Tuesday, August 30, 2011

Catatan Akhir Ramadhan


Oleh : Cahya Herwening


Di akhir Ramadhan ini, mari kita renungkan bersama. Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, berkah, ampunan, pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup, pahala amal kebaikan dilipatgandakan serta ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Berarti, bahwa Ramadhan seharusnya menjadi waktu dimana kita bisa panen raya pahala dan juga diampuni dosa sebanyak-banyaknya. Namun sudahkah kita mengoptimalkan kesempatan tersebut?

Kita sepertinya telah biasa menyaksikan atau bahkan merasakan sendiri. Selama Ramadhan, ada yang pengeluaran untuk konsumsi justru meningkat daripada bulan-bulan biasa, alias lebih boros. Sholat-sholat jama'ah di masjid kian hari kian maju shaffnya. Ada yang masih berleha-leha tidak memanfaatkan waktu untuk ibadah, tapi hanya tidur-tiduran atau bermain-main. Atau bahkan ada yang tenang saja meninggalkan kewajiban puasa dan sholat lima waktu. Naudzubillah, semoga kita bukan golongan orang yang disebut terakhir tadi.

Bagi yang sudah berniat mengoptimalkan Ramadhan untuk beribadah pun tak luput dari cobaan. Mungkin masih sering kita rasakan rasa malas beribadah yang tiba-tiba datang, lemah semangat tiba-tiba terjadi, biasanya itu terjadi saat kita sampai di pertengahan Ramadhan. Misalnya, pada awal-awal Ramadhan kita sanggup tilawah Al-Qur'an sehari dua atau tiga juz, namun saat mulai memasuki pertengahan Ramadhan, semangat nge-drop. Kenapa bisa begitu? Padahal dalam suatu hadits dikatakan bahwa pada bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu. Tapi kenapa masih datang kemalasan? Maka kita perlu cari penyebabnya.

Saya teringat perbincangan dengan salah seorang murid sekaligus kawan tentang hal ini. Dia melontarkan pertanyaan serupa, dan saat itu pula saya baru sadar akan beberapa kemungkinan penyebab fenomena tersebut, yang kemudian saya sampaikan padanya. Faktor godaan setan memang masih ada, karena setan masih berkeliaran. Hanya kejahatannya saja yang dibatasi atau diminimalkan. Dan pada bulan Ramadhan, suasana memang sangat kondusif untuk beribadah dan mendekatkan diri pada Allah sehingga mempersulit gerak setan. Kalaupun setan benar-benar dibelenggu, hanya beberapa saja, misalnya pimpinan atau yang kejahatannya sudah berlebihan. Ada beberapa perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini, dan insya Allah sudah banyak artikel yang menjelaskannya.

Berikut akan dipaparkan pendapat sementara penulis, kenapa pada bulan Ramadhan kita masih bisa malas, bahkan mungkin lebih malas dari bulan biasanya. Pertama, karena semangat kita masih semangat 'proyekan'. Sifat proyek adalah pekerjaan dilakukan dalam suatu kurun waktu tertentu untuk mengerjakan tugas tertentu hingga selesai. Apabila tugas selesai maka berhentilah aktivitasnya, dan selesailah proyeknya. Contohnya, pada proyek pembangunan jembatan. Bila jembatan sudah jadi, maka proyek tersebut selesai dan pekerjaan berhenti. Nah, sangat boleh jadi kita rajin ibadah, atau mulai beribadah pada saat berada di bulan Ramadhan. Sedang di luar Ramadhan, kita tidak melaksanakannya. Istilahnya kita masih manusia ramadhani, bukan manusia Rabbani.

Pelaksanaan amalan-amalan secara lebih pol-polan saat Ramadhan tanpa persiapan di awal, akan berakibat kita akan merasa cepat kelelahan. Ibarat olahraga tanpa pemanasan terlebih dahulu, maka rentan cedera, terlebih lagi bila sebelumnya tidak pernah olahraga. Atau seperti mesin yang tidak pernah dipanasi, kemudian langsung dipakai kenceng. Ya pasti bodhol. Kalau kita sudah mulai kelelahan, pasti kemalasan akan datang, semangat akan kendur, meski di awal Ramadhan sudah berjalan baik.

Merenungkan itu, jadi teringat teladan dari Rasulullaah saw. Beliau bersama para shahabat telah melakukan persiapan sejak sebelas bulan sebelum Ramadhan, artinya sejak selesai Ramadhan sebelumnya, yakni bulan Syawal, mereka telah mengoptimalkan ibadahnya, sepanjang tahun. Dan persiapan mereka lebih dipertajam manakala menginjak bulan Rajab. Dengan begitu, kualitas ibadah mereka dapat terus meningkat karena semuanya telah terbangun sebagai kebiasaan. Dan ketika memasuki Ramadhan, mereka dapat meningkatkannya lagi. Berbeda sekali dengan kita yang 'proyekan'.

