Tuesday, October 6, 2009

English Club

http://www.englishclub.com/
Yuk belajar English ^__^

Wednesday, September 30, 2009

Inikah Akibat Kebakhilan??


Oleh : Cahya Herwening


Malam hari itu, Sabtu 26 September 2009, saya sedang ada dalam acara syawalan kampung. Di tengah acara, pak Ketua RT 05 pamit pada saya karena harus segera meluncur ke lokasi taman candi Prambanan, membantu tetangga untuk mengangkut beberapa barang yang masih bisa diselamatkan, jika ada. Apa pasal?

Malam hari itu ada kejadian yang cukup menghebohkan, sempat menjadi buah bibir masyarakat yang tahu akan kejadian tersebut, termasuk di rumah saya. Malam itu ada kebakaran di lokasi taman candi Prambanan, yang di sana ada banyak kios yang digunakan untuk menjajakan pakaian, souvenir, pernak-pernik, mainan, dan sebagainya. Semua kios habis dilalap api, meski pemadam kebakaran mengerahkan 9 mobil pemadam kebakaran. Sepertinya tidak ada lagi barang yang bisa diselamatkan, karena para pemilik kios juga terlambat datang padahal api sangat cepat menjalar. Kios-kios itu, menurut kabar yang saya dengar, terbuat dari papan tripleks. Sehingga tentu api dengan renyahnya melahap kios-kios tersebut. Mungkin (karena saya juga tidak di sana) para pemilik kios berteriak histeris menyaksikan barang dagangannya ludes, tinggal abu.

Di antara banyak pemilik kios, mungkin hanya satu yang menderita kerugian paling besar. Tak kurang dari Rp 700 juta amblas akibat peristiwa itu. Masya Allah... saya sendiri belum pernah melihat uang sebanyak itu. Dan pastinya lebih, karena jumlah itu baru uang yang tersimpan di sana, belum barang dagangannya. Wah.. wah.. wah.., bagaimana rasanya ya kehilangan sebanyak itu. Meski pihak pengelola candi memberikan ganti Rp 10 juta per kios, jelas tidak sebanding dengan jumlah itu.

Tapi, mungkin ini merupakan peringatan kepada orang itu. Kabarnya, pendapatannya per hari (entah total omset atau bersihnya) Rp 10 juta. Tapi sepertinya tidak mau men-zakat-i harta tersebut. Idul Adha kemarin tidak tahu juga, ikut berqurban atau tidak. Bahkan, dengan tidak tahu malunya dia 'menggantol' (mengambil secara ilegal) listrik dari aliran listrik di jalan untuk keperluan tertentu. Padahal penghasilannya sebanyak itu, tapi tidak mau kehilangan sedikit uang untuk membayar biaya pemakaian listrik dan memilih cara ilegal. Apakah yang seperti itu bukan bakhil namanya? Udah bakhil, uthil, cethil, mbedhidhil.., apalagi ya sebutan yang tepat... Cari sendiri deh.

Maka ini bisa menjadi pelajaran bagi kita. Logikanya, kalau kita sudah menjadi wajib pajak, misalnya pendapatan sudah memenuhi PKP (Penghasilan Kena Pajak), ya harus pajak. Kalau tidak pajak, nanti kena denda, atau disita. Seperti itu pulalah dalam zakat, kalau sudah mencapai nishob, maka zakatnya harus dibayarkan. Jika tidak, maka Allah akan menarik dendanya, atau bahkan disita hartanya. Sudah banyak kan, contoh orang yang kehilangan jauh lebih banyak akibat tidak mau membayar zakat atau shodaqoh? Padahal, harta yang dizakatkan atau dishodaqohkan tidaklah hilang, melainkan justru menjadi tabungan milik kita yang sejati, yang jumlahnya dilipat gandakan oleh Allah.

Wallaahu a'lam...


