ini.” Atau juga: “Hai manusia, keraskan suaramu yang merdu itu. Itu dia, wanita yang kamu sukai akan lewat sini. Pasti dia akan suka pada merdunya tilawahmu itu.” Yang ini juga bisa: “Wah, mumpung banyak orang tuh, ayo infaknya yang banyak. Kamu kan seorang dermawan.” Dan lain-lain, sehingga memunculkan benih riya’, ujub, sombong dan takabur. Awas, syetan tuh jenius klo disuruh ngegombal!! Semoga kita dijauhkan dari yang demikian.

Nah, seperti itulah gerakan gombalisasi yang dilancarkan oleh musuh manusia, yakni syetan dan para kroninya. Namun kita tidak akan membahas itu lebih lanjut, karena konteks gombalisasi yang akan kita bicarakan adalah antar manusia, khususnya antar lawan jenis.

Gombalisasi Antar Lawan Jenis
Sebagaimana beberapa contoh yang telah diberikan di muka, kegombalan pada masa sekarang jauh lebih banyak lagi tampaknya. Manusia, baik bangsa cowok maupun cewek, makin kreatif menciptakan kalimat-kalimat gombal. Hingga sekarang ada beberapa situs, atau juga buku, yang berisi tentang contoh-contoh SMS mesra buat pasangan kekasih. Sekarang gombal pun laku dijual ternyata, halah! Gombal itu seperti senjata, penggunaannya tergantung si pemakai. Bahayanya kalau gombal itu jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat, bisa disalah gunakan dan berujung pada kedzoliman di muka bumi.

Kekejian yang besar pun bisa diawali oleh kegombalan yang mula-mula kecil. Dari kata-kata sayang, kata-kata suka, kata-kata cinta hingga janji-janji. Janji-janji setia, janji-janji akan menikahi, janji-janji akan memberikan kebahagiaan. Halah, ndoboss!! (= ngapusi!! = omong kosong!!). Emang siapa lu, bisa ngasih kebahagiaan? Emang lu Tuhan? Timpuk ama batu aja tuh! ^_^ Upss, hati-hati klo dah ada kata-kata … “aku cinta ama kamu, kamu juga kan? Buktikan cintamu itu dengan …” bla … bla ..bla… intinya minta bukti cinta dengan mengajak melakukan sesuatu yang terlarang. Atau mengancam, kalau nggak mau diajak akan diputusin. Klo kayak gitu, jawab aja: “ke laut aje sono!!”

Kegombalan dalam urusan cinta-cintaan, kasih-kasihan, asmara muda-mudi sering fatal akibatnya. Dan sebagian besar yang menuai kerugian amat sangat adalah kaum hawa. Betapa tidak, sesuatu yang sangat berharga dunia akhirat bisa hilang begitu saja dengan murah dan mudah, lebih-lebih jika kemudian dia disingkirkan begitu saja bagai sampah busuk. Betapa sangat sakiiitnya tidak dianggap berharga oleh orang yang dicintai, ditinggalkan dan diacuhkan. Lebih-lebih dengan keluarga, orang tua dan masyarakat jika telah tahu, juga yang sangat penting dengan calon suami. Perasaan kecewa, menyesal, rendah diri campur baur menjadi satu, menyebabkan perasaan dirindung duka berkepanjangan. Bisa juga jika tidak ada keimanan, akan putus asa dan berakhir pada harakiri entah gantung diri, memutus urat nadi, nyeburin diri ke kali, nancapin pisau ke ulu hati, terjun bebas dari gedung nan tinggi …. Ah kasihan sekali. Eh, ada juga yang minum baygon, meski lebih asyik makan sagon atau piknik ke Saigon, :) apalagi klo habis dapat pesangon. He .. he. ..he…

SO, WASPADAI ARUS GOMBALISASI!!

::Bersambung ke Waspadai Arus Gombalisasi!! [Part 2], tentang kegombalan yang diperbolehkan, ada nggak sih?? Okay, stay tune!

Wednesday, January 23, 2008

IKHWAN PAKAI JEANS?? SO WHAT?!