Kemungkinan penyebab kedua, yaitu bahwa mungkin kita 'berjalan' sendirian. Kita tidak punya komunitas ibadah yang bisa saling menyemangati, memotivasi, mengingatkan untuk terus rajin. Apabila kita sendirian, ketika kita lemah semangat tidak ada yang dapat menarik kita untuk kembali ke ritme awal. Terasa benar, ketika di rumah sendiri, semangat memang lebih mudah drop. Sebaliknya terasa benar ketika ada beberapa saudara seiman, misalnya di kala i'tikaf, semangat dapat lebih terjaga karena ada suasana kompetisi dalam ibadah dan ada kebersamaan.

Mungkin dua faktor itu yang berpengaruh terhadap keistiqomahan kita dalam beribadah dengan optimal di bulan Ramadhan. Semoga dengan mengetahui penyebab kenapa kita malas dan lemah semangat di pertengahan Ramadhan, kita dapat mengantisipasinya pada Ramadhan yang akan datang, insya Allah. Saya mengajak diri sendiri dan kita semua untuk mempersiapkan lebih dini dalam menyambut Ramadhan, sehingga dapat lebih optimal di dalamnya. Semoga Allah menyampaikan umur kita hingga Ramadhan yang akan datang dengan dipanjangkannya umur kita dan diberikan kesehatan yang prima. Aamiin.

Selasa, 30 Ramadhan 1432 H

Sunday, August 14, 2011

Menjadi Pahlawan Sejati


Oleh : Cahya Herwening


Wah, tanpa terasa sudah mau tujuh belasan lagi nih. Momen yang dapat mengingatkan kita akan keberhasilan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan indonesia. Di kepala kita, yang namanya pahlawan itu ya yang kayak Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Nyi Ageng Serang, RA Kartini, Kapten Pattimura, Sultan Hasanuddin dan sebangsanya. Banyak banget tokoh pejuang masa lalu yang telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Para pahlawan di atas adalah beberapa contoh pahlawan yang ‘resmi’ dan ‘legal’ menurut negara. Definisi pahlawan versi negara mengacu pada Peraturan Presiden No.33 tahun 1964. Dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pahlawan adalah;
a) warga Negara RI yang gugur dalam perjuangan – yang bermutu – dalam membela bangsa dan negara;
b) warga negara RI yang berjasa membela bangsa dan negara yang dalam riwayat hidupnya selanjutnya tidak ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai perjuangannya.
Kedua poin di atas menjadi kriteria utama untuk menetapkan seseorang sebagai pahlawan nasional.


Hmm… setelah dipikir-pikir, berat juga ya syarat jadi pahlawan menurut versi negara itu. Kudu punya karya perjuangan di level negara. Kalau kita liat diri kita sekarang, boro-boro mau level nasional, level kabupaten atau bahkan kecamatan aja belum tentu bisa atau nggak. Liat aja, di pertandingan catur tingkat kampung aja keok! Hehehe…. emang lomba tujuh belasan??

Menurut kamus Oxford, yang disebut pahlawan (hero) adalah a person, typically a man, who is admired for their courage or outstanding achievements; atau seseorang, biasanya laki-laki, yang dikagumi karena keberaniannya atau pencapaian yang luar biasa. Nah, berdasarkan pengertian itu, seberapa pula pencapaian kita saat ini? So, bisa enggak sih, kita jadi pahlawan dengan kekuatan dan kemampuan kita saat ini?


Ada seorang tokoh mengatakan, bahwa di setiap zaman ada pahlawannya, di setiap generasi ada pahlawannya dan di setiap wilayah ada pula pahlawannya. Di zaman dulu kala, pada kaum Bani Israil diturunkan pahlawan, salah satunya Isa as. Beliau diturunkan kepada mereka untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan. Beliau pun punya pengikut yang juga para pahlawan, Hawariyyin. Pernah suatu ketika Nabi Isa as. membutuhkan penegasan komitmen mereka dengan menanyakan “siapakah yang akan menjadi penolong agama Allah?”, mereka dengan sigap menjawab; “kamilah para penolong agama Allah.”. Hal ini terekam dalam surah Ash-Shaff ayat terakhir, yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.”