Monday, September 28, 2009

Permohonan Bantuan Bagi Nasabah Bank Muamalat yang Tinggal di Yogya

Assalaamu 'alaykum

Teman saya sedang melaksanakan penelitian tentang bank syari'ah, mengambil sampel nasabah Bank Muamalat di wilayah Yogyakarta.

Bagi Anda yang kebetulan memenuhi kriteria tersebut, pleeaase... mohon bantuannya untuk secepatnyamengisi kuesioner yang ada di attachment berikut.

Setelah diisi mohon dikirim via email (boleh di bodymail atau attachment) ke:

fitra_justice@yahoo.com

atau

cahyaherwening@yahoo.com

Jazaakumullaah khairal jazaa' atas segala bantuannya.

Wassalamu 'alaykum

Wednesday, July 8, 2009

KITAB KLASIK ISLAM

http://www.kitabklasik.co.cc/
Download e-book kitab-kitab klasik.
Kereeeeen!!!!!!!!

Tuesday, June 30, 2009

Peran Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah

oleh: Cahya Herwening *)

Kita mengenal slogan “Pemuda harapan bangsa” atau “Maju mundurnya suatu bangsa tergantung pada pemudanya”. Mahasiswa adalah bagian pemuda yang selalu ditunggu perannya dalam pembangunan. Apa sajakah peran itu?

Kita telah memaklumi bersama bahwasannya mahasiswa termasuk kalangan elit. Hanya segelintir saja dari jutaan orang pemuda di Indonesia, yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Tak semua memiliki kesempatan masuk ke dalam kelas ini. Terlebih realita yang ada saat ini manakala biaya kuliah semakin mahal. Makin sedikit pula yang dapat merasakan hidup di dunia perguruan tinggi. Dan yang sedikit itulah, yang memiliki potensi strategis sebagai iron stock para leader di negeri kita ini.

Mahasiswa adalah kalangan yang memiliki potensi besar melakukan mobilitas. Bahkan, hal itu sudah dilakukan semenjak mereka resmi memiliki status sebagai mahasiswa, karena status itu termasuk kelas menengah. Ke depan, selepas menyelesaikan proses pembelajaran dan pencarian jati diri mereka di kampus, pintu melakukan mobilitas itu semakin terbuka. Mobilitas secara vertikal maupun horizontal, menuju ke posisi strategis di berbagai sektor yang akan mereka geluti, baik public sector, private sector atau third sector.

Besarnya potensi mereka itu –logis, karena hampir tidak mungkin negeri ini akan dipimpin oleh para lulusan SMP apalagi SD– tak luput dari besarnya harapan yang disematkan ke pundak mereka. Mereka diharapkan oleh masyarakat untuk nantinya kembali dan membangun masyarakat khususnya di daerah dari mana mereka berasal. Mahasiswa yang merantau, seolah-olah menjadi perwakilan daerah untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin kemudian diterapkan dalam pembangunan daerahnya suatu saat nanti. Dan ini memang menjadi salah satu peran yang harapannya bisa dijalankan oleh para mahasiswa, terlepas dari realita mahasiswa zaman sekarang yang tak sedikit menghabiskan masa studinya dengan hura-hura dan bersenang-senang.

Sebenarnya apa saja peran mahasiswa yang bisa dimainkannya dalam pembangunan daerah? Hal ini perlu dipahami bersama, karena ketidakjelasan peran akan menimbulkan kegamangan. Dan kegamangan akan mengakibatkan ketidakproduktifan. Maka tentang peran mahasiswa dalam pembangunan daerah ini perlu kita ulas lebih jauh. Namun, kita perlu terlebih dahulu melihat seberapa jauh potensi yang dimiiki oleh mahasiswa. Sehingga apa saja peran yang dapat dimainkan nanti, bisa kita lihat dari potensi yang ada dalam diri mereka.