Oleh : Cahya Herwening


Beberapa kali penulis mendengar pertanyaan ataupun pertanyaan seputar ikhwan yang mengenakan celana jeans. Kira-kira pertanyaannya; “Ihh…pakai jeans. Itu ikhwan apa bukan ya??”, dan sejenisnya. Hal itu menggambarkan ketidaksukaan (kerisihan) melihat ada ikhwan yang seperti itu. Saya agak bertanya-tanya, ngapain sih hal seperti itu dipermasalahkan? Apa dasarnya? Kalau hanya berdasarkan preferensi dan opini pribadi, ngapain harus di’gembar-gembor’kan segala?

Penulis tidak habis pikir, karena secara logika ilmu (sejauh yang penulis miliki), tidak ada yang salah dengan seorang muslim yang memakai celana jeans, dengan beberapa syarat tentunya. Dan yang menjadi syarat dasar pastinya adalah pertimbangan-pertimbangan dari sisi syariat. Mari kita lihat ....

Berpakaian, sudah jelas merupakan perintah dari Allah Ta’ala, sebagaimana telah tersebut dalam beberapa surat sebagai berikut.
”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-A’raaf: 31)

”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Qs. Al-A’raaf: 26)

”Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (Qs. An-Nahl: 81)

Juga sabda Rasulullah SAW:
”Makanlah kalian, munumlah kalian, berpakaianlah kalian, dan bersedekahlah kalian tanpa kikir, dan tanpa sombong.” (Diriwayatkan oleh Bukhari).

Islam memerintahkan kepada manusia untuk berpakaian, tentunya juga memberikan arahan bagaimanakah seharusnya pakaian itu. Rasulullah SAW telah mengajarkan bagaimana pakaian yang memenuhi syarat sehingga tidak bertentangan dengan Islam. Kita hanya akan membahas yang terkait dengan pakaian laki-laki, agar pembahasan kita tidak melenceng. Bagaimanakah syarat pakaian laki-laki menurut Islam itu?

1.    Menutup aurat
”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Qs. Al-A’raaf: 26)

Allah SWT menurunkan pakaian pada manusia fungsinya adalah untuk menutup aurat. Dengan seperti itu, dapat berlaku logika bahwa sesuatu yang dipakai yang tidak dapat menutupi aurat tidak layak disebut pakaian. Agar dapat menutup aurat dari kenampakannya maupun bentuknya, maka harus memenuhi syarat yang lebih khusus berikut ini:
-    tebal, tidak tipis
-    longgar, tidak sempit
-    tidak transparan

2.    Tidak menyerupai pakaian khas agama lain
Nabi Muhammad Saw bersabda, ”Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka.” (HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)

”Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan umat Islam.” (HR. Tirmidzi dari Amru bin Syuaib)

”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)." Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Qs. Al-Baqarah: 120)

3.    Tidak menyerupai pakaian lawan jenis
Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,”Allah melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita-wanita, dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki.” (Hr. Bukhari)

Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,”Allah melaknat laki-laki yang mengenakan busana wanita, dan wanita yang mengenakan busana laki-laki. Allah juga melaknat laki-laki yang menyerupai wanita-wanita, dan wanita-wanita yang menyerupai laki-laki.” (Hr. Bukhari)

4.    Tidak terbuat dari sutra secara mutlak
Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ”Kalian jangan mengenakan sutra, karena sesungguhnya barang siapa mengenakannya di dunia, ia tidak mengenakannya di akhirat.” (Muttafaq ’Alaih)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengambil sutra kemudian meletakkannya di tangan kanannya, dan mengambil emas kemudian meletakkannya di tangan kirinya kemudian bersabda, ”Sesungguhnya dua barang ini haram bagi laki-laki dari umatku.” (Hr. Abu Daud)

5.    Tidak dipakai untuk kesombongan
”Makanlah kalian, munumlah kalian, berpakaianlah kalian, dan bersedekahlah kalian tanpa kikir, dan tanpa sombong.” (Diriwayatkan oleh Bukhari).