Kita pun mustinya bisa jadi pahlawan pula di wilayah kita dan zaman kita ini. Kita pasti bisa berperan dengan apa yang ada dalam diri kita saat ini, entah itu kekuatan yang kita telah miliki, atau potensi diri yang belum tergali dan terkembangkan. Cukuplah kita kembalikan makna pahlawan itu pada asal katanya, yakni “pahala” dan “-wan”. Pahalawan, artinya orang yang memiliki banyak pahala, orang yang gemar mencari pahala, atau orang yang beraktivitas dalam tugas dan peran yang penuh pahala dan kebaikan. Tentu kita mau banget lah, kalau punya banyak pahala. Itulah yang namanya pahalawan alias pahlawan. Hehehe…

Pahala itu dari Allah Ta’ala, dan untuk memperolehnya kita musti melakukan amalan-amalan sebagaimana yang Allah perintahkan. Maka ini akan menjadi relevan dengan ayat yang disebut di atas, bahwasannya Allah telah memerintahkan kepada kita: “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah…”. Perintah untuk menolong agama Allah itu ditujukan kepada semua yang mengaku beriman. Berimankah kita? Jika iya, yuk mari … menjadi penolong agama Allah. Itulah pahlawan sejati, the true hero.

Bagaimana caranya? Kita nggak bakalan bisa jadi penolong agama Allah (Islam) manakala kita sendiri gak tau gimana sih Islam itu. Seorang bodyguard atopun satpam yang disuruh ngejaga sesuatu kudu tau barang yang dijaga apa. Jika tidak, apabila terjadi sesuatu pada barang yang dijaga maka tidak akan tahu. So, kita pun kudu tau tentang apa yang kita jaga, yakni Islam, dengan cara mempelajarinya dari semua sarana.

Setelah mempelajari Islam, terus apa lagi? Yang dilaksanakan lah. Supaya jadi kebiasaan dan lama kelamaan mendarah daging, menjadi akhlak. Kalau cuman kita pelajari doang secara teoritis, so bakal cepet ilang. Percaya deh. Makanya kudu diamalkan. Terlebih lagi, mengamalkan itu menjadi kewajiban klo kita dah punya ilmunya, karena amal adalah buah dari pohon ilmu.

Lalu setelah mengamalkan, lalu apa dong? Hmm.. jangan sampai cuma kita doang yang ngamalin, tapi kudu bersama-sama orang yang lain agar memiliki dampak luas, dalam memperbaiki masyarakat. Makanya kita yang dah tau duluan, kudu ngasih tau yang lain, alias menyampaikan, atau istilah kerennya sih berdakwah gitu choy! Idih berdakwah, berat amat istilahnya ya?? Hehe.. gak juga kok, soalnya Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah sesuatu dariku meski hanya satu ayat.” Nah, apapun yang kita tau, itu bisa didakwahkan.

Setelah dakwah, apalagi? Belajar, beramal dan berdakwah itu musti dikerjakan dengan berkelanjutan alias istimror. Supaya istiqomah, so kudu punya kesungguhan (jiddiyah). Nah kita emang musti berjihad (bersungguh-sungguh) klo pengen apa yang telah kita lakukan dapat bertahan dan konsisten. Sungguh-sungguh dalam belajar, beramal maupun berdakwah, juga dalam kondisi yang diperlukan bisa berjihad untuk berjuang membela apa yang musti kita jaga. Empat hal itulah, menuntut ilmu, mengamalkannya, mendakwahkannya dan berjihad atasnya, yang disebut dengan menolong agama Allah. Simpel kan?

Trus, apa keuntungan buat kita? Ya jelas lah, kita bukan golongan orang yang lalai dan ingkar dari keimanan, karena kita membuktikan keberimanan kita itu. Lebih jauh lagi, kita pun bakal dapet keuntungan dunia akhirat Bro. Di dunia, kita yang menolong agama Allah juga bakal ditolong oleh-Nya dalam segala urusan hidup kita, dan juga ada jaminan kemenangan (kesuksesan) yang dekat. Sedangkan di akhirat, kita bakal diampuni dosa kita yang segunung itu, serta kita akan dimasukkan ke dalam syurga Allah swt yang luar biasa kerennya. Kita perhatikan nih firman Allah dalam beberapa ayat Qur’an berikut:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. ” (Qs. Ash-Shaff: 10-13)

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Qs. Muhammad: 7)

Nah, itulah balasan bagi sang pahlawan, yakni pahala yang besar dan kebaikan, di dunia maupun di akhirat. Jadi, berani jadi pahlawan sejati? [ ]

Diambil dari blog lama, dengan beberapa editing

Thursday, August 11, 2011

Polling Tentang Alamat MP Saya

Hallo Saudara-saudara, apa kabar?
Lama sekali tak bersua ya.
Semuanya sehat??
Semoga masih ingat tentang saya.
Hehehe...

Begini, saya kepikiran tentang ID MP saya yang menurut saya sendiri sulit diingat bagi orang umum. Teringat akan kuliah manajemen pemasaran pada 'jaman bahulak', merk atau nama yang dipilih paling tidak harusnya unik, mudah dihapal, mudah diingat.