Pertama, kita dapat melihat potensi mahasiswa dari aspek karakternya. Kita pahami bersama, bahwa mahasiswa memiliki karakter idealis. Semua hal dilihat dan ingin dibentuk dalam tataran ideal. Baik dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri, keorganisasian, berbagai sistem dan kebijakan dalam masyarakat maupun dalam kehidupan negara. Mahasiswa biasanya menjadi orang yang paling resah dengan ketidakberesan, benci dengan ketidakadilan, menginginkan tegaknya aturan dan norma kebaikan. Dengan begitu tepatlah manakala mahasiswa disebut sebagai social control, mengkritisi setiap ketidakberesan berjalannya sistem di masyarakat maupun negara.

Pemuda memiliki tipe pemikiran yang kritis dan kreatif. Mahasiswa sebagai bagian dari pemuda tak lepas dari sifat ini. Sejarah mengatakan, bahwa perubahan-perubahan besar berawal dari para pemuda. Kita dapat melihat bagaimana peristiwa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan Indonesia serta reformasi berawal. Semua tidak luput dari peran para pemuda. Pun begitu dengan berbagai peristiwa perubahan, revolusi dan pembaruan di beberapa belahan dunia.

Kaum muda memiliki frame berfikir yang khas. Berawal dari idealismenya dia kritis terhadap persoalan-persoalan, dan dengan kreativitasnya memberikan solusi-solusi dari persoalan yang ada. Tak jarang solusi yang mereka hasilkan merupakan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya oleh generasi yang lebih tua. Banyak terobosan baru yang mereka lahirkan, karena mereka punya paradigma berpikir yang berbeda. Karena berbeda paradigma, maka biasanya antara generasi tua dan generasi muda terjadi konflik pemikiran, antara paradigma lama dan paradigma baru. Kita dapat ambil contoh pada salah satu persitiwa besar, proklamasi kemerdekaan. Terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda tentang kapan proklamasi harus dilakukan.

Beberapa kelebihan yang bersifat alami di atas, yakni idealis, kritis dan kreatif membuat arus perubahan dapat diciptakan, menuju yang lebih baik sebagaimana idealita yang ada dalam benak mereka. Dipadu dengan sifat semangat, dan didukung oleh kekuatan fisik yang masih prima, maka arus perubahan semakin besar. Mereka tak akan kenal lelah dalam bekerja dan menggerakkan perubahan itu, sehingga dalam waktu yang tak terlampau lama apa yang mereka inginkan akan segera dicapai.

Kedua, potensi mereka dilihat dari aspek intelektualitas, kecerdasan dan penguasaan wawasan keilmuan. Ilmu dan wawasan yang dimiliki selain akan memperluas cakrawala pandangan, juga memberikan bekal teoritis maupun praktis dalam pemecahan masalah. Seorang mahasiswa akan dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang ada yang pada masa dahulu pernah ditemui manusia dan dirumuskan dalam berbagai teori pemecahannya. Atau, jika hal yang ada belum pernah ditemui sebelumnya, maka mereka sudah memiliki bekal yang metodologis dan sistematis tentang bagaimana cara menemukan pemecahan problem-problem yang ada. Tiada lain dengan riset, baik riset di bidang eksak maupun noneksak.

Potensi dari dua aspek yang ada itulah yang akan membuat mahasiswa dapat melakukan perannya. Syaratnya, kedua potensi itu benar-benar dikembangkan secara optimal oleh mereka baik secara personal maupun komunal sehingga dapat menjadi senjata yang siap digunakan untuk memberikan kemanfaatan terbesar bagi masyarakat. Potensi dari aspek karakter dikembangkan dengan berbagai aktivitas yang mengasah softskill, baik melalui kegiatan organisasi, pelatihan-pelatihan maupun aktivitas keseharian mahasiswa di luar kegiatan akademik. Sedangkan potensi intelektualitas dibangun melalui semua kegiatan yang mengasah hardskill, yakni kegiatan belajar mengajar, pengkajian, penelitian dan juga pelatihan. Dengan begitu mereka memiliki kualifikasi dan kompetensi menuju profil mahasiswa ideal, yakni mahasiswa yang memiliki integritas moral, kredibilitas sosial dan profesionalitas keilmuan.