Nah, kembali pada apa yang disebut celana jeans, secara umum apakah melanggar syarat-syarat tersebut? Ada celana jeans yang longgar, disamping sudah jelas tidak transparan dan tebal. Celana jeans, aslinya adalah untuk laki-laki (jika sekarang katanya ada yang untuk perempuan, tentunya berbeda model dan bentuknya). Menurut sebagian ulama, celana panjang secara `urf yang dikenal di tengah masyarakat adalah pakaian khas laki-laki. Sedangkan bila banyak wanita yang mengenakannya, tidak berarti `urf-nya telah berubah. Celana jeans juga bukan pakaian khas agama lain. Secara historis, dulu-dulunya celana jeans adalah pakaian untuk pekerja tambang karena bahannya tebal sehingga sulit ditembus oleh cacing tambang, selain bahannya kokoh dan ulet. Kemudian, bodoh sekali jika menyebut bahannya dari sutra. Dan, apakah orang yang memakai jeans kemudian akan sombong?

Jadi, mau berkata apalagi? Banyak celana jeans yang secara syariat telah memenuhi syarat. Sah-sah saja kan jika ikhwan memakai celana jeans? [ ]

NB : Tulisan ini bukan promosi, bukan pula ajakan untuk memakai celana jeans lho. Cuma kasih argumen aja...

Rabu, 16 Januari 2008

Maraji’:
-    Al-Qur’anul Karim
-    Kitab Minhajul Muslim
-    www.syariahonline.com