Terkait dengan hal tersebut, maka saya ingin bertanya ke teman-teman semuanya:
1. Apakah alamat MP saya ini memenuhi kriteria di atas? (terutama mudah aspek mudah diingatnya)
2. (Bila jawaban no 1: Tidak) Apakah sebaiknya saya bikin account baru dengan nama yang lebih sederhana?

Mohon masukannya ya. Btw, saya belum tahu apakah di MP kita bisa import blog. Soalnya kalau bikin account baru dan yang ini dihapus, sayang posting-posting lama yang sudah eksis. Hehehe...

Tuesday, February 8, 2011

Ada Banyak Alasan untuk Tidak Menulis


Oleh : Cahya Herwening


Ya, memang banyak alasan yang melatarbelakangi seseorang untuk tidak menulis. Baik untuk memulai menulis, bertahan untuk tetap menulis, maupun melanjutkan setelah lama tidak menulis. Menulis di sini tentunya bukan menulis SMS, surat, atau menulis di papan tulis (karena kebetulan penulis adalah orang yang sangat sering menulis di papan tulis untuk dicatat peserta didiknya hehehe...), namun menulis dalam konteks mencurahkan gagasan maupun perasaan ke dalam bentuk tulisan. Penulis sendiri merupakan orang yang agaknya terlalu banyak alasan untuk mulai menulis setelah lama vakum di dunia per-MP-an. Dan sedikit cerita tentang inilah, tulisan ini dengan ketidaksemaputan ditulis.

Penulis merasa dahulu sempat agak rajin menulis dan meng-update blog. Ya mungkin dari sekian pembaca ada yang masih ingat tentang blog ini, atau tulisan-tulisan yang telah penulis tulis. Namun semenjak -katanya- komputernya rusak, penulis jadi jarang, atau bahkan hampir tidak pernah menulis lagi. Entah ini alasan yang dibuat-buat ataukah tidak, karena ada banyak alat lain yang dapat digunakan untuk menulis. Mungkin sekali dibuat-buat, karena meski telah bisa mengakses komputer di tempat kakaknya, penulis belum juga mulai menulis lagi. Setelah memiliki laptop, penulis juga belum mulai menulis lagi. Setelah punya PC, penulis belum kunjung mulai menulis pula. Baru pada sore ini saja, entah hidayah dari mana yang menggerakkan jari penulis mengetikkan alamat MP di browser internet dan akhirnya login, setelah sepertinya bertahun-tahun lamanya tidak pernah login lagi di akun MP yang penulis miliki. Payah kan?  Padahal, sudah cukup lama pula bisa mengakses internet di rumah lewat modem.

Kepada semua, halo, apa kabar? Masih ingat penulis kah? Semoga ada yang belum lupa ya, hehehe...

Semoga penulis telah benar-benar kembali...


Thursday, February 4, 2010

Dan Saya pun Menangis …

Ditulis oleh seorang sensei(guru)-ku


Ini kali kedua saya menangis saat menyupir kendaraan. Pertama kali saat melaju di atas 100km/jam di jalan tol sepanjang 40km. Sepanjang jalan itu saya mengucurkan air mata sambil berteriak sekerasnya. Saya sempatkan menelpon seseorang, tapi tak ada sepotong katapun yang bisa keluar selain tangisan yang membuat kepanikan soulmate di ujung telpon. Tangisan karena kelemahan dan ketidakmampuan menghadapi lingkungan yang tidak sesuai dengan idealisme yang mendarah daging. Hari ini kejadian itu berulang. Tidak selama yang pertama dan saya masih bisa mengendalikan diri. Saya sempatkan memarkirkan mobil di pinggir jalan dan merenung sepuasnya.

Berawal dari perjalanan menuju satu tempat di sore hari bersamaan dengan rintiknya hujan. Seperti biasa, sepanjang perjalanan saya selalu menyetel TV sebagai teman kesepian mengarungi macetnya Jakarta. Ada beberapa channel favorit, salah satunya adalah acara “minta tolong” yang disiarkan oleh RCTI pada sekitar pukul 4 sore.

“Minta tolong” Kali ini bercerita tentang seorang ibu setengah baya yang akan membeli susu untuk anaknya, namun tidak punya uang. Di tangannya hanya ada segenggam padi yang akan dijual seharga Rp.30.000. Berjam-jam ibu ini berkeliling mencari target, puluhan orang sudah dihampiri dan ditawarkan tapi tak satu pun yang mau membeli padi itu. Wajar, karena mau diapakan padi segenggaman tangan itu? Ingin dimakan, masih perlu proses panjang . Andaikan dijual lagi pun belum tentu laku. Ibu ini terus berusaha mencari orang yang mau membeli padi itu. Sampai satu saat dia sampai ke sebuah sekolah, menjumpai seorang ibu penjual kue. Ibu ini mencoba merayu ibu penjual kue dengan mengatakan bahwa hasil penjualannya itu digunakan untuk membeli susu.