Pada era sekarang ini, rasanya sudah tidak relevan lagi manakala implementasi peran mahasiswa hanya sekadar seperti apa yang dilakukan pada masa-masa lalu. Sebagian besar yang telah dilakukan mahasiswa untuk menjalankan peran sebagai agent of change dan social control dilakukan melalui aksi-aksi turun ke jalan. Aksi untuk menuntut perubahan kebijakan, penyebaran wacana dan opini ke publik, namun belum bisa memberikan solusi konkrit. Sudah saatnya hal itu diubah, sudah tiba waktunya bagi mahasiswa untuk memaksimalkan peran sebagai aktor intelektual yang dapat memberikan jawaban-jawaban dan solusi yang konkrit, membumi, aplikatif dan bermutu. Bukan sekadar wacana yang mengawang, atau alternatif solusi dari hasil analisis yang serampangan. Namun semuanya berbasis penguasaan keilmuan pada bidang masing-masing, melalui proses pengkajian yang mendalam dan komprehensif, dilihat dari berbagai sudut pandang secara interdisipliner sehingga menghasilkan solusi yang solutif.

Peran yang bisa dimainkan mahasiswa di daerah tentu tak terkungkung pada daerahnya masing-masing, namun bisa berperan di daerah lain. Juga tidak melulu yang bersifat konseptual, namun juga yang bersifat praktikal dengan terjun langsung di masyarakat. Yang jelas semuanya didasari oleh kerangka berpikir ilmiah. Mahasiswa dapat memulai aksinya berpijak dari masalah-masalah yang ada pada suatu daerah, maupun potensi besar yang belum terkembangkan atau teroptimalkan yang dapat menjadi senjata bagi daerah tersebut. Baik dalam bidang pangan, pendidikan, kesehatan, iptek, pertanian, sosial, budaya, pemerintahan dan lain sebagainya.

Di bidang pangan misalnya, suatu daerah memiliki keunggulan komparatif sebagai penghasil salak. Di setiap musim panen, produksi salak melimpah dan dapat mensuplai produk ke beberapa daerah lain yang membutuhkan. Permasalahannya adalah seringkali jumlah produksi salak melebihi permintaan yang ada, sehingga ada sisa yang setiap periode terbuang percuma, karena sifat produk pertanian yang cepat rusak. Berdasarkan permasalahan itu, seorang mahasiswa yang baik akan dapat mengubah permasalahan seperti itu menjadi potensi besar. Dia akan melakukan riset untuk menciptakan produk olahan dari salak, sehingga salak yang tidak termanfaatkan dalam bentuk mentah setelah menjadi produk olahan lain akan memiliki nilai jual lebih tinggi, disamping dapat meningkatkan daya tahan produk itu sendiri. Implikasi positif lain dari hal ini adalah membuka peluang usaha baru yang nantinya dapat menyerap tenaga kerja, dengan begitu pengangguran dapat dikurangi. Kripik salak dan selai salak merupakan contoh produk sebagai wujud nyata dari usaha semacam ini.

Contoh lainnya, manakala pada suatu daerah memiliki permasalahan pada banyaknya sampah padat yang tidak tertangani dan akhirnya menumpuk di beberapa tempat. Selain dari segi estetika tidak sedap bagi pemandangan, menimbulkan bau tidak sedap, dari aspek kesehatan dapat menjadi sumber beberapa penyakit, selain memberikan potensi ancaman banjir apabila menyumbat beberapa saluran air. Mahasiswa atau kelompok mahasiswa dapat memberikan solusi dengan program pemberdayaan masyarakat pengolahan sampah organik. Dampaknya pada pengurangan jumlah sampah yang ada secara signifikan, dihasilkannya produk olahan sampah organik misalnya menjadi pupuk organik yang memiliki kegunaan dan bernilai jual, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sampah.