Monday, May 21, 2007

Saya Suka Jepang (2) : Mentalitas Kaum Muslim Ada Pada Bangsa Jepang


Oleh : Cahya Herwening


Tulisan kedua dari rangkaian jawaban atas pertanyaan teman: "Antum suka ma hal-hal yang berbau Jepang ya? Nama blog Shirotsuya, apakah punya makna tersendiri buat Antum?" Beserta juga alasannya, yang bukan asal alasan seperti tulisan pertama ^^. Namun alasan yang didasari oleh pemahaman tentangnya, meski mungkin sedikit.
Apakah saya suka hal-hal tentang Jepang, kembali akan saya jawab "iya". Tapi tentunya kesukaan itu tidak membabi buta pada segala hal, namun dilatar belakangi hal-hal tertentu yang menjadi kelebihan utama dari negara ini. Saya tahu, setiap hal tentu ada sisi kekurangan dan kelemahannya. Namun, sebaliknya pasti juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Termasuk di sini negara Jepang itu sendiri.
Kesukaan mestinya dikarenakan oleh rasa berkesannya kita kepada sesuatu, yang kemudian dari rasa kesukaan itu dapat meningkat menjadi kekaguman. Terus terang saja, mungkin saya tidak hanya suka pada Jepang tapi juga kagum. Kagum tentang apa? Ada beberapa hal yang membuat saya kagum kepada negara kepulauan yang terletak di sebelah timur semenanjung Korea itu. Khususnya kagum terhadap karakter yang dimiliki oleh bangsa Jepang, yang membuat Jepang menjadi salah satu negara maju yang memimpin di bidang IPTEK. Bangsa mereka memiliki karakter-karakter unggul yang dibutuhkan setiap bangsa untuk maju. Terlebih lagi bagi kaum Muslimin, karena sesungguhnya karakter dan mentalitas itu telah tertuang dalam kitab suci mereka (Al Qur'an) dan sabda Nabi mereka (Hadits). Maka seharusnyalah bagi kaum Muslimin untuk memiliki karakter-karakter dan mentalitas ini.
1. Kedisiplinan yang Sangat Tinggi
Kedisiplinan merupakan salah satu karakter yang paling terkenal dari bangsa Jepang. Dan memang seperti itulah adanya. Dalam contoh kecil, pernah ada yang bercerita ketika orang Jepang ada janji dengan seseorang, maka paling tidak sepuluh menit sebelum waktu yang disepakati dalam janjian itu sudah ada di tempat janjian. Kedisiplinan bangsa Jepang juga terlihat dalam budaya antri, mentaati peraturan lalu lintas, peraturan perusahaan, sekolah, dan peraturan lainnya. Contoh lain dalam hal-hal sepele, adalah dalam membuang sampah.\
Di Jepang, antara kedisiplinan dan sekolah sangat erat keterkaitannya. Di sana, disiplin dalam berlalu lintas diajarkan sejak TK. Secara teratur ada polisi wanita yang mengunjungi sekolah, untuk menggelar simulasi, bagaimana perilaku yang harus dibangun ketika di jalan. Anak-anak yang mematuhi rambu-rambu lalu lintas disebut manusia, yang tidak melanggar rambu-rambu disebut monyet. Simulasi tersebut memang sederhana. Akan tetapi, konon menjadi akar dari kepatuhan masyarakat Jepang terhadap peraturan lalu lintas.
2. Tekun dan Pekerja Keras
Bangsa Jepang adalah bangsa yang terkenal dengan etos kerja yang tinggi. Kesibukan dalam kerja-kerja hariannya begitu tinggi, hampir 12 hingga 15 jam kerja setiap harinya. Mereka bekerja dengan sangat giat bahkan sangat terkenal sebagai bangsa yang gila kerja (workaholic).
Bagi mereka, bekerja bukanlah semata-mata kerja, namun juga merupakan kesenangan, sehingga mereka sangat enjoy terhadap pekerjaan mereka. Maka seringkali mereka hampir lupa pulang ke rumah, dan suka di kantor atau tempat kerja lain hingga larut malam untuk lembur. Meski tidak semua seperti itu sih.
3. Keinginan untuk selalu Belajar dan Selalu Memperbaiki Hasil Kerja
a. Semangat Perbaikan yang Terus-menerus (Sustainable Improvement)
Masyarakat Jepang memiliki budaya organisasi yang disebut "Kaizen", artinya "penyempurnaan berkesinambungan". Misalnya dalam aktivitas produksi (kalau dalam perusahaan) yang telah dilakukan, maka akan senantiasa ada evaluasi secara periodik, dan dilakukan perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan yang ada. Sehingga pada periode-periode berikutnya akan semakin terjadi penyempurnaan.
Di negara kita, sebenarnya juga ada budaya organisasi berupa evaluasi terhadap apa-apa yang telah dilakukan. Namun seringnya, hasil evaluasi itu tinggal hasil evaluasi belaka, tidak digunakan untuk memperbaiki kondisi yang ada. Sehingga seringkali kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan terulang kembali.
b. Minat Baca dan Tulis Tinggi
Kegiatan belajar tak akan lepas dari keberadaan buku. Entah itu membacanya, atau menulisnya. Dan bangsa Jepang adalah bangsa yang memiliki kualifikasi yang tinggi terkait hal ini, yakni memiliki minat baca dan minat menulis yang sangat tinggi. Kebiasaan baca mereka terlihat di keseharian, ketika di densha (trem), shinkansen, bus, stasiun, terminal, dan tempat lain, kebanyakan mereka membawa buku dan membacanya.