Awalnya, hatinya tidak tergerak sama sekali, tetapi setelah berkali-kali mendengar kata-kata “susu untuk anak” hatinya luruh. Diberikannya hasil penjualannya hari itu sebanyak Rp.30.000 kepada sang ibu penjual segenggam padi. Entah apa yang ada dalam pikiran ibu itu saat memutuskan memberikan uang itu, padahal dalam satu hari dia hanya mendapatkan uang antara Rp. 40.000 sampai Rp. 50.000 saja. Itupun belum tentu, karena terkadang dia harus membawa kembali barang dagangannya pulang terutama pada saat musim hujan seperti ini.

Berurailah air mata saya. Ini bukan kali pertama saya menonton acara itu, tapi belum pernah sekalipun saya terhanyut sampai meneteskan air mata. Entah mengapa saat itu yang hadir di pelupuk mata adalah orang-orang yang telah saya kenal bertahun-tahun. Aktivis-aktivis dakwah yang saat masih menjadi mahasiwa punya segudang idealisme. Akan tetapi itu semua luntur sedikit demi sedikit bersamaan dengan berjalannya waktu. Yaah, luntur sedikit demi sedikit, bahkan sebagian sudah lupa terhadap apa yang pernah akan diperjuangkannya.

Dulu begitu senang diajak berdiskusi tentang kebijakan yang berprinsip keadilan, sekarang lebih senang diajak berdiskusi tentang kesejahteraan.

Dulu masih senang berbicara apa yang bisa kita lakukan untuk mengangkat derajat bangsa, sekarang lebih senang berbicara apa yang bisa dilakukan untuk mengangkat derajat dirinya.

Dulu sedemikian tulusnya melakukan sesuatu atas nama dakwah, sekarang setiap pertemuan pun ada harganya.

Huhh .. kenapa semua harus diukur dengan materi? Salahkah saya menilai semua ini. Orang anehkah saya kalau saya menuntut kepada mereka yang mengaku sebagai da’i untuk mau bersama-sama kembali memikirkan bangsa ini? Bukan sekedar membicarakan “siapa mendapat apa?”

Tidak pernahkah kita mendengar ribuan orang yang kelaparan dan jutaan bayi yang kekurangan gizi. Sementara mereka yang hidupnya sudah berkecukupan (bahkan sebagian sudah lebih dari cukup) masih sempat mencari celah bagaimana memanfaatkan dana-dana yang seharusnya diperuntukkan kepada orang-orang yang sengsara tersebut.

Yaah .. saya menangis karena saya teringat dengan orang-orang itu. Orang-orang yang hari-harinya disibukkan hanya untuk dirinya sendiri padahal mereka mengaku dirnya adalah seorang Da’i. Lebih takut lagi seandainya saya terseret menjadi seperti mereka dengan amanah-amanah yang sekarang ada. Naudzubillah.

“Saya baru sadar, bahwa ketulusan hati seseorang bukan hanya milik aktivis dakwah, tetapi milik siapa saja. Bahkan orang biasa pun terkadang lebih sensitif dan lebih tulus, seperti yang dicontohkan ibu penjual kue tersebut. Allah Maha Besar lagi Maha Mengetahui”.

Jakarta, 4 Feb 2010 (dini hari)

Friday, January 29, 2010

Thursday, December 31, 2009

Ketika ABG+S Bicara Teknologi

diringkas oleh: Ellita Permata W. (Sekjend MITI-Mahasiswa 2009)


Berikut ringkasan dari Seminar Nasional Teknologi 2009 yang digelar di Univ. Brawijaya (kerjasama LSO Ristek EM UB dan MITI-Mahasiswa) pada tanggal 26 Desember 2009. Seminar bertemakan "Generasi Baru IPTEK Indonesia; Menuju Masyarakat Indonesia 2025 yang Cerdas, Kreatif, dan Inovatif" ini menghadirkan perwakilan dari ABG+S (Akademisi, Businessman, Government + Student):
1.      Dr. Warsito P. Taruno (staf khusus Menristek, penerima Bakrie Award bidang Teknologi, ketua MITI)
2.       Dr. Edi Sukur (direktur Edwar Technology, Ketua Community Development MITI)
3.       Dr. Luthfi Ja’far (akademisi Univ. Brawijaya)
4.       Aldani Malau, S.T. (presiden MITI-Mahasiswa 2009)



Berita foto: peserta tengah menyimak pemaparan dari para pembicara. Seminar nasional ini dihadiri oleh hampir 300 peserta dari lokal UB dan dari 53 kampus undangan MITI-Mahasiswa.