Mahasiswa tidak harus terjun sendiri ke masyarakat secara swadaya, karena hal itu akan sangat berat. Alangkah sangat baiknya mahasiswa dapat merangkul berbagai pihak yang dapat diajak kerja sama dalam membuat proyek-proyek yang lebih besar untuk memberikan pencerdasan pada masyarakat dan memberdayakan mereka. Pemerintah daerah, pihak kampus (universitas) dan pihak swasta adalah pihak-pihak yang sangat bertanggung jawab dalam kemajuan masyarakat. Pemerintah daerah tentu saja pelaku utama yang bertanggung jawab penuh terhadap kemajuan masyarakat di daerahnya. Universitas memiliki kewajiban dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana tertuang dalam salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pihak swasta memiliki kewajiban untuk melaksanakan program-program CSR (Corporate Social Responsibility). Peran ketiga elemen besar itu harus dapat dioptimalkan, dan disinergikan. Dan hal ini dapat diinisiasi oleh mahasiswa.

Pihak pemerintah berperan dalam pendanaan sebagaimana telah dianggarkan, juga SDM pakar dengan adanya para petugas penyuluh lapangan dari departemen-departemen tertentu. Pihak universitas memberikan sumbangan dari sisi keilmuan, program (misalnya dengan priogram KKN) dan SDM pelaksana, yakni mahasiswa itu sendiri. Aspek dana juga didukung oleh pihak swasta, selain perannya dalam memenuhi kebutuhan akan instrumen berupa peralatan maupun perlengkapan. Sinergitas yang saling melengkapi dari ketiga pihak ini akan memberikan signifikansi sangat tinggi dalam upaya melaksanakan pembangunan daerah. Karena dengan sinerginya beberapa pihak tersebut, masing-masing tidak bekerja sendiri melalui program yang bisa jadi overlap satu sama lain sehingga tidak efektif dan efisien, bahkan kontraproduktif.

Ke depan, kesadaran akan pentingnya sinergitas antara beberapa pihak perlu semakin ditingkatkan, dan ini harus dimulai semenjak sekarang. Tak ketinggalan, penyiapan diri mahasiswa, yang ke depan juga akan menempati ruang-ruang strategis di pemerintah, swasta maupun kampus harus dilakukan semenjak dini, dengan cara:
1.    Pengembangan potensi diri dari aspek hardskill maupun softskill sebagai upaya memaksimalkan potensinya sebagai iron stock,
2.    Melakukan kontrol kebijakan pemerintah terhadap penentuan arah dan karakteristik pembangunan daerah,
3.    Berupaya untuk senantiasa memenuhi kebutuhan akan perbaikan dari kehidupan masyarakat dan berbagai permasalahan yang terjadi di sana melalui penerapan dan implementasi ilmu yang telah diperoleh di bangku perguruan tinggi,
4.    Mengembangkan jaringan (networking) dengan berbagai pihak, khususnya yang memiliki peran dan potensi dalam pembangunan daerah.

Semua itu tak dapat terwujud manakala tidak diawali oleh kepedulian serta sikap kritis terhadap peristiwa sosial yang melahirkan niat dan kemauan untuk turut berperan serta memperbaiki masyarakat. Sehingga nantinya cita-cita untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang berkedaulatan, berkeadilan, maju dan mandiri dapat diraih. [ ]



*) Penulis adalah pengurus MITI-Mahasiswa
sebagai Kepala Bidang Pembinaan Wilayah

Wednesday, May 20, 2009

Cukup Kata-kata Sederhana Buat Kami


Oleh : Cahya Herwening


Wahai para pemimpin negeri...
tak perlu lah kalian mengatakan sesuatu yang muluk,
tak perlu pula berkata yang melangit.
Masyarakat sudah kenyang, dengan kalimat yang mengawang.