Begitu juga dalam menulis, banyak sekali jenis buku yang ada di sana, dan juga jenis penulisnya. Banyak penulis-penulis amatir yang bukunya diterbitkan oleh penerbit karena memang dirasa bagus. Misalnya, ada ibu rumah tangga yang menuliskan tips pindah rumah yang efisien, teknik menanak nasi yang enak, dan sebagainya. Tulisan-tulisan mereka berdasarkan pengalaman pribadi, dan juga riset kecil-kecilan yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ini tak lepas dari kebiasaan riset mereka.
Di Jepang produksi buku per tahun 60.000-70.000 judul buku. Sebagai gambaran, saat ini produksi buku di Indonesia 7000-10.000 judul buku pertahun, padahal dilihat dari perbandingan jumlah penduduk, penduduk Indonesia jauh lebih banyak dari penduduk Jepang.
Jumlah toko buku di Jepang sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat, padahal Amerika Serikat dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang. Toko buku adalah salah satu tempat yang paling sering dikunjungi. Jika supermarket dan toko lain di Jepang biasanya tutup pukul 20.00, toko buku biasanya masih tetap buka hingga larut malam. Banyak pengunjung yang sekadar tachi-yomi, atau berkunjung dan membaca buku di sana, belum tentu membeli. Rasanya hal itu cuma mengotori pandangan toko buku sih (istilah Jawanya, nyepet-nyepeti mata^^), tapi kenyataannya ada pengaruh terhadap buku yang terbeli oleh pengunjung juga. Makanya pemilik toko buku tidak risih melihat banyak yang hanya tachi-yomi^^.\
Angka melek huruf (literacy rate) di Jepang mencapai 99 persen. Oleh UNDP (United Nations Development Programme), angka melek huruf telah dijadikan salah satu indikator untuk mengukur kualitas bangsa. Tinggi rendahnya angka melek huruf menentukan tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau HDI (Human Development Index); dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa.
c. Sistem Pendidikan yang Baik Beserta Faktor Pendukungnya dan Sense Penelitian yang Tinggi
Bisa dikatakan bangsa Jepang adalah kaum peneliti, karena sejak kecil sudah dibiasakan sense penelitian dibangun dalam diri generasi muda. Misalnya ketika liburan sekolah ada penugasan melakukan penelitian bertema bebas, yang kemudian dibuat laporannya dan dipresentasikan di depan kelas setelah sekolah masuk. Bagi yang hasil penugasan dan presentasinya paling baik (menarik) akan mendapat penghargaan dari guru.
Semua level pendidikan di sana mendasarkan pada pengembangan riset dan IPTEK. Termasuk perguruan tinggi yang selain menjadi penghasil SDM spesialis, juga menjadi lembaga penelitian pusat dihasilkannya inovasi-inovasi teknologi. Apalagi didukung pemerintah dengan anggaran pendidikan yang tinggi, yang untuk keperluan penelitian saja negara menganggarkan 20% dari keseluruhan anggaran. Apalagi jumlah peneliti di Jepang hampir sepertiga jumlah peneliti di dunia, sekitar 730.000 peneliti berkumpul di sana!
Selain dukungan pemerintah, pihak industri pun tak ketinggalan menjalin kerjasama, yang dikenal dengan san-gaku-renkei (san berarti industri, gaku berarti dunia akademis, dan renkei berarti kerja sama). Media juga memiliki peran penting di sana untuk sosialisasi IPTEK. Media bukan hanya sarana hiburan, namun juga sarana pendidikan. Banyak acara di TV Jepang berupa kuliah-kuliah dari para profesor dari pelbagai bidang. Di televisi dan media cetak, berita perkembangan IPTEK dan sosialisasi hasil penelitian selalu disajikan, dan memang menjadi ujung tombak pemasaran media-media tersebut. Karena IPTEK bagi bangsa Jepang adalah tulang punggung perekonomiannya.
Sebagai gambaran sederhana tentang bagaimana kreativitas dan inovasi bangsa Jepang, dapat dilihat pada acara "Masquerade", yang juga ditayangkan oleh salah satu TV swasta di Indonesia. Banyak sekali peserta lomba yang memiliki ide unik, sangat kreatif dan inovatif untuk membuat pertunjukan dari manusia. Contohnya bisa dilihat di sini dan di situs ini juga ada, di sini.
4. Sikap Bertanggung Jawab dan Sifat Malu yang Tinggi
Bangsa Jepang adalah bangsa yang memiliki sikap bertanggung jawab yang tinggi, disertai rasa malu yang tinggi, khususnya jika melakukan kesalahan atau tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik. Meski bentuk pertanggung jawaban itu seringkali dilakukan dengan tidak benar menurut Islam (dengan bunuh diri, tingkat bunuh diri di Jepang tergolong paling tinggi), namun dari aspek kualitas pertanggung jawabannya menunjukkan tingkat sangat tinggi.