RISTEK VISION 2014 (by Dr. Warsito)
……………………

Bayangkan jurnal yang dihasilkan oleh Indonesia selama 10 tahun (1992-2002) adalah sebanyak 3.000-an jurnal dari 50.000-an jurnal. Diharapkan lulusan univ ke depan itu mereka siap untuk menerima lamaran kerja, bukan lulus kemudian berlomba-lomba melamar kerja.

Grand inovasi pemuda, pemenangnya tahun ini adalah dari UB. Mereka mengkoordinir basis produksi masyarakat yang membuat mie dari rumput laut, mie ini jelas lebih sehat dari mie yang selama ini telah ada. Mereka melakukan pendampingan, pengemasan, pengawetan, quality control dan pemasarannya. Ini adalah kerja yang sangat pas untuk lulusan S1. Target kita MITIM 100 inovasi dalam setahun ini. Program MITI – COMDEV akan dijadikan program nasional karena program yang sangat luar biasa.

Inovasi itu identik dengan produk baru, manfaat dan bisnis baru. Misalnya kita menemukan produk atau paten produk baru, ini belum inovasi tapi baru sebatas riset. Nah bagaimana hasil riset ini bisa menjadi produkk inovasi? Kita harus menjadikannya menghasilkan profit dan secara ekonomi menghasilkan. Berbicara ttg riset, di PT kita sudah banyak belajar. Antara riset dan novasi ada jurang pemisah yang disebut lautan darwin atau lautan kemubaziran. Artinya kita melakkan banyak riset tapi belum tentu semua hasil riset tersebut bisa menjadi produk inovasi. Nah bgmn kita mjdkan riset itu sbg inovasi? Ini adalah tugas kementrian riset.

Inovasi itu identik sekali dengan produk, manfaat dan bisnis baru. Riset: know how. Tapi kalau inovasi: know value, artinya sebuah produk bisa dipakai, bisa memberi nilai tambah, dan orang berani mengeluarkan uang untuk produk tersebut.
Kementrian Riset dalam 5 tahun ini akan menyiapkan sebuah institusi yang :
1.       Berkaitan dengan pengembangan teknologi
2.       Pengembangan fungsi teknologi inkubasi (bgmn membuat hasil riset dapat melewati lautan darwin)
Program ini masuk dalam program 100 hari, dan pelaksanaan program ini sangat membutuhkan dukungan dari golongan mahasiswa.

Salah satu inovasi yang menjadi produk teknologi adalah tomografi 4 dimensi yang berkaitan dengan perubahan iklim, yang merupakan proyek di departemen energi di Amerika. Ini adalah proyek untuk mengembangkan energi baru, sistem untuk melakukan verifikasi proyek tersebut ada di Indonesia, yang dibuat oleh sarjana S1 lulusn UB.

Contoh lainnya adalah motor dengan bahan bakar hidrogen jadi bahan keluarannya dalah air yang bisa diminum. Produk ini mendapakan penghargaan. Kuncinya apa? Kita membangun rantai nilai, rantai nilai itu pengguna dan pemasok. Ini harus dibangun, jika rantai nilai ini tidak dibangun maka penelitian tidak akan  berkembang. Jadi, kita harus mendekatkan teknologi pada kebutuhan pengguna (masyarakat).
Slogan pemerintah-ristek yang baru: SIAPA BILANG INDONESIA TIDAK BISA????

TALKSHOW SELANJUTNYA….
-With ABG + S (Akademisi, Businessman, Government + Student)
A. AKADEMISI (Dr. Luthfi Ja’far)
Kondisi PT kaitannya dengan tantangan PT di masa yang akan datang
1.       Tuntuan kompetensi di dunia kerja
Tantangan ini bukan hanya bagi PT negeri tapi untuk semua PT.
2.       Perubahan kurikulumà kurikulum berbasis kompetensi
Kurikulum yang ada di PT harusnya harus berkaitan dengan kompetensi yang dibutuhkan di dunia profesi.
3.       Perubahan metode pembelajaran
Maka bagi anda mahasiswa yang melakukan praktek2 kerja di industri2, lakukanlah dengan serius. Karena ini salah satu metode pembelajaran yang baru
Mahasiswa yang mempunyai IPK tinggi belum tentu memiliki skill yang bagus. Yang dibutuhkan justru adalah mahasiswa yang punya skills yang OK.