Wahai para petinggi negara, ataupun para calonnya,
tak perlu kalian berjanji...
Apalagi, janji-janji tak pasti.
Rakyat negeri ini, sudah muak dengan janji yang tak ditepati.

Masih ingat manakala pada masa gempa Jogja,
ada yang berbicara....
bahwa tiap kepala rumah tangga bakal dapet 30 juta.
Tapi mana ya, realisasinya?

Itu hanya contoh teknis, bukan bermaksud pragmatis.
Masih banyak janji dan wacana yang tampaknya idealis,
dan berbaris-baris...

Kami tak butuh konsep-konsep.
Kami juga gak perlu wacana-wacana.
Pembangunan ekonomi kerakyatan?
Program-program pemerintah yang pro rakyat?
Memprioritaskan nasib wong cilik?

Ahh... teori...
Konsep dan wacana lagi!
Kita butuh aplikasi, implementasi...
Gak perlu janji, tapi bukti.

Maka, berkatalah sederhana.
Tak perlu muluk, melangit, mengawang...
Berkata apa adanya, yang dapat dipahami oleh semua.
Jika bawahanmu saja tidak paham, bagaimana rakyat bisa mengerti?? [ ]

Tuesday, May 19, 2009

Adakah Konspirasi di Pemilu Legislatif 2009?



Oleh : Cahya Herwening


Ini salah satu ganjalan di benak penulis tatkala mengikuti perkembangan jalannya pemilu legislatif kemarin. Ada beberapa hal yang terjadi, entah yang disiarkan melalui televisi, diinformasikan lewat media cetak, ataupun disaksikan dan didengar sendiri selama beberapa waktu lalu. Beberapa hal itu melahirkan satu pertanyaan besar, apakah benar di pemilu legislatif kemarin terlalu banyak rekayasa oleh tangan-tangan tak terlihat?

Pertanyaan tadi tampaknya bukan sekadar imajinasi atau khayalan penulis, karena beberapa orang lain atau bahkan mungkin banyak orang merasakan hal serupa. Termasuk calon presiden alternatif, Rizal Ramli, dalam sebuah acara di salah satu stasiun TV Indonesia bernama "Save The Nation" mengatakan bahwa ini adalah pemilu terkacau dibandingkan dengan dua pemilu sebelumnya. Beliau memberikan argumen beliau, mengapa berpendapat seperti itu.

Penulis pun memiliki hipotesisnya sendiri. Terlepas dari berbagai tulisan opini yang belum penulis temukan dan baca (sepertinya banyak), penulis hanya mengungkapkan apa yang penulis lihat/rasakan, dan ingat. Bisa jadi ini analisis yang sangat dangkal. Namun biarlah. Sesuatu yang dalam pasti diawali oleh sesuatu yang dangkal. Gak percaya? Coba aja jadi tukang gali sumur .

Baiklah, kita mulai saja beberapa 'kecurigaan' ini (semoga todak ditangkap dan dijebloskan ke penjara, hehe):

1. Kisruh DPT
Ada yang bilang bahwa data yang digunakan untuk menentukan DPT diambil dari data Departemen Dalam Negeri. Dan menurut informasi, data dari sana adalah yang paling tidak kredibel, atau tidak valid. Pada kenyataannya, ada banyak kasus dimana sebuah keluarga beranggotakan misalnya 8 orang namun yang ada di DPT hanya 2 orang. Bahkan, ada di dapil kami yang dari satu RW hanya sekitar 12 orang yang terdaftar!! Luar biasa. Mungkin tak hanya di satu tempat itu yang terjadi demikian.

Kasus lain, di dapil yang sama, di kecamatan penulis sendiri, terjadi kelucuan. Belum lama selesai agenda pemilihan kepala desa. Saat pilkades tersebut, warga masyarakat terdaftar sebagai pemilih. Namun di pemilu, dia tidak masuk DPT. Jadi bertanya-tanya, bagaimana sih koordinasi di tingkat --paling tidak-- kecamatan, kok bisa-bisanya seperti itu??