Dari rasa bertanggung jawab dan sifat malu yang tinggi inilah, implikasi dalam membentuk jati diri bangsa yang "knowledged community" sangat besar. Katakanlah misalnya, dalam masalah penghormatan terhadap HAM, masalah law enforcement, masalah kebersihan moral aparat, dan sebagainya. Termasuk sikap mereka dalam berlalu lintas sebagai contoh paling sederhana. Orang Jepang lebih suka memilih menggunakan jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffic light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tak ada lagi kendaraan yang lewat. Bagaimana mereka secara otomatis membentuk antrian di setiap keadaan yang membutuhkan, contohnya dalam pembelian tiket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
5. Sangat Ekonomis, Bukan Pemboros dan Tidak Konsumtif
Ini terlihat di dalam fenomena kehidupan sehari-hari di Jepang, misalnya dalam berbelanja. Pada saat setengah jam sebelum tutup, supermarket atau swalayan di Jepang jauh lebih ramai dari jam-jam biasanya. Karena supermarket di Jepang biasanya akan memotong harga hingga 50% pada waktu-waktu seperti itu. Contoh lain, seorang ibu rumah tangga rela berjalan, mengayuh sepeda atau naik motor lebih jauh untuk ke sebuah toko yang harga barang di sana lebih murah, bahkan hanya 10-20 yen. Yah, gambaran ini bisa kita lihat dari salah satu tokoh anime atau manga Jepang, Misae, ibunya Shinchan (Nohara Shinosuke), yang sangat tajam sensenya terhadap diskon barang atau dalam mencari barang lebih murah.
Sampai segitunya bangsa Jepang. Padahal kalau dilihat, mereka bukanlah bangsa yang miskin. GDP bangsa Jepang tergolong tinggi di dunia. Kita bandingkan dengan bangsa Indonesia yang memiliki GDP rendah, mereka punya sedikit uang saja sudah pusing memikirkan akan dibelanjakan apa dan di mana. Sudah bingung mau shopping di mana, mau beli motor apa, HP merek apa, dan sebagainya.
6. Budaya Kesopanan, Rendah hati dan Menghormati Orang Lain.
Coba, kalau kita ke Jepang, atau ketika di Indonesia berpapasan dengan orang Jepang, kemudian kita pura-pura menabraknya. Maka biasanya secara otomatis mereka akan membungkuk dan mengucapkan "gomennasai" (mohon maaf). Entah yang salah (yang menabrak duluan) siapa, namun dengan cepatnya sebelum kita bereaksi apa-apa, mereka lebih dahulu meminta maaf. Ini hanya contoh kecil, hanya masalah tabrak-menabrak. Hal ini sudah menjadi semacam reflek bagi mereka, untuk meminta maaf di tiap keadaan yang kira-kira tidak mengenakkan orang lain.
Saya teringat pada salah satu film drama Jepang (dorama) berjudul "Friend", di sana tokoh utama wanita bernama Tomoko (Kyoko Fukada) berkali kali meminta maaf kepada Kim Ji Hoon (Won Bin) karena telah melakukan kesalahan. Tomoko berkali-kali mengatakan "gomennasai", dan terus mengikuti Ji Hoon ketika belum dimaafkan.
Sebaliknya jika orang Jepang menerima kebaikan dari orang lain, seperti beberapa bangsa lain, maka berkali-kali mereka berterima kasih, berkali kali mengucap "doumo arigatou". Kalau kita mungkin juga mengucapkan terima kasih, tapi sekali saja dan kedengaran bukan ucapan terima kasih yang tulus.
Mungkin akan lebih panjang dan banyaknya jika kita menggali lebih dalam kelebihan sifat, sikap dan karakter bangsa Jepang untuk dijadikan pelajaran bagi kita. Bukan bermaksud untuk membandingkan, namun sekali lagi untuk diambil pelajarannya. Bangsa Jepang yang jauh dari agama Islam ternyata dalam aplikasi kesehariannya memiliki karakter-karakter yang seharusnya dimiliki kaum Muslimin. Sedangkan Indonesia yang mayoritas Muslim, justru sebagian besar jauh dari sifat-sifat ini.
Meski saat ini Jepang semakin terancam akan kebangkrutan ekonomi, karena ada beberapa negara yang mulai menyusul kemajuan IPTEK Jepang, seperti Korea dan China, tapi minimal kita dapat mengambil sebuah hikmah. Bahwa Jepang yang memiliki sumber daya alam sangat minimal, terletak di daerah rawan bencana, ternyata mampu menjadi nomor satu dalam teknologi di dunia. Itu karena kualitas SDM yang mumpuni dengan pelbagai karakteristiknya. Bagaimana jadinya jika Indonesia yang memiliki SDA berupa bahan tambang mineral, sumber energi, kekayaan laut dan hutan serta kesuburan tanah yang tinggi ini memiliki kualitas SDM seperti Jepang. Indonesia pasti akan memimpin dunia!!
"Sesungguhnya hikmah adalah milik kaum Muslimin. Maka jika seorang Muslim menemukan hikmah itu, dari manapun itu berasal, maka dialah yang paling berhak mengambilnya."
10 Mei 2007
Dari berbagai sumber. Jika ada data
yang kurang tepat, mohon koreksinya.