B. BUSSINESMAN (BY DR. EDI SUKUR)
“MEMBANGUN BISNIS BERBASIS TEKNOLOGI”
Insya Allah yang hadir di sni adalah calon2 ilmuwan. Kondisi ilmuwan di indonesia ini sangat menyedihkan. So, kalau mau kaya jangan jadi ilmuwan!! Hayo lho….
Anekdot:
Suatu ketika Mr. Bean ketemu dengan Einstein. Mereka taruhan. Kalau Mr. Bean tidak bisa menjawab pertanyaan Einsten, dia harus bayar 5 dolat, tapi kalau einstein yang tidak bisa menjawab pertanyaan Mr. Bean, dia akan bayar 500 dolar.
Einstein: Berapa jarak bumi dan bulan?
Mr. Bean: gak tau.
Mr. Bean pun bayar 5 dolar k Einstein
Mr. Bean: Apa yang naik 3 kaki turun 3 kaki?
Einstein: (mikir, cari jawaban, analisis masalah, tidak terjawab) ga tau
Einsten bayar 500 dolar.
Einstein: terus apa jawabanya?
Mr. Bean: gak tau.
Mr. Bean bayar 5 dolar ke Einstein.

Nah jadi untuk jadi kaya tuh gak harus pinter tapi harus CERDAS. Kita membutuhkan generasi IPTEK yang memiliki kemampuan bisnis kreatif yang berbasis teknologi, kekayaan alam dan basis budaya di masing2 daerah. Jadi basisnya: IPTEK, Pendidikan dan Bisnisà mengedepankan budaya, teknologi dan SDA

C. MITI MAHASISWA (by: Aldani Malau)
Banyak sekali kasus ketika lulusan universitas masuk ke dunia profesi tanpa memiliki kompetensi di bid. Keilmuannya masing2. Ketika orang2 seperti ni benar-benar masuk ke dunia profesi, maka akan terjadi banyak kerusakan dan musibah di lingkungan kita…
Seharusnya ketika terjadi kerusakan di lingkungan, kita mencari ahli-ahli di bidang tersebut. Sebenarnya kita semua yang telah mendalami bidang kita masing-masing bisa mengatasi masalah-masalah tersebut, tapi seringkali kita baru bersuara ketika masalah2 itu sudah muncul.

OPEN DISCUSSION
Sebenernya apa 2 keyword dari semua permasalahan-permasalahan yang telah kita bicarakan tadi?
Pak Warsito: budaya
Pak Edi: kompetensi dan kerja sama
Aldani: Moral dan keberanian
Pak Lutfi: Komitmen

Diskusi dipending dengan selingan atraksi robot penembak roket dari tim robotik Univ. Brawijaya



 Berita Foto: tim robotik Univ.Brawijaya tengah memperagakan sistem kerja robot penembak roket yang dapat digunakan untuk menebar benih tanaman dan menebar jala. Event yang menjadi selingan acara semnas ini memukau para peserta yang hadir.

 

Pertanyaan dari pak Warsito pada audien: Pilih 3 dari negara maju berikut: jepang, italia, amerika. Potret Indonesia maju masa depan yang tepat itu seperti negara yang mana menurut anda???
è UNJA: Jepang.
è Agus USU: Jepang. Karena berdasarkan letak geografis jepang juga terletak di timur seperti indonesia. Apalagi secara budaya indonesia tu gak jauh beda dengan jepang.
è Tidak memilih salah satu dari 3 negara tersebut. Jepang: kurang dari segi agama. Sama juga dengan Italia dan Amerika. Jadi kita akan merangcang sendiri indonesia yang akan datang.
Pak Warsito:
Kalau Indonesia itu identik dengan jawa, maka Jepang tuh tepat. Ingat kata kunci kita adalah budaya. Jepang mmiliki budaya yang sangat kental. Budaya secara tidak langsung membentuk cara berpikir kita. Jawa dan jepang yang mirip itu budaya bekerja keras dan iwameru (komitmen untuk mencapai suatu level). Antara Jawa dan Jepang ini sangat mirip. Contohnya kalau di jawa itu seperti gamelan. Komitmen seperti ini ada, untuk mencapai komitmen ini tidak bisa dibeli. Kualitas produk jepang itu bagus karena berada di bawah komitmen iwameru. Tapi komitmen inilah yang menghancurkan jepang.  Karena komitmen ini, produk jepang menjadi produk yang bernilai tinggi, mahal sehingga tidak ada yang bisa membelinya. Untuk saat ini akhirnya pun Jepang menurunkan kualitas produknya.

Honda itu menghabiskan seluruh tabungannya, seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya itu untuk menghasilkan motor yang mampu berlari hanya 40 KM/jam. So, bagi seorang ilmuwan untuk meluncurkan produk yang berkualitas membutuhkan kerja keras dan kesabaran yang luar biasa.

Yang lebih mendekati (menurut pak Warsito) adalah italia, terkait dengan budaya juga. Yang paling maju di indonesia adalah sesuatu yang nyeleneh dalam hal ini di bid. seni dan budaya. Hal-hal yang berkaitan dengan budaya kreatif, produk inilah yang berkembang sangat pesat di indonesia. Di italia fashion berkembang sangat pesat.