Banyak memang yang tak terdaftar di DPT. Termasuk teman-teman saya kader sebuah partai dakwah. Pada awalnya santai-santai saja, karena cukup yakin diri mereka akan masuk DPT di daerahnya (kebanyakan mahasiswa perantauan). Namun setelah sekitar 3 atau 2 hari menjelang hari H, baru tahu bahwa namanya tidak masuk DPT. Dan ketika mengurus, sudah terbilang terlambat. Memang sih, seharusnya sejak awal mengecek DPS apakah namanya sudah masuk atau belum. Namun lagi-lagi, tak jarang DPS tidak dipasang sehingga tidak bisa melihat apakah sudah masuk daftar.

Ada yang mengatakan bahwa kasus DPT ini ulah aksi intelijen (maksudnya aksi rahasia yang bersifat intelijen, tidak harus dilakukan oleh badan intelijen). Mungkin sudah terdata peta kekuatan masing-masing partai, kemudian menggembosi daerah yang perolehan partai tertentu itu minimal. Sedang menurut suatu sumber, daerah-daerah yang kucuran BLT-nya besar, kasus DPT-nya minimal, dan sebaliknya. Kenapa ya?

2. Peraturan Mutasi
Urusan mutasi pada pemilu kali ini sungguh rumit. Sangat berbeda dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Seseorang harus mengurus C-5 di TPS-nya, boleh sendiri, boleh orang lain/keluarganya. Syaratnya tentu harus terdaftar di DPT. Setelah C-5 diperoleh, lalu mengurus ke TPS yang dituju untuk mutasi. Setelah beres, baru deh bisa mencontreng di TPS tujuan.

Mungkin tampak tidak terlalu sulit, tapi kita lihat saja, ada beberapa 'filter' berikut:
- Apakah terdaftar di DPT? (mengingat banyak sekali kasus DPT)
- Dapatkah mengurus C-5? (karena banyak sekali KPPS yang tidak paham apa dan bagaimanakah C-5 itu....)
- Apakah memperoleh jatah mencontreng di TPS yang dituju? (jikalau KPPS di TPS tujuan memahami mekanisme mutasi, jatah kertas suara cadangan di TPS hanya 2% dari pemilih, itu pun akan dikurangi bila ada kertas suara rusak dan juga jatah untuk saksi-saksi).

Nah, kenyataannya di DIY yang banyak sekali mahasiswa perantauan mengaku sangat kesulitan mengurus mutasi dengan sistem seperti ini. Ada upaya advokasi dari beberapa lembaga mahasiswa, namun terganjal juga dengan beberapa hal, khususnya birokrasi. Sehingga, mau tidak mau beribu-ribu potensi suara terpaksa gugur secara teknis.

Fakta lain, banyak kader sebuah partai dakwah yang berasal dari kalangan mahasiswa, dan banyak di antaranya mahasiswa perantauan. Nah, bisa jadi sistem (peraturan) baru seperti itu sengaja dibuat agar banyak potensi suara dari partai tersebut yang berguguran.

Itu beberapa hal yang mengganjal di pikiran penulis. Mungkin ada hal lain yang terlupa. Jika ingat insya Allah akan ditambahkan. Nah, pertanyaannya adalah:
"Apakah hal-hal tersebut terjadi
karena kecerobohan, karena ignorant, atau memang by design?" Menurut hipotesis yang tersirat dari judulnya sih, yang terakhir nih pilihannya.

By the way, itu hanya cuap-cuapan orang kecil yang tak tahu apa-apa. Mungkin banyak yang menganggap asal ngomong. Tapi ini uneg-uneg rakyat kecil yang butuh klarifikasi, atau lebih jauh lagi solusi. Ada yang mau kasih tanggapan?? [ ]