Pembahasan keyword :
Pak Edi: kompetensi, kerja sama
kelemahan dari kita adalah di kompetensi. Kalau tadi dijlelaskan ttg Italia,memang mereka modis-modis seperti kita (he?). kemajuan yang telah dicapai oleh negara2 tersebut tentunya melalui kompetensi yang luar biasa. Bayangkan, di Jepang ada robot kawameru yang dibuat di jaman Edo. Teknologi percetakan dan Printing, gak da yang ngalahin jepang. Sejak dulu jepang kalau buat sesuatu gak pernah cuma 1 saja nyetaknya. Tapi mereka buatnya sangat beragam, misalnya nyetak baju, jadi gak cuma 1 saja tapi dibuat dengan beragam warna dari warna yang dekat-dekat dulu. Nah terkait kompetensi ini di Indonesia belum jelas..

Pak Lutfi:
Kompetensi yang harus dimiliki oleh Indonesia ini adalah yang terkait dengan budaya. Salah satu kelebihan orang-orang amerika tu adalah kreatifitas, mulai kecil pihak sekolah dibiarkan untuk mengekspresikan kreatifitasnya. Makanya hampir 80% penerim nobel tu adalah dari Amerika.

P Warsito:
Kompetensi yang harus diunggulkan di Indonesia: budaya. Budaya indonesia yang sama juga dengan Italia adalah tidak suka diatur. Tidak seperti jepang yang segala sesuatunya diatur, termasuk tomat yang dihasilkan di pertanian; tomatnya harus sama bentuk, besar dan warnanya (hayo lho...bagaimana caranya mengatur itu?)

Moderator: kalau di dunia kerja sama seperti apa yang diharapkan?
P Edi: kelemahan kita sbg ilmuwan tu adalah suka asyik sendiri, jadi sulit bekerja sama. Positifnya memang mereka bisa fokus tapi kan jadi sulit untuk bekerja sama. Untuk membuat mesin detektor saja kita membutuhkan banyak personel. Di Indonesia masih sulit buat kerja sama, komunikasi juga sulit.

Nah di dunia industri pun ada banyak bagian dan bidang. Kalau kita tidak bisa bekerjasama maka percuma, kita tidak akan berkembang. Maka kita pun harus bisa mengembangkan softskill kita. Antara kompetensi dan softskill ini kita harus lihat mana yang paling menonjol. Perlu kita perhatikan kompetensi kita dimana dan softskill kita apa? Kemudian kita kembangkan potensi dan softskill kita.

Moderator: bgmn pemerintah menghadapi perilaku2 yang beragam terkait dengan kompetensi td?
P Warsito: budaya, kompetensi dan kerja sama adalah keyword. Nah ke depan, budaya kita itu sulit untuk dibuat seragam. Bagaimana dari budaya tersebut kita dapat membangun bangsa dengan basis kompetensi. Kompetensi yang menonjol dari beberapa orang, ini bisa dijadikan pondasi untuk membangun bisnis berdasarkan kompetensi yang ada.

Moderator: Kenapa dengan Moralitas? Apa yang salah dengan moralitas bangsa kita?
Aldani: permasalahan-permasalahan yang ada di pemerintahan, bagaimana kita menghadapinya? Jaman sekarang, banyak sekali org pintar. Siapa yang menyebabkan kebakaran hutan? Mengalirnya limbah di sungai? Semuanya adalah orang-orang pintar. Jika kita tidak punya moral, maka keilmuan yang kita miliki hanya akan menjdikan produk yang tidak memberi manfaat untuk lingkungan.

Atau seringkali, kita punya solusi terhadap beberapa permasalahan-permasalahan bangsa tapi seringkali kita tidak punya keberanian untuk mengklaim solusi tersebut, bahkan untuk ngomong pun tidak berani. Maka di sini kita butuh keberanian.

Diskusi tambahan:
Fikri (UNDIP): moralitas hal2 yang membatasi kita untuk tetap lurus.
Apa yang bisa diberikan dari kehutanan untuk mendukung iptek Indonesia?
Dari kita yang penting adalah yang berkaitan dengan perubahan iklim, yaitu penyerapan CO2. Hutan memiliki kemampun menyerap CO2 tersebut. Nah penelitian terkait penyerapan CO2 tersebut masih sangat minim. Kita sudah membuat MOU terkait riset ttg iklim di Indonesia.

Bagaimana pemetaan perkembangan teknologi di daerah??
1 village 1 product yang berkaitan dengan produk teknologi. Tiap daerah memiliki SDA. Tiap daerah ini  akan diberikan produk teknologi untuk mengembangkan SDA-nya masing-masing. Menristek akan membantu mengembangkan produk berbasis teknologi tersebut. [ ]